Thursday, 8 October 2020

Tidak ada Sakit yang tiada Obatnya Kecuali...

 Bismillahirrohmaanirrohiim...

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sejumlah hadits memastikan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Jika pun ada penyakit yang tak terobati sampai sekarang, bisa jadi lantaran belum ada ahli yang bisa menemukan obatnya.

Diriwayatkan dalam Hadits Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ

“Semua penyakit ada obatnya. Apabila sesuai antara obat dan penyakitnya, maka (penyakit) akan sembuh dengan izin Allah SWT.”

Disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).

 

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan,

ﻭﺍﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﺑﻦ ﺷﺮﻳﻚ ﻭﺍﺿﺢ، ﻭﻟﻌﻞ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﺮ ﺇﻻ ﺩﺍﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ، ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﺍﻟﻤﻮﺕ

“Pengecualian dengan kematian (pada riwayat lainnya) hadits Usamah bin Syuraik adalah sudah jelas maksudnya. Dikecualikan dengan kematian yaitu penyakit yang Allah Ta’ala takdirkan baginya yang mengantarkan pada kematian.” [Fathul Bari Hal. 57, Kitabut Thibb]



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/45309-setiap-penyakit-ada-obat-bagaimana-dengan-aids-hiv.html

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan,

ﻭﺍﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﺑﻦ ﺷﺮﻳﻚ ﻭﺍﺿﺢ، ﻭﻟﻌﻞ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﺮ ﺇﻻ ﺩﺍﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ، ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﺍﻟﻤﻮﺕ

“Pengecualian dengan kematian (pada riwayat lainnya) hadits Usamah bin Syuraik adalah sudah jelas maksudnya. Dikecualikan dengan kematian yaitu penyakit yang Allah Ta’ala



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/45309-setiap-penyakit-ada-obat-bagaimana-dengan-aids-hiv.html

 

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan,

ﻭﺍﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﺑﻦ ﺷﺮﻳﻚ ﻭﺍﺿﺢ، ﻭﻟﻌﻞ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﺮ ﺇﻻ ﺩﺍﺀ ﺍﻟﻤﻮﺕ، ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﺍﻟﻤﻮﺕ

“Pengecualian dengan kematian (pada riwayat lainnya) hadits Usamah bin Syuraik adalah sudah jelas maksudnya. Dikecualikan dengan kematian yaitu penyakit yang Allah Ta’ala takdirkan baginya yang mengantarkan pada kematian.” [Fathul Bari Hal. 57, Kitabut Thibb]



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/45309-setiap-penyakit-ada-obat-bagaimana-dengan-aids-hiv.html

 

Wednesday, 23 May 2018

LARANGAN MENEBANG POHON BIDARA

Diriwayatkan dari Aisyah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. pernah bersabda,  "Sesunggunnya orang yang menebang pohon bidara akan dituang api neraka di kepalanya'," (Shahih, HR al-Baihaqi [IV/117]).

Diriwayatkan dari Muawiyah bin Haidah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. pernah bersabda,  "'Allah akan menuangkan (air panas) ke atas kepala penebang pohon bidara di dalam neraka'," (HR al-Baihaqi [VI/141]).

Kandungan Bab:

Haram hukumnya menebang pohon bidara. Para ulama berselisih pendapat tentang larangan menebang pohon bidara kepada beberapa pendapat: Abu Dawud berkata, "Hadits ini cukup ringkas. Artinya barangsiapa menebang pohon bidara yang tumbuh di padang pasir tempat berteduh para musafir dan hewan ternak, tanpa ada kemaslahatan sedikitpun maka Allah akan menuangkan air panas ke atas kepalanya di neraka nanti."Ath-Thahawi berpendapat, "Bahwa hadits ini mansukh, sebab Urwah bin az-Zubair salah seorang perawi hadits ini pernah menebang pohon bidara untuk diolah menjadi beberapa pintu," (lihat Musykilul Aatsaar [VII/427]).

Diriwayatkan dari Hasan bin Ibrahim, ia berkata, 'Aku pernah bertanya kepada Hisyam bin Urwah tentang hukum menebang pohon bidara. Pada saati itu ia sedang bersandar pada kayu milik Urwah dan berakta, 'Tidakkah engkau perhatikan pintu-pintu dan kusen-kusen ini?' Pintu dan kusen ini terbuat dari pohon bidara milik Urwah. Dahulu Urwah menebang pohon tersebut yang tumbuh di tanahnya dan berkata, 'Tidak mengapa menebang pohon bidara'," (HR Abu Dawud [5241]).

Ath-Thahawi berkata, "urwah seorang yang jujur dan memiliki ilmu yang dalam tidak mungkin meninggalkan hadits yang ia ketahui shahih dari Nabi saw, kemudian mengamalkan sesuatu yang bertentangan dengan hadits tersebut, kecuali jika memang demikian hukumnya. Jadi jelaslah apa yang kita sebutkan tadi bahwa hadits ini sudah dimansukhkan." 

Maka larangan tersebut adalah pohon bidara yang tumbuh di tanah haram. Pendapat ini dipegang oleh as-Suyuti dalam kitab Raf'ul Khudr'an Qat'is Sidr (II/57). Ia berkata, "Menurutku makna yang terkuat adalah larangan menebang pohon sidr yang ada di tanah haram sebagaimana yang tercantum dalam riwayat ath-Thabrani."

Syaikh kami menyetujui pendapat as-Suyuthi tersebut di dalam kitabnya Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah (II/177).

Saya katakan, "Dalam riwayat ath-Thabrani di dalam al-Ausath (2441) pada hadits Abdullah bin Hubasyi, 'Yakni pohon bidara yang tumbuh di tanah haram.' Tambahan ini dishahihkan oleh syaikh kami dalam Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah (614). Oleh karena itu mengartikan hadits seperti yang tercantum dalam riwayat tambahan tersebut lebih dikedepankan. Adapun pernyataan mansukh adalah pernyataan yang keliru.
Sebab yang dijadikan hujjah adalah hadits yang diriwayatkan Urwah bukan pendapat atau hasil ijtihadnya. Kemudian dianalogikan dengan pohon bidara yang tumbuh di padang pasir tempat berteduhnya para musafir dan binatang ternak, Allahu A'lam."

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 3/308-309.

Suami Mudah Tersinggung dan Suka Marah

Pertanyaan:

Saya seorang muslimah. Saya dan suami sudah 3 tahun lebih membina rumah tangga, tetapi entah mengapa dalam keluarga kami hampir tiap hari ada pertengkaran. Hanya dengan persoalan kecil suami saya marah. Suami saya tidak punya pekerjaan dan selama ini saya yang menghadapi keluarga saya. Suami saya suka marah, bila dinasihati sering tersinggung. Kadang kalau marah dia memukul. Dia juga benci dengan saudara-saudara dan keluarga saya. Saya dilarang bergaul dengan kemenakan saya yang laki-laki yang baru kelas 1 SMP. Kadang saya berpikir mau minta diceraikan olehnya, tetapi saya malu kepada teman-teman juga anak saya yang masih kecil. Namun, kadang saya tidak sanggup lagi harus mengeluarkan air mata tiap hari. Apa yang mesti saya dan suami saya lakukan?

Jawaban:

Saudariku harus menyadari bahwa hidup ini penuh dengan cobaan, ada kalanya istri dimusuhi oleh suami, dan begitu pula sebaiknya, ada kalanya suami dimusuhi istri. Kita harus bersabar dan saling menasihati, karena Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (merek) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun: 14)

Inilah kehidupan pasutri di dunia, bahkan seseorang yang tidak menikah sekalipun pasti mendapat ujian (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) di dunia ini.

Hendaklah Saudari mencari penyebab kemarahan suami Saudari. Boleh jadi istri yang salah. Kalau demikian, usahakan bisa menghindari penyebabnya. Jika memang watak suami pemarah, nasihati dia bila memungkinkan. Jika tidak, maka mintalah bantuan mertua atau orangtuanya, barangkali dia mau sadar.

Mohonlah kepada Allah agar keluarga diberi hidayah, karena waktu itu waktu mustajabahnya  (terkabulnya doa), bacalah doa yang tercantum di dalam surat al-Furqan: 74 dan doa lainnya.

Jika suami tidak bekerja, carilah penyebabnya. Boleh jadi dia sakit atau tidak bisa bekerja, tentu tidak sama keadaannya bila dia mampu tetapi malas bekerja. Ajalah dia untuk bermusyawarah dengan Saudari, orangtua, atau mertua.

Adapun dia membenci keluarga istri, alangkah baiknya bila dicari terlebih dahulu penyebabnya. Boleh jadi sikap suami benar, misalnya karena keluarga kurang baik akhlaknya, suka berbicara usil, atau bukan ahli ibadah. Jika demikian kondisinya, maka keluarga Saudari hendaklah dinasihati, dan suami diminta agar bersabar. Jika suami yang salah, maka nasihati dia dengan lembut, bahwa kita umat Islam wajib menjalin hubungan keluarga dengan baik.

Bila dia melarang Saudari bertemu dengan kemenakan Saudari maka harus ditaati karena dia punya hak untuk melarang istrinya bertemu dengan orang yang tidak disukainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

وَ اسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُوْنَهُ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ

Dan kamu menghalalkan farji wanita itu dengan kalimat Allah, dan kamu punya hak dari istri untuk tidak memasukkan seorang pun yang kamu benci, di tempat tidur. Jika mereka melanggarnya maka pukullah mereka tanpa merusak badannya.” (HR. Muslim, 6/245)

Bila suami suka memukul tanpa sebab atau karena perkara yang kecil, bacakan kepadanya hadits di bawah ini dengan kata-kata yang lembut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ فَيَجْلِدُ امْرَأَتَهُ جَلْدَ الْعَبْدِ فَلَعَلَّهُ يُضَاجِعُهَا مِنْ آخِرِ يَوْمِهِ

Salah seorang di antara kalian memarahi istrinya, lalu memukul istrinya seperti memukul budaknya, boleh jadi dia akan mengumpulinya pada malam harinya.” (HR. Al-Bukhari, 15/288)

Suami yang arif tentu tidak berbuat demikian, bagaimana mungkin dia marah dan memukul lalu mengumpuli istrinya?

Saudari tergolong orang yang baru menikah, banyak masalah yang dihadapi, masing-masing ingin dituruti kemauannya, padahal tidak mungkin berdamai bila salah satu anggota pasutri tidak mengalah. Mengalah untuk kebaikan yang bukan melanggar agama termasuk amal baik, misalnya memenuhi permintaan suami pada saat dia “membutuhkan” walaupun istri kurang “berselera”, dan masih banyak usaha yang bisa memadamkan atau mengurangi kemarahan suami.

Sebaiknya Saudari tidak minta cerai terlebih dahulu, karena perceraian belum tentu menyelesaikan perkara. Ingat, hidup penuh dengan ujian. Jika hal di atas sudah diupayakan dan tetap saja suami punya sifat yang jelek yang merugikan istri dan keluarga, maka istri boleh saja meminta cerai, tentunya apabila sudah ditimbang maslahat dan madharatnya setelah perceraian terjadi.

Sumber: Majalah Mawaddah, Edisi 11, Tahun 1, Jumadil Ula–Jumadil Tsaniyah 1429 H (Juni 2008).
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/3531-suamiku-mudah-tersinggung-dan-sering-marah.html

Wednesday, 7 June 2017

Apakah Sikat Gigi Pake Odol Membatalkan Puasa?


TANYA: Apa hukumnya sikat gigi pake odol selama berpuasa? Apakah membatalkan puasa?

JAWAB: Menyikat gigi dengan pasta/odol dalam keadaan berpuasa, hukumnya mubah (boleh). Tidak ada larangan dan tidak termasuk dalam perkara yang membatalkan puasa. Namun, hati-hati saja, jangan sampai odolnya atau airnya tertelan.


Jika sampai odol atau airnya ditelan dengan sengaja, itu baru membatalkan puasa. Rasulullah Saw sangat menganjurkan umatnya sikat gigi, terutama ketika hendak shalat.
“Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya perintahkan mereka untuk gosok gigi setiap hendak shalat.” (HR. Bukhari)
“Bersiwak (sikat gigi) bisa membersihkan mulut dan mendatangkan ridha Allah.” (HR. Nasa’i)

Hadits-hadits tentang anjuran sikat gigi di atas berlaku dalam setiap keadaan, tidak ada pengecualian, sehingga keumuman hadits mencakup orang yang puasa dan orang yang tidak puasa.

Ulama asal Arab Saudi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz , pernah ditanya, “Apakah seseorang yang berpuasa boleh menggunakan pasta gigi padahal dia sedang berpuasa di siang hari?”

Ia menjawab, “Melakukan seperti itu tidaklah mengapa selama tetap menjaga sesuatu agar tidak tertelan di kerongkongan. Sebagaimana pula dibolehkan bersiwak bagi orang yang berpuasa baik di pagi hari atau sore harinya.” (Fatwa Ramadhan).

Pertanyaan yang serupa juga pernah disampaikan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin, “Apa hukum menggunakan pasta gigi bagi orang yang berpuasa di siang hari bulan Ramadan?”
Ia menjawab, penggunaan pasta gigi bagi orang yang sedang berpuasa tidaklah mengapa (boleh) jika pasta gigi tersebut tidak sampai masuk ke dalam tubuhnya (tidak sampai ia telan). Akan tetapi, yang lebih utama adalah tidak menggunakannya, karena pada pasta gigi terdapat rasa yang begitu kuat yang bisa jadi masuk ke dalam perut seseorang tanpa dia sadari."

Dengan demikian, jelaslah, sikat gigi pake odol di siang hari selama puasa, tidak membatalkan puasa dengan ketentuan sebagaimana dijelaskan di atas. Wallahu a'lam bish-shawabi. (http://www.risalahislam.com).*




Wednesday, 8 March 2017

Penyakit Hati Sombong, Iri, dan Dengki dan Cara Mengobatinya

Hati (bahasa Arab Qalbu) adalah bagian yang sangat penting daripada manusia. Jika hati kita baik, maka baik pula seluruh amal kita:
Rasulullah saw. bersabda, “….Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR Imam Al-Bukhari)

Sebaliknya, orang yang dalam hatinya ada penyakit, sulit menerima kebenaran dan akan mati dalam keadaan kafir.

“Orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya yang telah ada dan mereka mati dalam keadaan kafir.” [At Taubah 125]

Oleh karena itu penyakit hati jauh lebih berbahaya daripada penyakit fisik karena bisa mengakibatkan kesengsaraan di neraka yang abadi.
Kita perlu mengenal beberapa penyakit hati yang berbahaya serta bagaimana cara menyembuhkannya.

Sombong
Sering orang karena jabatan, kekayaan, atau pun kepintaran akhirnya menjadi sombong dan menganggap rendah orang lain. Bahkan Fir’aun yang takabbur sampai-sampai menganggap rendah Allah dan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Kenyataannya Fir’aun adalah manusia yang akhirnya bisa mati karena tenggelam di laut.

Allah melarang kita untuk menjadi sombong:
“Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [Al Israa’ 37]
“Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Luqman 18]

Allah menyediakan neraka jahannam bagi orang yang sombong:
“Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong .” [Al Mu’min 76]

Kita tidak boleh sombong karena saat kita lahir kita tidak punya kekuasaan apa-apa. Kita tidak punya kekayaan apa-apa. Bahkan pakaian pun tidak. Kecerdasan pun kita tidak punya. Namun karena kasih-sayang orang tua-lah kita akhirnya jadi dewasa.
Begitu pula saat kita mati, segala jabatan dan kekayaan kita lepas dari kita. Kita dikubur dalam lubang yang sempit dengan pakaian seadanya yang nanti akan lapuk dimakan zaman.
Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ “Uluumuddiin menyatakan bahwa manusia janganlah sombong karena sesungguhnya manusia diciptakan dari air mani yang hina dan dari tempat yang sama dengan tempat keluarnya kotoran.

Bukankah Allah mengatakan pada kita bahwa kita diciptakan dari air mani yang hina:
“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” [Al Mursalaat 20]

Saat hidup pun kita membawa beberapa kilogram kotoran di badan kita. Jadi bagaimana mungkin kita masih bersikap sombong?

‘Ujub (Kagum akan diri sendiri)
Ini mirip dengan sombong. Kita merasa bangga atau kagum akan diri kita sendiri. Padahal seharusnya kita tahu bahwa semua nikmat yang kita dapat itu berasal dari Allah.
Jika kita mendapat keberhasilan atau pujian dari orang, janganlah ‘ujub. Sebaliknya ucapkan “Alhamdulillah” karena segala puji itu hanya untuk Allah.

Iri dan Dengki
Allah melarang kita iri pada yang lain karena rezeki yang mereka dapat itu sesuai dengan usaha mereka dan juga sudah jadi ketentuan Allah.
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’ 32]

Iri hanya boleh dalam 2 hal. Yaitu dalam hal bersedekah dan ilmu.
Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya. (HR. Bukhari) [HR Bukhari]

Jika kita mengagumi milik orang lain, agar terhindar dari iri hendaknya mendoakan agar yang bersangkutan dilimpahi berkah.
Apabila seorang melihat dirinya, harta miliknya atau saudaranya sesuatu yang menarik hatinya (dikaguminya) maka hendaklah dia mendoakannya dengan limpahan barokah. Sesungguhnya pengaruh iri adalah benar. (HR. Abu Ya’la)

Dengki lebih parah dari iri. Orang yang dengki ini merasa susah jika melihat orang lain senang. Dan merasa senang jika orang lain susah. Tak jarang dia berusaha mencelakakan orang yang dia dengki baik dengan lisan, tulisan, atau pun perbuatan. Oleh karena itu Allah menyuruh kita berlindung dari kejahatan orang yang dengki:
“Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” [Al Falaq 5]
Kedengkian bisa menghancurkan pahala-pahala kita.

Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu. (HR. Abu Dawud)

KHADIJAH BINTI KHUWAILID R.A

@ Tentang Khadijah binti Khuwailid

Ayahnya: Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab
Ibunya   : Fatimah binti Zaidah bin Jundab
Suku     : Qurays
 
Khadijah menikah dengan Rasulullah pada tahun 28 Sebelum Hijrah atau 15 tahun sebelum kerasulan. Pada saat itu usia Rasulullah 25 tahun sedangkan Khadijah 40 tahun. Wali pernikahan beliau adalah ayahnya sendiri Khuwailid bin Asad. Mahar pernikahan dari Rasulullah adalah 2 Uqiyyah emas dan perak. 1 Uqiyyah  kurang lebih sama dengan 28 gram.

Status beliau saat menikah dengan Rasulullah adalah sebagai Janda dengan 3 orang anak. Suami beliau sebelum Rasulullah adalahStatus beliau saat menikah dengan Rasulullah adalah sebagai Janda dengan 3 orang anak. Suami beliau sebelum Rasulullah adalah Atiq bin Aidz bin Abdullah dan Abu Halah bin Nabbasy. Sedangkan putra putri beliau dari mereka adalah Hindun (putri Atiq), Halah (Putra Abu Halah), dan Hindun (Putra Abu Halah). Khadijah wafat 4 tahun sebelum Hijrah. Jadi beliau hidup bersama Rasulullah selama kurang lebih 24 tahun.



Keistimewaan Khadijah binti Khuwailid r.a
  1. Khadijah wanita terbaik dunia dan akhirat
“Wanita-wanita terbaik di dunia ialah Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Aisyah istri Firaun” (HR. Imam Ahmad: Fadhailush Shahabah no.1325)
“Wanita terbaik penghuni surga ialah Khadijah binti Khuwailid, kemudian Fatimah binti Muhammad” (HR. Imam An-Nasai)

  1. Khadijah mendapat salam Allah SWT
“Jibril Alaihis Salam datang kepadaku kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, inilah Khadijah, ia akan datang kepadamu dengan membawa tempat yang berisi makanan, lauk, dan minuman. Jika ia telah datang kepadamu, sampaikan salam Tuhannya dan salamku kepadanya’.” (HR. Bukhari & Muslim)

  1. Khadijah mendapat rumah di surga
“Rasulullah SAW menyampaikan kabar gembira kepada Khadijah berupa rumah dari pipa permata dimana di dalamnya tidak ada teriakan dan kelelahan” (HR. Bukhari & Muslim)

  1. Khadijah orang pertama yang masuk Islam
“Khadijah adalah manusia pertama yang masuk Islam menurut Ijma’ kaum muslimin. Tidak ada seorang pun laki-laki atau wanita yang masuk Islam sebelum dia.” (Ushudul Ghabah 7/78)

  1. Khadijah tidak pernah dimadu oleh Rasulullah SAW
“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam tidak menikah dengan wanita lain hingga Khadijah wafat” (HR. At. Thabrani)

  1. Khadijah ibu dari putra-putri Rasulullah SAW
Putra-putri Rasulullah dari Khadijah secara berurutan adalah Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum, Fatimah, dan Abdullah. Al-Qasim adalah putra sulung Rasulullah yang dengan namanya Rasulullah memakai kunyah yaitu Abu Al-Qosim. Sedangkan Fatimah adalah Putri bungsu Rasulullah yang paling beliau cintai.
Rasulullah SAW bersabda,
“Allah Azza wa Jalla tidak memberi ganti untukku dengan wanita yang lebih baik daripada dia. Sungguh Khadijah beriman ketika orang-orang kafir kepadaku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberikan sesuatu apapun kepadaku, dan Allah memberiku anak-anaknya ketika istri-istriku yang lain tidak memberiku anak-anak” ( HR. Imam Ahmad)

  1. Khadijah istri Rasulullah yang paling sempurna
Aisyah r.a berkata,
“Aku tidak penah cemburu kepada seorang wanita seperti cemburuku kepada Khadijah karena seringnya Rasulullah menyebut-nyebut namanya”
Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan,
“Khadijah mempunyai kelurusan yang tidak dimiliki orang-orang lain. Ia berusaha sebisa mungkin mencari keridhoan Rasulullah SAW dan tidak ada sesuatu apa pun darinya yang membuat marah beliau seperti yang terjadi pada manusia lain.”
Aisyah r.a berkata,
“Jika nama Khadijah disebutkan di depan Rasulullah SAW, beliau tidak bosan-bosannya menyanjung Khadijah dan memintakan ampunan untuknya” (HR. At-Thabrani)
 
SUMBER : http://wanitapecintasalaf.blogspot.co.id/2012/08/khadijah-binti-khuwailid-ra.html

HIDUP SEHAT SESUAI SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW

Rasulullah SAW adalah insan mulia dengan riwayat sakit paling jarang. Beliau senantiasa dalam keadaan sehat sekalipun melaksanakan tugas dakwah kerasulan yang teramat berat dan menguras pikiran serta tenaga.
Apa rahasia dibalik kesehatan beliau?

Berikut ini adalah beberapa cara hidup sehat yang selalu beliau amalkan:

1. Selalu bangun sebelum subuh

Rasulullah mengajak umatnya bangun sebelum subuh untuk melaksanakan shalat sunnah dan shalat subuh berjamaah. Hikmahnya adalah mendapat limpahan pahala, kesegaran udara subuh yang baik terutama untuk menyehatkan paru-paru serta menyegarkan pikiran. Asupan oksigen yang masih bebas polusi bisa menyehatkan otak.

2. Aktif menjaga kebersihan
Rasulullah SAW senantiasa tampak bersih dan rapi. Setiap kamis atau jumat, beliau mencukur rambut halus di pipi, memotong kuku, bersiwak, serta memakai minyak wangi.

3. Tidak pernah makan berlebihan
Rasulullah mengajarkan untuk mengisi perut kita dengan 3 hal secara seimbang: sepertiga diisi dengan makanan, sepertiganya dengan air, dan sepertiga sisanya untuk bernapas (diisi dengan udara).
Sabda Rasulullah:”Kami adalah satu kaum yang tidak makan sebelum lapar dan apabila kami makan, tidak terlalu banyak(tidak sampai kekenyangan)”.

4. Gemar berjalan kaki
Rasulullah berjalan kaki ketika ke masjid, pasar, ke medan jihad, ataupun sekedar mengunjungi rumah sahabat. Dengan berjalan kaki peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung.

5. Tidak pemarah
Nasihat Rasulullah:”Jangan marah”, diulangi tiga kali. Ini menunjukkan hakikat kekuatan seseorang bukanlah terletak pada jasad, tetapi pada kebersihan jiwa.
Bila kita marah, cara paling mudah adalah mengubah posisi ketika marah. Jika sedang berdiri, maka duduklah. Jika sedang duduk, maka berbaringlah. Kemudian membaca ta’awudz serta mengambil air wudhu. Karena marah itu asalnya dari setan, dan setan terbuat dari api, maka padamkan dengan air wudhu.

6. Optimis dan tidak berputus asa

Sikap optimis memberikan kekuatan tersendiri bagi kelapangan jiwa, selain itu perlu juga memperbanyak sabar, istiqamah, serta tawakal kepada Allah SWT.

7. Tidak pernah iri hati
Kita perlu menjauhi sifat iri hati karena penting untuk menjaga kebersihan hati dan kesehatan jiwa. Kita harus selalu berdo’a: “Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari sifat-sifat mazmumah (mendatangkan keburukan pada diri) dan hiasilah diriku dengan sifat-sifat mahmudah (mendatangkan kebaikan pada diri)”.

8. Pemaaf
Pemaaf adalah sifat terpuji yang bisa mendatangkan ketenteraman hati dan jiwa. Memaafkan orang lain akan membebaskan diri kita dari belenggu kemarahan. Ketika kita marah, marah itu akan melekat pada hati. Karenanya, mari menjadilan diri kita seorang yang pemaaf, karena dengan memaafkan akan membuat jiwa menjadi lapang dan badan akan selalu sehat.
Bahagia sebenarnya bukan mendapat, tetapi dengan memberi. Sebenarnya, banyak lagi cara hidup sehat Rasulullah SAW, namun setidaknya 8 cara hidup sehat ala Rasulullah tersebut cukup membantu kita menjalani hidup sehat.

Sunday, 19 February 2017

JUAL DAUN BIDARA UNTUK RUQYAH DI MEDAN

Apabila anda membutuhkan daun bidara Arab segar, DISINI TEMPATNYA..
Dengan harga Rp.120.000 / 200 lembarnya..
MURAH dan BERMANFAAT... 



HUBUNGI :
CP. / WA : 0821-6622-3185 (khadijah)


Sedikit penjelasan tentang cara  penggunaan Daun Bidara untuk Ruqyah
  • Cara Mandi Dengan Daun Bidara Untuk Gangguan Jin Dan Sihir
Ibnu Kathir menyebutkan di dalam tafsirnya bahwa Al-Qurthubi menceritakan dari Wahab bahwa dia mengatakan:
"Ambillah 7 helai daun bidara lalu tumbuk di antara 2 batu kemudian dicampurkan dengan air dan dibacakan Ayat Kursi kemudian diminumkan kepada orang yang terkena sihir sebanyak 3 kali tegukan lalu dimandikan dengan air sisanya maka ia akan menghilangkan sihirnya. Terutama bagi suami yang terhalang menggauli isterinya.
Ibnu Kathir mengatakan bahwa yang paling bermanfaat dalam menghilangkan pengaruh sihir adalah dengan menggunakan apa yang diturunkan Allah s.w.t. kepada RasulNya untuk menghilangkan hal itu yaitu membaca al-muawwidzatian (al-Falaq dan an-Nas) dan Ayat Kursi karena ayat-ayat itu dapat mengusir syaitan.



DAUN BIDARA atau WIDARA (Ziziphus mauritiana)


Bidara atau widara (Ziziphus mauritiana) adalah sejenis pohon kecil penghasil buah yang tumbuh di daerah kering. Dalam bahasa arab, Bidara berasal dari kata Sidroh artinya pohon bidara.Dalam hal ini sidroh atau Bidara ada sejarah tersendiri dengan kaitannya perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam isra' mi'raj. Pohon bidara sangatlah banyak manfaatnya. 

Sebagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW, Ruqyah adalah methode pengobatan yang di anjurkan bila kita mengalami ganguan penyakit non medis. Dalam beberapa hadits daun Bidara adalah salah satu jenis tumbuhan yang bisa digunakan untuk membantu dalam pengobatan ruqyah syar’iyyah (ruqyah yang sesuai syari’at Islam). Daun bidara juga bisa digunakan untuk bersuci wanita yang sedang haidh. Daun bidara juga digunakan untuk campuran air memandikan jenazah. Daun bidara juga biasa digunakan untuk sayur, dan pakan ternak.


Berikut ini beberapa manfaat daun bidara: 
  •  Memandikan Jenazah
Ummu ‘Athiyyah Rodhiyallohu ‘Anha berkata, “Nabi Shollallohu Alaihi Wa sallam pernah menemui kami sedangkan kami kala itu tengah memandikan puterinya (Zainab), lalu Beliau bersabda: ‘Mandikanlah dia tiga, lima, (atau tujuh) kali, atau lebih dari itu. Jika kalian memandang perlu, maka pergunakan air dan daun bidara. (Ummu ‘Athiyyah berkata, ‘Dengan ganjil?’ Beliau bersabda, ‘Ya.’) dan buatlah di akhir mandinya itu tumbuhan kafur atau sedikit darinya.”
(H.R. al Bukhori 3/99-104, Muslim 3/47-48, Abu Dawud 2/60-61, an Nasa-i 1/266-267, at Tirmidzi 2/130-131, Ibnu Majah 1/445, Ibnul Jarud 258-259, Ahmad 5/84-85, 4076-4078, Syaikh al Albani – Hukum dan Tata Cara Mengurus Jenazah hal 130-131).
  • Campuran untuk bersuci pada wanita haidh
Dari Aisyah berkata, “ salah seorang wanita diantara kalian (wanita yang sedang haid) dia mengambil air lalu dia mencampurnya dengan daun bidara kemudian dia bersuci. Lalu dia menyiram air di atas kepala sambil menggosoknya dengan kuat sampai airnya masuk ke dalam pori-pori dan masuk ke akar rambutnya. Dan kemudian membilasnya dengan air bersih , lalu dia mengambil kan yang sudah di basuhi dengan minyak misk dan kemudian membersihkan dirinya dengan kain tersebut.”
  • Therapy Ruqyah
Ulama Wahab bin Munabih menyarankan untuk menggunakan tujuh lembar bidara yang dihaluskan. Kemudian dilarutkan dalam air dan dibacakan ayat Kursi, surat al Kafirun, al Ikhlash, al Falaq dan an Naas. (Boleh juga dibacakan ayat-ayat al-Qur’an lainnya) Lalu dipergunakan untuk mandi atau diminum. (lihat Mushannaf Ma’mar bin Rasyid 11/13).
Menumbuk tujuh helai daun pohon Sidr (daaun bidara) hijau di antara dua batu atau sejenisnya, lalu menyiramkan air ke atasnya sebanyak jumlah air yang cukup untuk mandi dan dibacakan di dalamnya ayat-ayat al Qur-an.
Setelah membacakan ayat-ayat tersebut pada air yang sudah disiapkan tersebut, hendaklah dia meminumnya sebanyak tiga kali, dan kemudian mandi dengan menggunakan sisa air tersebut. Dengan demikian, Insya Allah penyakit (sihir) akan hilang. Dan jika perlu, hal itu boleh diulang dua kali atau lebih, sehingga penyakit (sihir) itu benar-benar sirna. Hal itu sudah banyak dipraktekkan, dan dengan izin_Nya,Allah memberikan manfaat padanya.

Sunday, 11 September 2016

ALAMAT RUQYAH DI MEDAN

Jika Anda mencari alamat ruqyah di Medan dan sekitarnya. Mungkin ini informasi terbaik yang pernah Anda dengar. Sesaat lagi saya akan menunjukkan kepada Anda beberapa tempat ruqyah di Medan yang bisa Anda kunjungi.

Sebenarnya ada banyak sekali tempat ataupun klinik Ruqyah yang sudah berdiri di Medan. Apalagi seiring dengan bertambahnya antusias masyarakat yang sudah mengenal Ruqyah dan khasiatnya di dalam mengobati berbagai penyakit, seperti Medis maupun Non Medis, baik yang diiklankan lewat media cetak dan juga televisi.




Nah...Silahkan Anda datang ke alamat-alamat praktek Ruqyah yang ada di Medan yang sebentar lagi akan saya beritahukan di bawah ini. Pastikan alamat Ruqyah yang akan Anda kunjungi, ditangani oleh praktisi-praktisi yang namanya terdaftar diDaftarPraktisi Ruqyah Syar’iyyah Indonesia dan Dunia.


Karena sebagian besar dari nama-nama yang terdaftar di Daftar Praktisi Ruqyah apalagi yang ada di Medan, mereka sudah pernah mengikuti pelatihan-pelatihan Ruqyah Syar’iyyah dengan berbagai metode-metode ampuh dan teruji di dalam menangani penyakit-penyakit tertentu. Bukan hanya itu, untuk di Kota Medan sendiri, setiap bulannya selalu diadakan Ruqyah Massal oleh Komunitas Peduli Ruqyah Syar’iyyah Indonesia yang disingkat dengan KOPERASI. Untuk mengetahui aktifitas kegiatan mereka, Anda bisa langsung mengaksesnya di website peduliruqyah atau www.ruqyahsyariyyahmedan.com


Alhamdulillah...saat ini saya diamanahkan sebagai Ketua Divisi Dakwah & Informasi yang menangani kegiatan-kegiatan Ruqyah Massal di Medan dan Sekitarnya. Beberapa bulan yang lalu, team Peduli Ruqyah Medan diminta untuk mengisi kajian dan pelatihan Ruqyah Syar’iyyah di Aceh tepatnya Pulau Simeleu. Sebenarnya banyak sudah permintaan yang masuk dari berbagai daerah untuk mengisi Kajian dan Pelatihan Ruqyah Syar’iyyah di wilayah Sumatera Utara, seperti di Kisaran, Labuhan Batu, Mandailing Natal, Padang Sidempuan, Tebing Tinggi, Dll. Namun untuk sementara ini kegiatan-kegiatan Ruqyah Massal yang sudah diadakan oleh team Peduli Ruqyah masih sering berada di dalam Kota Medan dan Sekitarnya.


Baiklah, bagi Anda yang membutuhkan layanan Ruqyah Syar’iyyah di Medan dan Sekitarnya, berikut alamat ruqyah di Medan yang bisa Anda kunjungi.

  • Ust. Fitra Rudiansyah. Alamat Praktek Ruqyah di Jl. Pringan. Lorong Puyuh. Medan Marelan
  • Ust. Barmawi. Alamat Praktek Ruqyah di Jl. Bandar Setia, Medan Tembung
  • Aby S, S.Pd. Alamat Praktek Ruqyah di Jl. Gatot Subroto km 7,5 / Jl. Pantai timur / Jl. Gereja No. 64A Cinta Damai, Medan.

Untuk Informasi Call Centre, silahkan hubungi langsung 0823-6113-6983 (Divisi Dakwah dan Informasi - Peduli Ruqyah Centre) untuk fast respons.


Bagi Anda yang ingin silaturahmi, Anda juga bisa langsung datang ke alamat ruqyah kami di 
Gatot Subroto km 7,5 / Jl. Pantai timur / Jl. Gereja No. 64A, Medan. Tepatnya di samping Masjid Al-Masturah
Semoga bermanfaat.

Monday, 18 February 2013

Pacaran Sudah Jelas Sekali Haramnya!

1. Orang yang sedang pacaran gak mungkin menundukan pandangannya terhadap pacarnya
(Awal munculnya rasa suka maupun cinta  itu  adalah karena dari seringnya mata memandang kepadanya)
2. Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijab (pembatas). 3. orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan pacarnya (berkhalwat), baik di dalam rumah atau di luar rumah 4. Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama pacarnya. 5. Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan. 6. Orang yang sedang pacaran, bisa dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.
Harap dipikirkan dan direnungkan kembali etika pergaulan dengan lawan jenis dalam Islam. Berapa point kah pelanggaran yang dilakukan oleh orang pacaran? 

Dalam kamus pacaran, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkan pacaran, lalu bagaimana kalau semuanya?
1. Pacaran itu ga jelas hubungannya [suami istri bukan, sodara bukan, tetangga juga bukan (lho)] tapi bermesra-mesraan seakan2 itu suami istri padahal bukan
2. Laki2 yg pacaran tidak Jentel!! hanya berani main-main aja. tidak serius untuk mencintainya. tidak berani langsung khitbah dirinya.. berjuta alasan muncul untuk menunda pernikah dan membenarkan pacaran.Dengan alasan untuk mengenal si calon pasangan. tapi kalau pacaran kelamaan, kapan coba nikahnya? Kalau pacaran kelamaan.. Berapa banyak coba dosanya?

3. Perempuan yang pacaran itu murahan, Masa mau banget berdua-duaan? Mau banget dipegang-pegang? Mau banget dikasih kata-kaa rayuan serta gombalan yang sebenarnya dusta! perempuan itu mudah sekali melepas kehormatan dan wibawa dia kepada seorang lelaki tanpa ada ikatan yg sah. mudah putus dan cari pacar lagi. Bener-bener murahan!

4. Ketika pacaran, mungkin berharap bahwa dialah manusia terakhir yang akan mencampinginya untuk mengarungi bahtera rumah tangga.. betul ga..? tapi, tahukah kamu, sahabat?.. dibalik itu ternyata sipasangan (si pacar) memperhatikan, meneliti dan menilai kamu.. didalam hatinya adalah, “apakan dia pantas menjadi pendampingku, sedangkan tingkah lakunya seperti itu, dan aku sudah tau kebiasaan buruknya?”. Dia pun bertanya-tanya.

5. Pacaran itu isinya Bohong semua..!! Percaya ga? di depan pasangan pura-pura sok romantis, kata-katanya disaring betul-betul sehingga yang terlontar hanya kata-kata yang baik-baik aja. ketika mau ketemuan pura-pura Mandi dan make minyak wangi. Pura-pura menjaga perasaaannya. Pura-pura perhatian, sms rayuan gombal. Terkadang memberi nasihat yang islami seolah-olah mereka pacaran islami.  Padahal, sifat sebenarnya mereka belum tentu begitu!. Terus Sorry-Sorry Jack ya di Islam ga ada Pacaran Islami.

Dan kalaupun pasangan ini menikah makan yg terjadi adalah kericuhan, karna setiap pihak merasa dibohongi ketika pacaran..!
Mana tutur kata manismu ketika pacaran dulu?
Mana sms gombalan dan nasehat ketika pacaran dulu?
Mana tubuh wangimu ketika ingin menjumpaiku dulu?
Mana? mana? mana?? “Ke LAUT AJA Loe! Hehe..


 


Orang yang mencintaimu.. Gak akan mungkin mengajakmu pacaran, gak mungkin ngajak kamu sms yang sekedar nanya “udah makan belum?, udah sholat belum?, udah sarapan belum?, udah belajar belum?, udah tidur belum?, udah mandi belum? lagi ngapain sekarang?” Emang kamu anak bayi? ditanya-tanya ga penting begitu.

Orang yang mencintaimu.. Gak akan mungkin mengajakmu jalan berdua.. Gak akan mungkin mengajakmu berzina, gak akan mungkin mau menambah dosa kamu, Gak mungkin akan merayu dan mendayu-dayu kepadamu.
Orang yang mencintaimu.. Akan mencintaimu dari kejauhan.. Karena ia ingin menjaga kesucian dirimu. Ia akan senang jika lihat dirimu senang walaupun dari kejauhan. Dan dirinnya akan sedih jika melihat dirimu sedih walaupun dari kejauhan.
Salam Hangat




Kalau Cinta, Jangan Maksiat

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mempersilakan.

Atau mengambil kesempatan.

Yang pertama adalah pengorbanan.

Yang kedua adalah keberanian.

(Jalan Cinta Para Pejuang_ Salim A Fillah)

 


Jamaah ini bukan jamaah malaikat tanpa hasrat. Meski tiap pertemuan ada sekat dan hijab, tetap saja fitnah bersiap siaga menjerat. Suatu fitrah nan indah dari Sang Pencipta. Tentu saja tak layak diumbar tanpa ikatan yang sah.
“Nantikan ku di batas waktu, ya ukhti” jelas bukanlah risalah yang dibenarkan syariat, yaa Akhi…
Belajarlah dari kisah romansa ‘Ali dan Fatimah. Yang sebenarnya saling memendam rasa begitu lama. Namun tak jua Sang Pria memberanikan diri memulainya walau lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab telah bermula. Apalah aku ini, pikir sang pemuda, hanya seorang pemuda yang tak berpunya bahkan sekadar mahar seadanya.
Tapi lihatlah ketika Allah berkehendak.
“Aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai Ali engkau wajib bergembira sebab Allah ‘Azza wa jalla sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!” Demikian perkataan Sang Rasul dalam riwayat yang diceritakan Ummu Salmah RA.
Sungguh, sebuah Romansa cinta penuh gairah ketaatan pada Robb nya yang syetan pun tak mereka kabari gejolaknya. Dan cinta pun bersemi indah hingga ke surga.
Maka mencinta lah sejantan ‘Ali. Menyimpan rapat di hati atau persilakan sang pujaan meniti mencari ridha Illaahi tanpa engkau temani. Materi bukan halangan berarti, ya Akhi. Cukuplah janji Allah engkau yakini. Maka Bismillaah…mantapkan hati.
***
“Nikahkan aku dengan nya, Yaa Abi…” atau “Ta’aruf-kan Ana dengan si ikhwan, Wahai Murabbi…” begitu syariat mengajarkan kita, Yaa Ukhti…
“Tapi kan, kita ini akhwat. Masa iya kita yang memulai?”
Ohoho terlupakah kita kekasih sang Rasulullah, Bunda Khadijah?
Dengan selisih umur yang tak sedikit, dengan status janda dan bujang, dengan strata social yang tak sepadan, cinta mereka pun menjadi kisah cinta mengagumkan. Cinta yang tetap abadi walaupun Khadijah tak lagi di sisi. Bahkan Sang Rasul menangis ketika ditanya kesediaannya untuk kembali menikah sembari berkata, “Masih adakah orang lain setelah Khadijah?”
Sejarah telah mencatat, tak berkurang izzahnya sang muslimah ketika mengutarakan isi hatinya agar bisa terjaga dalam bingkai yang sah. Lantas, apa yang engkau khawatirkan, wahai Muslimah? Tak khawatirkah dirimu syetan merajai benak mu hingga berzina-lah hati mu sepanjang masa menunggu pangeran impian mu itu?
Di Jalan Cinta Para pejuang, kita belajar untuk bertanggung jawab atas perasaan kita
Maka bertanggung jawablah atas apa yang engkau rasa. Mengutarakannya dengan cara syariat jelas bukanlah dosa. Bermain-main dengan gejolak hati justru memancing datangnya syetan penggoda. Tanyakan hati mu seberapa kuat diri mu menahannya. Ingat juga syetan tak kenal putus asa. Dan kita bukanlah pribadi terjaga bak ‘Ali dan Fatimah.
Tak selalu cinta bersemi di taman cinta hingga abadi. Penerimaannya memekarkan benih di hati. Tentu penolakan bukanlah tanda berakhirnya hari-hari. Ia adalah jalan yang dipilih Tuhan mu dan Tuhan nya. Mungkin juga pertanda belum siapnya melangkah. Hingga perlu berbenah hingga yang terbaik menurutNYA menyapa. Yakinlah IA Maha Tahu yang terbaik untuk kita.
Kau dan aku telah memilih langkah. Dan di jalan juang lah kita berada. Sebuah jalan yang tak ada pertolongan selain kekuatan NYA. Dan pertolongan kan sirna ketika kita hiasi jalan juang ini dengan maksiat atas sucinya fitrah.

Ada Apa Dengan Jilbab Punuk Unta?



Disebutkan Oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam Dalam Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim dan Lainnya bahwa mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan Mencium Bau Wangi Surga, Padahal Bau Wangi Surga Bisa Dicium Dari Jarak yang sangat jauh.
Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya,
1. Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia [maksudnya penguasa yang dzalim],
2. dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali]”.
(HR. Muslim).
Yang bergaris tebal itu memiliki penafsiran bahwa itu maksudnya adalah  yang menyisir rambutnya dengan gaya condong ke atas. Ia berkata: yaitu dengan memilin rambut dan mengikatnya ke atas kemudian menyatukannya di tengah-tengah kepala sehingga menjadi seperti punuk-punuk unta.
Lalu ia berkata: ini menunjukkan bahwa maksud perumpamaan dengan punuk-punuk unta adalah karena tingginya rambut di atas kepala mereka, dengan dikumpulkannya rambut di atas kepala kemudian dipilin sehingga rambut itu berlenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan kepala.
Fatwa dari Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah:
Pertanyaannya seperti ini :
Apa hukum seorang wanita mengumpulkan (menggelung/sanggul) rambutnya di atas lehernya dan di belakang kepalanya yang membentuk benjolan sehingga ketika wanita itu memakai hijab, terlihat bentuk rambutnya dari belakang jilbabnya?

Jawaban :
Ini adalah kesalahan yang terjadi pada banyak wanita yang memakai jilbab, dimana mereka mengumpulkan rambut-rambut mereka di belakang kepala mereka sehingga menonjol dari belakang kepalanya walaupun mereka memakai jilbab di atasnya. Sesungguhnya hal ini menyelisihi syarat hijab yang telah kukumpulkan dalam kitabku “Hijab al-Mar’ah al-Muslimah minal Kitab was Sunnah”.
Dan diantara syarat-syarat tersebut adalah pakaian mereka tidak membentuk bagian tubuh atau sesuatu dari tubuh wanita tersebut, oleh karena itu tidak boleh bagi seorang wanita menggelung rambutnya dibelakang kepalanya atau disampingnya yang akan menonjol seperti itu, sehingga tampaklah bagi penglihatan orang walaupun tanpa sengaja bahwa itu adalah rambut yang lebat atau pendek. Maka wajib untuk mengurainya dan tidak menumpuknya.

Sumber : “Silsilatul Huda wan Nur“.

Maksud dari hadits “kepala mereka seperti punuk onta”, adalah wanita yang menguncir atau menggulung rambutnya sehingga tampak sebuah benjolan di bagian belakang kepala dan tampak dari balik hijabnya .
Ancaman yang sangat keras bagi setiap wanita yang keluar rumah menonjolkan rambut yang tersembunyi di balik hijabnnya dengan ancaman tidak dapat mencium bau wangi surga, padahal bau wangi surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh.
Apabila telah ada ketetapan dari Allah baik berupa perintah atau pun larangan, maka seorang mukmin tidak perlu berpikir-pikir lagi atau mencari alternatif yang lain. Terima dengan sepenuh hati terhadap apa yang ditetapkan Allah tersebut dalam segala permasalahan hidup.
Kalau kita perhatikan dengan seksama. Akan jelas sekali fenomena yang menghadang para muslimah ini. Apa yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadits itu. Nyatanya? Memang banyak yang memakainya.
Jadi, inti dari larangan dalam hadits tersebut adalah bertabarruj, yaitu keluar rumah dengan berdandan yang melanggar aturan syari’at dan berjilbab yang tidak benar sebagaimana firman Allah:
“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu (bertabarruj) berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu“. (QS. Al-Ahzaab: 33).

Jadi, buat sobat-sobat muslimah, yuk pakai jilbabnya yang biasa-biasa aja. Yang syar’i, yang ndak ketat, yang ndak tembus pandang, dan yang ndak berpunuk unta. Iya bukan? Yapss! Kan capek ya? Unta dibawa-bawa. Kan berat boo :D
Semoga bermanfaat!
Wallahu A’lam