Ketika sang putri sudah beranjak dewasa, bertambahnya usia yang putri membuat orang tua gelisah, mereka mengetahui bahwa sang putri sudah waktunya untuk menikah, untuk mendapatkan seorang pendamping hidup yang bisa membuat keluarga bangga, segala keinginan dan kriteria disusun untuk sang calon menantu kelak, tidak jarang mereka mengharapkan akan mendapatkan calon menantu yang kaya, bermobil mewah dan harta yang berlimpah, sehingga bisa membuat orang tua menjadi bangga, minimal bisa dibanggakan (disombongkan) dihadapan kerabat yang lain saat ada pertemuan keluarga.
Ada juga orang tua yang mengharapkan putri mereka mendapatkan calon suami yang memiliki pekerjaan tetap dan berpenghasilan “lumayan”, agar putri mereka kelak mendapatkan nafkah yang cukup dan tidak akan kelaparan, atau juga ada yang mengharapkan calon menantu adalah orang yang memiliki jabatan atau pangkat tertentu, dan masih banyak lagi impian yang disusun rapi serta cara-cara strategis untuk mewujudkannya. Sehingga kerap terjadi bahwa “sang putri” menjadi barang komoditi atau umpan yang empuk untuk menggaet harta berlimpah dan sekedar numpang kecipratan hidup enak dari sang calon menantu.
Kemudian jika datang kepada mereka seorang laki-laki dengan memakai pakaian yang sudah pudar warnanya, dengan kerendahan hati mengajukan pinangan kepada “sang putri”, orang tua akan mengatakan, “Mau diberi makan apa anakku nanti? Coba ngaca dulu sebelum melamar putri saya!” padahal mereka tidak mengetahui bahwa sang pemuda yang sudah pudar warna bajunya adalah seorang penuntut ilmu agama yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala, hartanya boleh sedikit namun bisa jadi dia mulia di hadapan Allah Ta’ala.
Wahai abi... ummi... harta bukan ukuran kebahagiaan, sebagaimana kesederhanaan juga bukan ukuran untuk kesengsaraan... maukah kalian membaca suatu kisah? Yang didalamnya terdapat tauladan yang membuat hatimu terpesona, dan mungkin matamu akan menitikkan air mata, jika di dalam hatimu memang masih ada secuil iman kepada Allah Ta’ala maka simaklah untaian kisah berikut :
Kisah itu terdapat dalam biografi seorang Penghulu Tabi’in dan Tabi’in yang mulia Sa’id bin Musayyib rahimahullah, bahwa Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan meminang anak Sa’id bin Musayyaib untuk anaknya, Al-Walid (seorang putera mahkota dan calon khalifah berikutnya) ketika itu sang khalifah masih memegang tampuk kekuasaannya. Lalu beliau (Sa’id binMusayyib) menolak lamaran itu.
Abu Wida’ah mengatakan, “Aku selalu bermajelis kepada Sa’id bin Musayyib, lalu aku tidak hadir beberapa hari. Tatkala aku datang, beliau bertanya kepadaku, “Kemana saja engkau kemarin?” Aku menjawab, “Istriku meninggal, lalu aku sibuk dibuatnya (mengurus pemakamannya).” Sa’id bin Musayyib berkata, “Kenapa engkau tidak memberitahu kami sehingga kami dapat menyaksikannya?” Aku pun menjawab, “Sebenarnya aku bermaksud demikian.”
Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau telah menemukan wanita lain penggantinya?” Aku menjawab, “Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada anda, siapa yang berani menikahkanku (dengan putrinya), padahal aku hanya memiliki harta dua atau tiga dirham saja?” Beliau menjawab, “Apabila aku melakukannya (mencarikan seorang istri), apakah engkau mau menerimanya?” Aku menjawab, “Baiklah.” Lalu dia (Sa’id bin Musayyib) memuji Allah dan mengucapkan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Sa’id bin Musayyib menikahkan diriku dengan (mahar) dua dirham atau tiga dirham tersebut.
Abu Wida’ah melanjutkan, “Lalu aku bangkit seraya tidak mengerti apa yang harus aku perbuat karena gembira. Aku pulang ke rumahku, sembari memikirkan dari siapa aku mendapatkan pinjaman. Aku pun melaksanakan shalat Maghrib. Pada saat itu aku dalam keadaan puasa. Ketika aku hendak makan malam setelah berbuka, hanya ada sepotong roti dan minyak. Tiba-tiba pintu diketuk. Aku bertanya, “Siapa itu?” Beliau menjawab, “Sa’id!”
Aku memikirkan orang yang kukenal bernama Sa’id, namun aku hanya menemukan Sa’id bin Musayyib. Namun beliau buta sejak empat puluh tahun yang lalu kecuali (jalan) antara rumah dan masjid saja yang dikenalnya. Aku bangkit dan keluar, rupanya dia adalah Sa’id bin Musayyib, dan aku mengira ia dapat melihat. Aku pun bertanya, “Wahai Abu Muhammad kenapa anda tidak mengutus seseorang saja kepadaku, sehingga aku datang kepadamu?” Beliau menjawab, “Tidak! Engkau lebih berhak untuk diziarahi.”
Aku bertanya, “Apakah yang ingin anda perintahkan kepadaku?” Beliau menjawab, “Aku melihat engkau seorang laki-laki yang melajang. Aku telah menikahkan (putriku denganmu) karena aku melihat engkau tidak suka tidur sendirian pada malam ini. Dan inilah istrimu.” Rupanya dia adalah seorang wanita yang berdiri di belakangnya.
Kemudian beliau mendorong wanita itu ke pintu rumah dan diapun menahan pintu tersebut. Wanita itu terjatuh karena malu, lalu ia mencoba untuk bergantung ke pintu itu, kemudian bangkit masuk ke rumah. Aku bangkit memanggil tetangga, mereka pun berdatangan seraya bertanya, “Ada apa denganmu?” Aku menjawab, “Sa’id bin Musayyib menikahkan diriku dengan puterinya tanpa sebuah tanda apa-apa. Dan sekarang wanita itu ada di dalam rumah. “ lalu mereka pun menemuinya.
Ketika itu ibuku mendapatkan kabar tentang hal itu, lalu beliau datang seraya berkata, “Engkau tidak boleh tidur bersamanya sebelum aku melihat keshalihannya selama tiga hari.” Setelah bersamanya tiga hari barulah dia menggaulinya. Rupanya wanita itu adalah wanita tercantik, yang paling hafal Al-Qur’an, paling banyak ilmu tentang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang paling tahu tentang hak suami.
Abu Wida’ah melanjutkan, “Lalu aku berdiam selama sebulan dan tidak menemuinya (Sa’id bin Musayyib), dan beliau juga tidak pernah menemuiku. Kemudian aku menemuinya setelah satu bulan berlalu, sementara itu beliau berada dalam halaqahnya. Aku mengucapkan salam kepadanya, maka beliaupun membalas salamku dan beliau tidak berbicara kepadaku sampai semua orang pergi dari masjid dan yang tersisa hanyalah aku. Beliau bertanya, “Bagaimana keadaan orang itu (yakni puterinya)?” Aku menjawab, “Seperti halnya yang dicintai orang yang shiddiq dan selalu dibenci oleh musuh Allah.” Lalu aku pulang ke rumah, sementara itu beliau memberiku dua puluh ribu dirham.”
Tidak ada lagi yang lebih tenang hidupnya melainkan Tabi’in yang mulia itu hingga akhir hidupnya bersama anak Sa’id bin Musayyib tersebut. Sehingga beliau tidak lagi memikirkan keadaan anaknya karena di bawah bimbingan seorang laki-laki yang bertaqwa yang selalu takut kepada Allah, serta mengerti tentang hak istri dan posisinya di samping istrinya tersebut. [Dinukil dari Kitab Min Akhlaqi ‘l-Ulama (123-125)]
Demikianlah sebuah kisah bagaimana seorang Tabi’in yang mulia dan buta lebih memilih seorang menantu penuntut ilmu yang miskin yang hanya memiliki dua atau tiga dirham uang saja namun memiliki keshalihan dan rasa takut yang tinggi kepada Allah Ta’ala, dan beliau menolak lamaran seorang khalifah yang akan menikahkan puteri beliau dengan anaknya seorang calon khalifah Al Walid. Sa’id bin Musayyib lebih mengkhawatirkan kekayaan duniawi akan menjerumuskan puterinya sehingga beliau memilih Abu Wida’ah sebagai menantunya, yang mana beliau telah mengenal baik keutamaan dan keilmuan Abu Wida’ah ini.
Lalu bagaimanakah halnya dengan orang tua di zaman sekarang ini, apakah mereka juga mengkhawatirkan akidah anak-anak mereka setelah pernikahannya, sehingga para orang tua lebih menitik beratkan kebersihan akidah dan kemuliaan akhlak calon menantunya daripada harta kekayaan, jabatan dan kedudukan, kita sering mendengar banyak kisah tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) lalu darimanakah asal KDRT itu jika calon suami puteri mereka adalah seorang yang shalih lagi memiliki rasa takut yang tinggi kepada Allah Ta’ala? Ataukah mereka para orang tua akan menyerahkan puteri-puteri mereka dalam bimbingan seorang suami yang jauh dari agama dan tenggelam dalam kehidupan dunia, yang selalu melalaikan shalat mereka dan bersikap kasar terhadap istri?
Keputusan ada di tangan anda wahai para orang tua, perhatikanlah kepada siapa engkau akan menyerahkan puterimu?
Wallahu a’lam bish showab
Tuesday, 1 June 2010
Antara Pengorbanan dan Cinta
Di dalam Gua Tsur Rasululloh saw dan Abu Bakar ra bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy. Rasa lelah mengharuskan mereka beristirahat. Dan Abu bakar pun mempersilahkan kedua pahanya untuk dijadikan bantalan kepala Rasulullah. Keadaan begitu hening saat keduanya melepas lelah. Rasulullah saw memejamkan matanya sementara Abu Bakar ra mengawasi. Dalam penggalan waktu istirahat mereka, Abu Bakar yang terjaga melihat ular mendekati tempat mereka berdua. Keringat dingin mengucur dari dahinya saat ular itu semakin mendekati kakinya. Hingga akhirnya sang ular menusukan taring tajamnya pada salah satu kaki Abu Bakar ra. Abu bakar berusaha menahan sakit dengan tidak menggerakan tubuhnya. Matanya berderai merasakan betapa sakit luka yang di derita. Hingga Rasululloh terbangun dan terkejut melihat keadaan sahabatnya. Sambil menahan rasa sakit bertuturlah Abu Bakar tentang peristiwa yang menimpanya. Kemudian Rasululloh berkata “Mengapa engkau tidak menghindarinya?” Sambil menahan rasa sakit Abu Bakar ra menjawab “Jika aku menggerakan kakiku, aku takut mengganggu istirahat engkau ya Rasulullah.”
Itulah sepenggal kisah cinta dua orang kekasih Allah. Pengorbanan Abu bakar ra adalah buah dari ketulusan cinta kepada Rasulullah saw. Dan memang seperti itulah seharusnya cinta, ia adalah manifestasi pengorbanan dari sang pecinta kepada yang dicintainya. Pengorbanan menjadi salah satu tolak ukur kedalaman cinta seseorang. Sementara tingkatan tertingginya adalah saat sang pencinta mengorbankan sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya demi kebahagiaan orang yang dicintai.
Ibrahim as mematuhi perintah Allah untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail as karena cinta, walau saat penyembelihan Allah mengganti dengan seekor domba. Abdurahman Bin Auf mendermakan seluruh hartanya karena cinta, Ali Bin Abi Thalib menggantikan tidur Nabi saat hijrah karena cinta. Khansa menyuruh ketiga putranya berjihad di medan perang karena cinta. Para sahabat Rasulullah berperang demi tegaknya keadilan Islam dengan menggadaikan harta dan jiwa mereka karena cinta. Cinta suci nan hakiki yakni Cinta untuk yang menciptakan cinta, Allah swt. Tak ada parameter yang paling akurat menilai seberapa dalam cinta seseorang kecuali pengorbanan.
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya),( QS.Al Ahzab :23 )
Begitu pula cinta kita kepada manusia, kepada orang tua, pasangan hidup, anak-anak, sahabat dan lainnya. Kebahagiaan bagi pecinta sejati adalah saat ia mampu mempersembahkan kebahagiaan bagi orang yang dicintainya walaupun terkadang harus ditukar dengan sesuatu yang paling berharga yang ia miliki.
Seorang ibu yang sering kali tak peduli dengan keadaan dirinya asalkan anaknya bahagia adalah bentuk pengorbanan atas nama cinta. Seorang ayah bersusah payah bekerja menafkahi keluarganya adalah bentuk pengorbanan atas nama cinta
Cinta dan pengorbanan adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan satu sama lainnya, sayap bagi sang burung untuk menjelajahi cakrawala, angin yang menerbangkan serbuk sari pada sang bunga, embun yang menghadiahi pagi dengan kesegarannya dan ruh bagi raga yang dicipta-Nya.
Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki semangat pengorbanan. Seperti Rasulullah kepada Tuhannya.
Itulah sepenggal kisah cinta dua orang kekasih Allah. Pengorbanan Abu bakar ra adalah buah dari ketulusan cinta kepada Rasulullah saw. Dan memang seperti itulah seharusnya cinta, ia adalah manifestasi pengorbanan dari sang pecinta kepada yang dicintainya. Pengorbanan menjadi salah satu tolak ukur kedalaman cinta seseorang. Sementara tingkatan tertingginya adalah saat sang pencinta mengorbankan sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya demi kebahagiaan orang yang dicintai.
Ibrahim as mematuhi perintah Allah untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail as karena cinta, walau saat penyembelihan Allah mengganti dengan seekor domba. Abdurahman Bin Auf mendermakan seluruh hartanya karena cinta, Ali Bin Abi Thalib menggantikan tidur Nabi saat hijrah karena cinta. Khansa menyuruh ketiga putranya berjihad di medan perang karena cinta. Para sahabat Rasulullah berperang demi tegaknya keadilan Islam dengan menggadaikan harta dan jiwa mereka karena cinta. Cinta suci nan hakiki yakni Cinta untuk yang menciptakan cinta, Allah swt. Tak ada parameter yang paling akurat menilai seberapa dalam cinta seseorang kecuali pengorbanan.
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya),( QS.Al Ahzab :23 )
Begitu pula cinta kita kepada manusia, kepada orang tua, pasangan hidup, anak-anak, sahabat dan lainnya. Kebahagiaan bagi pecinta sejati adalah saat ia mampu mempersembahkan kebahagiaan bagi orang yang dicintainya walaupun terkadang harus ditukar dengan sesuatu yang paling berharga yang ia miliki.
Seorang ibu yang sering kali tak peduli dengan keadaan dirinya asalkan anaknya bahagia adalah bentuk pengorbanan atas nama cinta. Seorang ayah bersusah payah bekerja menafkahi keluarganya adalah bentuk pengorbanan atas nama cinta
Cinta dan pengorbanan adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan satu sama lainnya, sayap bagi sang burung untuk menjelajahi cakrawala, angin yang menerbangkan serbuk sari pada sang bunga, embun yang menghadiahi pagi dengan kesegarannya dan ruh bagi raga yang dicipta-Nya.
Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki semangat pengorbanan. Seperti Rasulullah kepada Tuhannya.
Pentingnya JILBAB bagi kesehatan
Rasulullah bersabda, "Para wanita yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, lenggak-lengkok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tiada mencium semerbak harumnya (HR. Abu Daud)
Rasulullah bersabda, "Tidak diterima sholat wanita dewasa kecuali yang memakai khimar (jilbab) (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, bn Majah)
Penelitian ilmiah kontemporer telah menemukan bahwasannya perempuan yang tidak berjilbab atau berpakaian tetapi ketat, atau transparan maka ia akan mengalami berbagai penyakit kanker ganas di sekujur anggota tubuhnya yang terbuka, apa lagi gadis ataupun putri-putri yang mengenakan pakaian ketat-ketat.
Majalah kedokteran Inggris melansir hasil penelitian ilmiah ini dengan mengutip beberapa fakta, diantaranya bahwasanya kanker ganas milanoma pada usia dini, dan semakin bertambah dan menyebar sampai di kaki. Dan sebab utama penyakit kanker ganas ini adalah pakaian ketat yang dikenakan oleh putri-putri di terik matahari, dalam waktu yang panjang setelah bertahun-tahun. dan kaos kaki nilon yang mereka kenakan tidak sedikitpun bermanfaat dalam menjaga kaki mereka dari kanker ganas.
Majalah kedokteran Inggris tersebut pun telah melakukan polling tentang penyakit milanoma ini, dan seolah keadaan mereka mirip dengan keadaan orang-orang pendurhaka (orang-orang kafir Arab) yang di da'wahi oleh Rasulullah. Tentang hal ini Allah berfirman:
وإذ قالوا اللهم إن كان هذا هو الحق من عندك فأمطر علينا حجارة من السماء أو ائتنا بعذاب أليم (الأنفال: 32)
Dan ingatlah ketika mereka katakan: Ya Allah andai hal ini (Al-Qur'an) adalah benar dari sisimu maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih ( Q.S. Al-Anfaal:32)
Dan sungguh telah datang azab yang pedih ataupun yang lebih ringan dari hal itu, yaitu kanker ganas, dimana kanker itu adalah seganas-ganasnya kanker dari berbagai kanker. Dan penyakit ini merupakan akibat dari sengatan matahari yang mengandung ultraviolet dalam waktu yang panjang disekujur pakaian yang ketat, pakaian pantai (yang biasa dipakai orang-orang kafir ketika di pantai dan berjemur di sana) yang mereka kenakan.
Penyakit ini terkadang mengenai seluruh tubuh dan dengan kadar yang berbeda-beda. Yang muncul pertama kali adalah seperti bulatan berwarna hitam agak lebar. Dan terkadang berupa bulatan kecil saja, kebanyakan di daerah kaki atau betis, dan terkadang di daerah sekitar mata; kemudian menyebar ke seluruh bagian tubuh disertai pertumbuhan di daerah-daerah yang biasa terlihat, pertautan limpa (daerah di atas paha), dan menyerang darah, dan menetap di hati serta merusaknya.
Terkadang juga menetap di sekujur tubuh, diantaranya: tulang, dan bagian dalam dada dan perut karena adanya dua ginjal, sampai menyebabkan air kencing berwarna hitam karena rusaknya ginjal akibat serangan penyakit kanker ganas ini. Dan terkadang juga menyerang janin di dalam rahim ibu yang sedang mengandung. Orang yang menderita kanker ganas ini tidak akan hidup lama.
Dari sini, kita mengetahui hikmah yang agung berkaitan dengan anatomi tubuh manusia di dalam perspektif Islam tentang perempuan-perempuan yang melanggar batas-batas syari'at. yaitu bahwa model pakaian perempuan yang benar adalah yang menutupi seluruh tubuhnya, tidak ketat, tidak transparan, kecuali wajah dan telapak tangan. Dan sungguh semakin jelaslah bahwa pakaian yang sederhana dan sopan adalah upaya preventif yang paling bagus agar tidak terkena "adzab dunia" seperti penyakit tersebut di atas, apalagi adzab akhirat yang jauh lebih dahsyat dan pedih.
Kemudian, apakah setelah adanya kesaksian dari ilmu pengetahuan kontemporer ini -padahal sudah ada penegasan hukum syari'at yang bijak sejak 14 abad silam- kita akan tetap tidak berpakaian yang baik (jilbab), bahkan malah tetap bertabarruj???
Sumber: Al-I'jaaz Al-Ilmiy fii Al-Islam wa Al-Sunnah Al-Nabawiyah
Tidak Lemah, Bersedih Hati, dan Berputus Asa
Orang-orang beriman memiliki perjuangan berat dan panjang di jalan Allah. Jalan hidup mereka sering diserang musuh yang jumlahnya sangat banyak dan dengan peralatan yang lebih baik. Akan tetapi, sepanjang mereka berada di jalan Allah, mereka dapat mengatasinya.
Salah satu alasan bagi kemenangan mereka, sebagai orang beriman, mereka melakukan perjuangan dengan semangat dan kegembiraan yang besar. Inilah yang tidak dapat dilakukan oleh orang-orang yang ingkar karena mereka telah mencintai kehidupan dunia, mereka tidak beriman kepada Allah. Mereka takut dan lemah serta mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Sebaliknya, orang-orang beriman tidak mudah dilemahkan karena mereka tahu bahwa Allah selalu bersama mereka dan mereka berharap menjadi orang yang berhasil. Hal ini diterangkan dalam Al-Qur`an, “Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)
Walaupun demikian, orang-orang beriman membutuhkan ibadah untuk mendapatkan semangat dan kegembiraan ini, karena sangatlah mudah tergelincir dari jalan Allah. Inilah yang diperjuangkan iblis. Pada saat-saat genting, seorang munafik berkata kepada para Sahabat Rasulullah saw. “Hai
penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu,” (al-Ahzab:13)
lalu ia menciptakan keputusasaan serta menimbulkan perasaan kalah. Akan tetapi, orang-orangberiman telah diperingatkan dalam Al-Qur`an mengenai semua faktor keraguan ini, “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (ar-Ruum:60)
Orang yang beriman hanya bertanggung jawab kepada dirinya dan Allah serta tidak seharusnya terpengaruh oleh kelemahan yang lain. Kekuatan musuh pun tidak dapat memengaruhi dan membuatnya takut. Seluruh hidup orang beriman hanyalah untuk Allah. Mereka akan terus beribadah demi keridhaan-Nya sampai akhir hayat. Pada sebuah ayat dijelaskan, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139) “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (an-Nisaa`: 104)
Sumber : Yakinlah Allah Dekat Bersama Kita
Dhuha.net
Pahala Takut Kepada Allah
Dalam sebuah hadits Qudsi, ada riwayat mengenai balasan yang diberikan Allah kepada orang yang takut kepada-Nya.
Rasulullah saw bersabda,
“Ada seorang lelaki yang tidak pernah berbuat kebajikan sama sekali. Lelaki berwasiat kepada keluarganya, ‘Jika aku mati, maka bakarlah aku hingga lumat menjadi abu.
Kemudian, taburkanlah sebagian abu itu di daratan, dan sebagian lagi di laut. Demi Allah, jika Allah sampai menghisabku, pasti Dia akan mengazabku dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada seorang pun di alam semesta!’
Tatkala lelaki itu meninggal, keluarganya melaksanakan apa yang telah dia wasiatkan kepada mereka. Lalu, Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan abu yang disebar di daratan itu dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan debu yang disebar di lautan itu.
Kemudian, Allah SWT bertanya kepada lelaki itu (setelah dihidupkan kembali), ‘Mengapa kau lakukan ini?’
Lelaki itu menjawab, ‘karena aku takut kepada-Mu Tuhanku, dan Engkau lebih tahu itu.’
Allah SWT lalu mengampuninya.”
Kisah dalam hadits Qudsi ini begitu menggelitik dan penuh hikmah. Seseorang yang selalu berbuat maksiat dan tidak pernah beramal shalih sedikit pun, masih memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Keagungan Allah ada di depan matanya, sehingga dia takut akan hisab dan azab Allah atas perbuatannya di dunia.
Ketakutannya ini membuatnya berwasiat bodoh. Setelah mati, dia ingin mayatnya dibakar dan abunya disebar di daratan dan lautan. Dengan bagitu, dia berharap tidak akan bisa dihisab oleh Allah SWT. Dia ingin selamat dari azab Allah SWT. Dia yakin Allah itu ada. Dia pun yakin, hisab allah itu ada dan hisab itu menunggu setelah kematiannya. Dia ingin menyelamatkan dirinya dengan cara menyebar lumatan tubuhnya di darat dan di laut.
Namun, Allah Mahakuasa untuk tetap menghisabnya. Tidak ada yang luput dari hisab-Nya. Pada akhirnya, Allah mengampuni lelaki itu berkat rasa takutnya pada keagungan Allah SWT.
Hikmah yang dapat diambil dari kisah tadi adalah, sekecil apa pun keimanan dalam dada seseorang (yaitu keimanan akan adanya Allah, hisab, dan keadilan Allah) dapat mendatangkan ampunan dan rahmat Allah SWT. Bagaimana jika rasa takut kepada Allah itu dihadirkan setiap saat dengan disertai amal shalih? Tentu, pahala yang disediakan Allah, akan lebih besar dan agung.
Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman dan memberikan kabar gembira, “Dan ada pun orang-orang yang takut kepada keagungan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’aat : 40-41).
Rasulullah saw bersabda,
“Ada seorang lelaki yang tidak pernah berbuat kebajikan sama sekali. Lelaki berwasiat kepada keluarganya, ‘Jika aku mati, maka bakarlah aku hingga lumat menjadi abu.
Kemudian, taburkanlah sebagian abu itu di daratan, dan sebagian lagi di laut. Demi Allah, jika Allah sampai menghisabku, pasti Dia akan mengazabku dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada seorang pun di alam semesta!’
Tatkala lelaki itu meninggal, keluarganya melaksanakan apa yang telah dia wasiatkan kepada mereka. Lalu, Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan abu yang disebar di daratan itu dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan debu yang disebar di lautan itu.
Kemudian, Allah SWT bertanya kepada lelaki itu (setelah dihidupkan kembali), ‘Mengapa kau lakukan ini?’
Lelaki itu menjawab, ‘karena aku takut kepada-Mu Tuhanku, dan Engkau lebih tahu itu.’
Allah SWT lalu mengampuninya.”
Kisah dalam hadits Qudsi ini begitu menggelitik dan penuh hikmah. Seseorang yang selalu berbuat maksiat dan tidak pernah beramal shalih sedikit pun, masih memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Keagungan Allah ada di depan matanya, sehingga dia takut akan hisab dan azab Allah atas perbuatannya di dunia.
Ketakutannya ini membuatnya berwasiat bodoh. Setelah mati, dia ingin mayatnya dibakar dan abunya disebar di daratan dan lautan. Dengan bagitu, dia berharap tidak akan bisa dihisab oleh Allah SWT. Dia ingin selamat dari azab Allah SWT. Dia yakin Allah itu ada. Dia pun yakin, hisab allah itu ada dan hisab itu menunggu setelah kematiannya. Dia ingin menyelamatkan dirinya dengan cara menyebar lumatan tubuhnya di darat dan di laut.
Namun, Allah Mahakuasa untuk tetap menghisabnya. Tidak ada yang luput dari hisab-Nya. Pada akhirnya, Allah mengampuni lelaki itu berkat rasa takutnya pada keagungan Allah SWT.
Hikmah yang dapat diambil dari kisah tadi adalah, sekecil apa pun keimanan dalam dada seseorang (yaitu keimanan akan adanya Allah, hisab, dan keadilan Allah) dapat mendatangkan ampunan dan rahmat Allah SWT. Bagaimana jika rasa takut kepada Allah itu dihadirkan setiap saat dengan disertai amal shalih? Tentu, pahala yang disediakan Allah, akan lebih besar dan agung.
Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman dan memberikan kabar gembira, “Dan ada pun orang-orang yang takut kepada keagungan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’aat : 40-41).
Subscribe to:
Posts (Atom)
