Penulis memperhatikan bahwa pada sebagian besar masjid/musholla yang telah penulis kunjungi untuk melaksanakan sholat, senantiasa terdapat beberapa wanita yang melaksanakan sholat berjama’ah namun antar jama’ah wanita tersebut terdapat jarak/celah yang lebarnya bahkan sampai 1 (satu) meter. Terkadang bila sholat berjama’ah dan penulis bermaksud merapatkan shaf, maka jama’ah disebelah kanan/kiri malah semakin menjauhkan kaki mereka dari kaki penulis.
Kedua kondisi diatas membuat sedih penulis, karena dalam Islam pada saat melaksanakan sholat berjama’ah kita dianjurkan untuk senantiasa meluruskan shaf dan menutup celahnya (merapatkannya).
Hal tersebut berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha, dia bercerita : Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda :
“Sesungguhnya Allah dan Para Malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang menyambung barisan. Barang siapa menutupi kerenggangan (yang ada dalam barisan), niscaya dengannya Allah akan meninggikannya satu derajat.” (HR. Ibnu Majah,Ahmad, Ibnu Khuzaimah,Al-Hakim, dinilai Shahih oleh Adz-Dzahabi dan al-Albani).
Kemudian,
Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah Shollallahu’alayhi wa Sallam bersabda : “Hendaklah kamu benar-benar meluruskan shafmu, atau (kalau tidak;maka) Allah akan jadikan perselisihan di antaramu.” (Muttafaq ‘alayhi, Bukhari No. 717 dan Muslim No.436)
Hadits ini juga telah diriwayatkan oleh Abu Dawud No. 552 dan Ahmad (IV:276) dan dishahihkan oleh al Albani dalam ash Shahihah no.32 secara lengkap, setelah membawakan hadits di atas, maka Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu berkata :
“Maka saya (Nu’man bin Basyir) melihat seorang laki-laki (dari para Shahabat) menempelkan bahunya ke bahu yang ada disampingnya, dan lututnya dengan lutut yang ada disampingnya serta mata kakinya dengan mata kaki yang ada disampingnya).”
Pernyataan Nu’man bin Basyir ini juga telah disebutkan oleh Imam Bukhari didalam kitab Shahihnya (II:447-Fat-hul Bari).
Diriwayatkan pula Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah Shollallahu ’alayhi wa Sallam telah bersabda:
“Luruskanlah shaf-shafmu! Sejajarkan antara bahumu (dengan bahu saudaranya yang berada disamping kanan dan kiri), isilah bagian yang masih renggang, berlaku lembutlah terhadap tangan saudaramu (yang hendak mengisi kekosongan atau kelonggaran shaf), dan janganlah kamu biarkan kekosongan yang ada di shaf untuk diisi oleh setan. Dan barangsiapa yang menyambung shaf, pastilah Allah akan menyambungnya, sebaliknya barangsiapa yang memutuskan shaf; pastilah Allah akan memutuskannya.
(Shahih. Abu Dawud no:666, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al Hakim, Nawawi dan al Albani. Lihat : Fat-hul Bari (II:447) dan Shahihut Targhib Wat Tarbib no:492).
Sehingga bengkoknya shaf akan mengakibatkan permusuhan dan pertentangan hati, kekurangan iman dan hilangnya kekhusyu’an.
Sebagaimana lurusnya sebuah shaf termasuk (sebagian dari) kesempurnaan sholat, yang demikian itu diungkapkan di dalam sabda Rasulullah shollallaahu ‘alayhi wa Sallam,
“Karena lurusnya shaf itu sebagian dari kesempurnaan shalat.” (HR. Muslim).
Di dalam riwayat lain :
“Karena lurusnya shaf itu sebagian dari baiknya sholat”(HR. Al-Bukhari & Muslim).
Ukhty, Para Shahabat Radhiallahu ‘anhum sangatlah memperhatikan masalah merapatkan dan meluruskan shaf ini.
Diriwayatkan dari Umar bahwasanya ia menugasi beberapa orang laki-laki untuk merapikan shaf makmum, dan ia (Umar) tidak bertakbir untuk memulai sholatnya melainkan setelah dilaporkan oleh para petugasnya itu bahwa shaf telah rapi semua, begitulah juga diriwayatkan dari Ali dan ‘Utsman, bahwa keduanya dahulu biasa melakukan hal itu setiap sebelum memulai sholat, dan mereka berdua biasa berkata (sebelum memulai shalat); “Istawu (luruskan shafmu)” bahkan Ali berkata: “Wahai Fulan! Majulah,” (Dan berkata kepada yang lainnya:) ” Wahai fulan, mundurlah. (Lihat pula riwayat-riwayatnya di dalam kitab al Muwaththa’, Imam Malik : no. 234, 375, 376).
Ya Ukhty Muslimah, mari rapatkan dan luruskan shaf kita karena hal itu merupakan sunnah Nabi Shollallahu ‘alayhi wa sallam yang agung. Maka marilah kita menghidupkannya.
Merapatkan dan meluruskan shaf dilakukan dengan cara merapatkan bahu, lutut, dan mata kaki.
Semoga dengannya, Allah mengangkat derajat kita, menjauhkan perselisihan dan permusuhan di antara kita. Amiin…
Sumber :
1.Ensiklopedi Shalat menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Dr. Sa’id bin ’Ali bin Wahf al-Qahthani, Pustaka Imam Asy-Syafi’i , Hal 580-581
2.Ensiklopedi Mini Keutamaan Sholat Berjama’ah , Prof. Dr. Fadhl Ilahi , Salwa Press, Hal. 42
3.Pengaruh Shalat terhadap Iman dan Jiwa Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Husain bin ‘Audah al-’Awayisyah, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Hal. 18
4.Apa Kata Imam Syafi’i tentang Meluruskan dan Merapatkan Shaf Shalat, Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa, Pustaka Abdullah
Monday, 11 July 2011
Do’a Ummu Juraij
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Artinya: “Tersebutlah seorang ahli ibadah yang bernama Juraij, suatu ketika dia sedang membuat sebuah tempat peribadatan agar dapat berbadah di dalamnya. Suatu hari datanglah ibunya memanggilnya sedangkan dia dalam keadaan shalat. Ibunya berkata, “Ya Juraij!”. Juraij berkata, “Ya Allah! (aku dahulukan panggilan) ibuku atau sholatku,” kemudian dia melanjutkan shalatnya, hingga berkatalah ibunya pada hari ketiga untuk panggilan yang ketiga kalinya, kemudian ibunya berdoa, “Ya Allah janganlah dia (Juraij) meninggal sampai dia melihat wajah-wajah pelacur…”, begitu arti seterusnya sampai akhir hadits.
Ummu Juraij dalam hal ini telah mendoakan Juraij (dan doa orang tua mustajab) ketika Juraij tidak kunjung memenuhi panggilannya, dia mendoakan keburukan yang akan menimpanya, yaitu (sebelum Juraij meninggal) dia melihat wajah-wajah pelacur. Jadi, melihat wajah pelacur adalah musibah, bahkan merupakan musibah yang besar.
Mata berzina dan zinanya dengan melihat, lidah berzina dan zinanya berkata, dan tangan berzina dan zinznyz dengan meraba, sebagaimana di dalam hadits: “Ditulis keburukan atas anak Adam ketika dia memperoleh bagiannya dari zina, dia akan mendapatkannya tanpa bisa lari darinya; kedua mata zinanya dengan memandang, kedua telinga zinanya dengan mendengar, lidah zinanya dengan berbicara, tangan zinanya dengan meraba, dan kaki zinanya dengan melangkah, sedangkan hati zinanya dengan berangan-angan dan berharap-harap.” (HR. Muslim)
Akan tetapi sangat disayangkan kebanyakan dari orang tua, mereka berlomba-lomba untuk menjatuhkan putra-putri mereka dan belahan hati mereka agar jatuh ke dalam jurang musibah ini, yaitu melihat wajah para pelacur dan yang menyerupai mereka!! Bahkan lebih dari itu! Alasan sebagian orang tua tersebut; tidak lain hanya untuk memenuhi keinginan anak-anak!! Wajah-wajah pelacur dan yang menyerupai mereka dalam sikap dan tindakan terlihat siang dan malam, di sampul-sampul majalah yang lux dan di layar kaca?!
Bahkan permasalahan tidak sebatas melihat wajah saja, akan tetapi lebih jauh dari itu!!! Hingga melihat wajah dan seluruh anggota tubuh mereka! Ditambah lagi menelusuri dan mengikuti perkembangan aktivitas dan acara mereka, mengagunggakn dan mengidolakan mereka. Kadang mengatasnamakan seni, kadangkala mengatasnamakan kemajuan, dan tak jarang mengatasnamakan modernitas dan pada kesempatan lain mengatasnamakan keterbukaan dan kebebasan!
Wahai para orang tua! Sampai kapan Anda mendorong putra putri Anda agar terjatuh ke dalam jurang kehancuran ini?! Apakah Anda tidak pernah mendengar sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam kita yang mulia, “Setiap kalian pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas bawahannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Jadilah Anda (semoga Allah ‘Azza Wajalla menjaga Anda dari semua keburukan dan kejahatan perbuatan Anda) sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik penanggung jawab, hingga memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamatan di sisi Allah Ta’ala pada hari kiamat.
Wallahul musta’an..
Oleh: Sa’ad bin Muhammad al-Abdullathif (majalah Al-Ashalah No. 09 hal.62)
Thursday, 7 July 2011
Semoga Cinta Ini Hanya Karena Allah ^_^
Dalam hadist yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dikisahkan.
Ada seorang sahabat yang berdiri disamping Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Sallam,
lalu seorang sahabat lain lewat dihadapan keduanya.
Orang yang berada disamping Rasulullah itu tiba-tiba berkata „
Ya Rasulullah, aku mencintai Dia.“
"Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya ?“,
tanya Rasulullah. "belum" jawab orang itu.
Rasulullah berkata, "Nah, kabarkanlah kepadanya !“.
Kemudian orang itu segera berkata kepada sahabatnya.
"Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah. “
Dengan serta merta orang itu menjawab,
'Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya “. (HR. Abu dawud)
Rasulullah sering menganjurkan para sahabat untuk menyatakan rasa kasih
sayang terhadap sahabat lainnya.
Suatu ketika Beliau bersabda,
"apabila seorang muslim mencintai saudaranya (karena Allah)
hendaklah dia memberitahukan (kepadanya) “ (HR. Abu dawud dan Tarmidzi)
Islam membimbing kita agar mengutarakan perasaan cinta ini
dengan terus terang yaitu uhibbuka
fillah atau uhibbuki fillah. Ungkapan ini
membedakan antara cinta yang dilandasi iman dengan cinta yang berdasarkan syahwat.
Manakala seorang muslim menerima perkataan ini maka ia hendaknya menjawab
Ahabbakallah lima ahbabtani iyyahu (semoga Allah mencintai anda disebabkan kecintaan anda kepadaku kepada Dia). Dan.........................................
Bismillahirrahmanirrahim......
Ya ALLAH
atas nama-Mu dan keridhoan-Mu
aku mencintainya............... :) akan q serahkan cintaku kepadanya, hanya melalui-Mu,
wahai Dzat yang Maha Mencintai...
karena q mencintainya,karena-Mu..... dengan kebesaran-Mu...
yang engkau telah memberikanku mata untuk melihatnya...
telah memberikanku pikiran untuk bisa memikirkanya....,
telah memberikanku mulut untuk berkata-kata baik kepadanya...
telah memberikanku tangan untuk selalu membantunya..
dan telah memberikanku hati untuk mencintainya........
maka jagalah rasa cinta ini agar tak lepas dari koridor ketetapan-Mu ya Rabb..
pertemukanlah kami hanya dalam kehalalan-Mu.....
jangan biarkan syetan mengusik hati dan fikiran kami sehingga jauh dari- Mu.....
karena aku mencintainya bukan dengan mata ataupun pikiranku
tapi dengan hatiku yang takut kepada-Mu.............
Bismillahirrahmanirrahim...
Allahumma innaka ta’lamu sirri wa ‘allaniyati faqbal ma’zirati.
Subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yasifuna wa salamun ‘alal mursalina wal hamdulillahi rabbil ‘alamina
Wednesday, 6 July 2011
''Bercinta Sampai Ke Syurga....."
Assalamu'alaykum.
bicara cinta lagi....
memang enggak akan pernah habis.
''Disini ku berjanji ...
Disaksikan bulan dan bintang...
Andaikan ku pergi dulu sebelummu...
Jikalau ku pergi dulu...
Ku menantimu di pintu Syurga ...
pasangan yg bercinta . mereka mencari syurga . semestinya jalan yg di tempuh juga harus jalan yg telah di sediakan oleh pemilik syurga ,
''pasangan yg bercinta ,
mereka mencari syurga ,
mencari bahagia ...
dan kepuasan santapan jiwa .
biar runtuh awan dilangit ,
biar guntur menggegar bumi ,
lautan api sanggup direnangi..
atas nama cinta sanggup di lakukan..
itulah kekuatan gelora cinta .
atas nama pengorbanan demi bahagia...
tiada insan yg sengaja mencari derita..
seperti ikan mencari air .
sidahaga mendamba seteguk minum
mata yg mengantuk mencari bantal .
demikianlah setiap insan merengkuh cinta...
demi sesuatu atas nama cinta yg menjanjikan bahagia..
namun disa'at asyiknya manusia bercinta ,
dikala itu jugalah manusia semakin derita oleh cinta.
dan bersambung......
insya Allah.......................
bicara cinta lagi....
memang enggak akan pernah habis.
''Disini ku berjanji ...
Disaksikan bulan dan bintang...
Andaikan ku pergi dulu sebelummu...
Jikalau ku pergi dulu...
Ku menantimu di pintu Syurga ...
pasangan yg bercinta . mereka mencari syurga . semestinya jalan yg di tempuh juga harus jalan yg telah di sediakan oleh pemilik syurga ,
''pasangan yg bercinta ,
mereka mencari syurga ,
mencari bahagia ...
dan kepuasan santapan jiwa .
biar runtuh awan dilangit ,
biar guntur menggegar bumi ,
lautan api sanggup direnangi..
atas nama cinta sanggup di lakukan..
itulah kekuatan gelora cinta .
atas nama pengorbanan demi bahagia...
tiada insan yg sengaja mencari derita..
seperti ikan mencari air .
sidahaga mendamba seteguk minum
mata yg mengantuk mencari bantal .
demikianlah setiap insan merengkuh cinta...
demi sesuatu atas nama cinta yg menjanjikan bahagia..
namun disa'at asyiknya manusia bercinta ,
dikala itu jugalah manusia semakin derita oleh cinta.
dan bersambung......
insya Allah.......................
... " Di Tepi Kesetiaan " ...
Fathimah mengenang ketika suaminya, Umar ibn 'Abdul 'Aziz mulai memegang amanah kekhalifahan. "Mungkin ada orang lain yang lebih banyak shalat dan ibadahnya daripada Umar," kata Fathimah, "Tapi aku belum pernah menyaksikan orang yang lebih takut kepada Allah daripadanya."
Pengangkatannya menjadi Amirul Mu'minin memang menjadi sebuah jungkir balik hidup yang dahsyat bagi Umar. Seorang sahabatnya menyaksikan ketika di hari-hari ia memangku jabatannya, Umar memegang sehelai kain seharga 3 dirham dan berkomentar, "Ini terlalu halus untukku!" Sang sahabat tersenyum. Tapi tak terasa, air matanya meleleh deras.
"Mengapa kau tersenyum?" tanya Umar. Sahabatnya itu menerawang ke arah lain sambil menghela nafas. "Aku ingat saat kau masih seorang pemuda di Madinah," katanya. "Kau menganggap ringan terlambat shalat berjama'ah karena masih sibuk menyisir rambut. Dan kau..." Sahabatnya itu tersenyum lagi, sambil geleng-geleng kepala seolah geli. "Kau pernah mengatakan saat itu bahwa kain seharga 3.000 dirham terasa sangat kasar. Lihat dirimu sekarang! Kau katakan kain seharga 3 dirham sebagai terlalu halus."Umar ikut tersenyum. Matanya kaca. Fathimah pun mengenang ketika sekali waktu Umar duduk di sampingnya kemudian berbisik lembut kepadanya, "Engkau pasti tahu dari mana ayahmu memberimu permata yang kau pakai ini. Oleh sebab itu, apakah engkau keberatan bila permata ini kita taruh dalam sebuah kotak lalu kita masukkan ke Baitul Maal?"
Fathimah terhenyak. Ia menatap lelaki yang amat dicintainya itu. Dirabanya permata yang menggantung di lehernya itu. Permata itulah satu-satunya perhiasannya yang masih tinggal. Ia sangat menyayanginya. Permata yang penuh kenangan. Permata itu hadiah dari ayahnya yang sekaligus paman Umar, Khalifah 'Abdul Malik ibn Marwan di hari pernikahan mereka.
"Terlebih dahulu," kata Umar, "Aku akan membelanjakan simpanan Baitul Mal yang lain, dan kalau sudah habis barulah akan kugunakan permata itu untuk kepentingan kaum muslimin."
Fathimah akhirnya tersenyum. Dibukanya pengait kalungnya. Diserahkannya permata itu ke genggaman suaminya. Dan Umar, dengan tubuhnya yang kini kurus, memeluknya tanpa kata. Mesra, dan lama. Fathimah tahu artinya. Seolah-olah ia mendengar suara lembut Umar, "Terima kasih atas kesetiaanmu padaku di jalan yang mendaki lagi sulit ini. Semoga Allah mempersatukan kita dalam kehidupan yang lebih indah di sisiNya."
Kelak, ketika Umar wafat dan adik Fathimah yang bernama Yazid ibn 'Abdul Malik menggantikannya sebagai Khalifah, ujian kesetiaan itu datang. Yazid yang tahu perhiasan kesayangan kakaknya membawa kembali permata itu. Dengan penuh sayang, diletakkannya permata itu di genggaman tangan kakaknya. Fathimah menggeleng sambil tersenyum. "Aku telah menjauhinya ketika Umar masih hidup. Bagaimana mungkin aku berdekat-dekat dengannya ketika Umar telah tiada?" begitu katanya.
Dari Buku Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang
Subscribe to:
Posts (Atom)
