Monday, 18 February 2013

Pacaran Sudah Jelas Sekali Haramnya!

1. Orang yang sedang pacaran gak mungkin menundukan pandangannya terhadap pacarnya
(Awal munculnya rasa suka maupun cinta  itu  adalah karena dari seringnya mata memandang kepadanya)
2. Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijab (pembatas). 3. orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan pacarnya (berkhalwat), baik di dalam rumah atau di luar rumah 4. Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama pacarnya. 5. Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan. 6. Orang yang sedang pacaran, bisa dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.
Harap dipikirkan dan direnungkan kembali etika pergaulan dengan lawan jenis dalam Islam. Berapa point kah pelanggaran yang dilakukan oleh orang pacaran? 

Dalam kamus pacaran, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkan pacaran, lalu bagaimana kalau semuanya?
1. Pacaran itu ga jelas hubungannya [suami istri bukan, sodara bukan, tetangga juga bukan (lho)] tapi bermesra-mesraan seakan2 itu suami istri padahal bukan
2. Laki2 yg pacaran tidak Jentel!! hanya berani main-main aja. tidak serius untuk mencintainya. tidak berani langsung khitbah dirinya.. berjuta alasan muncul untuk menunda pernikah dan membenarkan pacaran.Dengan alasan untuk mengenal si calon pasangan. tapi kalau pacaran kelamaan, kapan coba nikahnya? Kalau pacaran kelamaan.. Berapa banyak coba dosanya?

3. Perempuan yang pacaran itu murahan, Masa mau banget berdua-duaan? Mau banget dipegang-pegang? Mau banget dikasih kata-kaa rayuan serta gombalan yang sebenarnya dusta! perempuan itu mudah sekali melepas kehormatan dan wibawa dia kepada seorang lelaki tanpa ada ikatan yg sah. mudah putus dan cari pacar lagi. Bener-bener murahan!

4. Ketika pacaran, mungkin berharap bahwa dialah manusia terakhir yang akan mencampinginya untuk mengarungi bahtera rumah tangga.. betul ga..? tapi, tahukah kamu, sahabat?.. dibalik itu ternyata sipasangan (si pacar) memperhatikan, meneliti dan menilai kamu.. didalam hatinya adalah, “apakan dia pantas menjadi pendampingku, sedangkan tingkah lakunya seperti itu, dan aku sudah tau kebiasaan buruknya?”. Dia pun bertanya-tanya.

5. Pacaran itu isinya Bohong semua..!! Percaya ga? di depan pasangan pura-pura sok romantis, kata-katanya disaring betul-betul sehingga yang terlontar hanya kata-kata yang baik-baik aja. ketika mau ketemuan pura-pura Mandi dan make minyak wangi. Pura-pura menjaga perasaaannya. Pura-pura perhatian, sms rayuan gombal. Terkadang memberi nasihat yang islami seolah-olah mereka pacaran islami.  Padahal, sifat sebenarnya mereka belum tentu begitu!. Terus Sorry-Sorry Jack ya di Islam ga ada Pacaran Islami.

Dan kalaupun pasangan ini menikah makan yg terjadi adalah kericuhan, karna setiap pihak merasa dibohongi ketika pacaran..!
Mana tutur kata manismu ketika pacaran dulu?
Mana sms gombalan dan nasehat ketika pacaran dulu?
Mana tubuh wangimu ketika ingin menjumpaiku dulu?
Mana? mana? mana?? “Ke LAUT AJA Loe! Hehe..


 


Orang yang mencintaimu.. Gak akan mungkin mengajakmu pacaran, gak mungkin ngajak kamu sms yang sekedar nanya “udah makan belum?, udah sholat belum?, udah sarapan belum?, udah belajar belum?, udah tidur belum?, udah mandi belum? lagi ngapain sekarang?” Emang kamu anak bayi? ditanya-tanya ga penting begitu.

Orang yang mencintaimu.. Gak akan mungkin mengajakmu jalan berdua.. Gak akan mungkin mengajakmu berzina, gak akan mungkin mau menambah dosa kamu, Gak mungkin akan merayu dan mendayu-dayu kepadamu.
Orang yang mencintaimu.. Akan mencintaimu dari kejauhan.. Karena ia ingin menjaga kesucian dirimu. Ia akan senang jika lihat dirimu senang walaupun dari kejauhan. Dan dirinnya akan sedih jika melihat dirimu sedih walaupun dari kejauhan.
Salam Hangat




Kalau Cinta, Jangan Maksiat

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mempersilakan.

Atau mengambil kesempatan.

Yang pertama adalah pengorbanan.

Yang kedua adalah keberanian.

(Jalan Cinta Para Pejuang_ Salim A Fillah)

 


Jamaah ini bukan jamaah malaikat tanpa hasrat. Meski tiap pertemuan ada sekat dan hijab, tetap saja fitnah bersiap siaga menjerat. Suatu fitrah nan indah dari Sang Pencipta. Tentu saja tak layak diumbar tanpa ikatan yang sah.
“Nantikan ku di batas waktu, ya ukhti” jelas bukanlah risalah yang dibenarkan syariat, yaa Akhi…
Belajarlah dari kisah romansa ‘Ali dan Fatimah. Yang sebenarnya saling memendam rasa begitu lama. Namun tak jua Sang Pria memberanikan diri memulainya walau lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab telah bermula. Apalah aku ini, pikir sang pemuda, hanya seorang pemuda yang tak berpunya bahkan sekadar mahar seadanya.
Tapi lihatlah ketika Allah berkehendak.
“Aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai Ali engkau wajib bergembira sebab Allah ‘Azza wa jalla sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!” Demikian perkataan Sang Rasul dalam riwayat yang diceritakan Ummu Salmah RA.
Sungguh, sebuah Romansa cinta penuh gairah ketaatan pada Robb nya yang syetan pun tak mereka kabari gejolaknya. Dan cinta pun bersemi indah hingga ke surga.
Maka mencinta lah sejantan ‘Ali. Menyimpan rapat di hati atau persilakan sang pujaan meniti mencari ridha Illaahi tanpa engkau temani. Materi bukan halangan berarti, ya Akhi. Cukuplah janji Allah engkau yakini. Maka Bismillaah…mantapkan hati.
***
“Nikahkan aku dengan nya, Yaa Abi…” atau “Ta’aruf-kan Ana dengan si ikhwan, Wahai Murabbi…” begitu syariat mengajarkan kita, Yaa Ukhti…
“Tapi kan, kita ini akhwat. Masa iya kita yang memulai?”
Ohoho terlupakah kita kekasih sang Rasulullah, Bunda Khadijah?
Dengan selisih umur yang tak sedikit, dengan status janda dan bujang, dengan strata social yang tak sepadan, cinta mereka pun menjadi kisah cinta mengagumkan. Cinta yang tetap abadi walaupun Khadijah tak lagi di sisi. Bahkan Sang Rasul menangis ketika ditanya kesediaannya untuk kembali menikah sembari berkata, “Masih adakah orang lain setelah Khadijah?”
Sejarah telah mencatat, tak berkurang izzahnya sang muslimah ketika mengutarakan isi hatinya agar bisa terjaga dalam bingkai yang sah. Lantas, apa yang engkau khawatirkan, wahai Muslimah? Tak khawatirkah dirimu syetan merajai benak mu hingga berzina-lah hati mu sepanjang masa menunggu pangeran impian mu itu?
Di Jalan Cinta Para pejuang, kita belajar untuk bertanggung jawab atas perasaan kita
Maka bertanggung jawablah atas apa yang engkau rasa. Mengutarakannya dengan cara syariat jelas bukanlah dosa. Bermain-main dengan gejolak hati justru memancing datangnya syetan penggoda. Tanyakan hati mu seberapa kuat diri mu menahannya. Ingat juga syetan tak kenal putus asa. Dan kita bukanlah pribadi terjaga bak ‘Ali dan Fatimah.
Tak selalu cinta bersemi di taman cinta hingga abadi. Penerimaannya memekarkan benih di hati. Tentu penolakan bukanlah tanda berakhirnya hari-hari. Ia adalah jalan yang dipilih Tuhan mu dan Tuhan nya. Mungkin juga pertanda belum siapnya melangkah. Hingga perlu berbenah hingga yang terbaik menurutNYA menyapa. Yakinlah IA Maha Tahu yang terbaik untuk kita.
Kau dan aku telah memilih langkah. Dan di jalan juang lah kita berada. Sebuah jalan yang tak ada pertolongan selain kekuatan NYA. Dan pertolongan kan sirna ketika kita hiasi jalan juang ini dengan maksiat atas sucinya fitrah.