Saturday, 31 December 2011

..**Nasib Pembenci Al Qur’an, (Tafsir QS Muhammad [47]: 8-9)**..


Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.
Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Alquran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka (TQS Muhammad [47]: 8-9).
Alquran diturunkan sebagai petunjuk dari Allah SWTbagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Barangsiapa yang mengimani dan mengamalkannya secara kaffah, kebahagiaan di dunia dan akhirat akan didapat. Sebaliknya, siapa pun yang mengingkari, apalagi membencinya, akan mengalami nasib menyedihkan.
Ayat ini adalah di antara yang memberitakan nasib yang dialami kaum kafir yang membenci Alquran.
Celaka dan Disesatkan Amalnya
Allah SWT berfirman: Wa al-ladzîna kafarû fata’s[an] lahum(dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka).Dalam ayat sebelumnya diberitakan mengenai balasan dan anugerah bagi orang-orang yang mau menolong agama-Nya. Allah SWTakan menolong dan meneguhkan kedudukanorang-orang yang menolong agama-Nya. Yakni orang-orang yang bersedia tunduk, terikat, dan mengamalkan perintah dan larangan-Nya.
Kemudian dalam ayat ini diberitakan mengenai nasib orang-orang yang bersikap sebaliknya:al-ladzîna kafarû. Yakni orang-orang yang mengingkari sebagian atau seluruh perkara keimanan. Balasan yang bakal mereka terima adalah: fata’s[an] lahum.
Menurut al-Syaukanidan al-Qinuji, makna asal kata al-ta’s adalah al-inhithâth wa al-‘itsâr(kemerosotan dan kebinasaan). Dalam konteks ayat ini, ada beberapa penafsiran yang dikemukakan oleh ulama. Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Juraij menafsirkannya bu’d[an] lahum(menjadi laknat terhadap mereka). Menurut al-Sudi, khuzn[an] lahum (kesedihan bagi mereka). Ibnu Zaid berkata, syaqâ`[an] lahum (kesengsaraan dan kemalangan bagi mereka). Al-Hasan memaknainya sebagai syatm[an] lahum minal-Lâ(cacian dari Allah kepada mereka)Tsa’lab mengartikannyahalâk[an] lahum (kehancuran, kebinasaan bagi mereka). Al-Dhahhak berkata, khaybat[an] lahum (kegagalan bagi mereka). Demikian pemaparan al-Qurthubi dalam tafsirnya. Ibnu Jarir al-Thabari menggabungkan beberapa panfsiran tersebut, yakni hizy[an] lahum wa syaqâ` wa balâ(kehinaan, kesengsaraan, dan bencana bagi mereka).
Kata al-ta’s juga digunakan dalam sabda Rasulullah SAW: Ta’isu ‘abd al-dînâr wa al-dirhâm wa al-qathîfah wa al-khamîshah, in u’thiya radhiya wa in lam yu’thâ lam yardha(kecelakaan bagi hamba dinar, dirham, sutra, dan gamis. Apabila diberi, dia ridha. Dan apabila tidak diberi, dia tidak ridha, HR al-Bukhari dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).
Dijelaskan Fakhruddin al-Razi dalam Mafâtîh al-Ghayb, ayat ini merupakan tambahan untuk menguatkan hati kaum Mukmin. Ketika dalam ayat sebelumnya disebutkan: wa yutsabbit aqdâmahum (dan Dia meneguhkan kedudukanmu), maka ada kemungkinan muncul anggapan bahwa orang kafir bisajatuh dan teguhuntuk beperang. Sehingga dalam peperangan, terjadi saling bunuh, saling serang, saling tikam, dan saling pukul. Maka muncullah kesulitan besar. Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa kalian (orang-orang Mukmin) memiliki keteguhan. Sebaliknya mereka (orang-orang kafir) itu musnah, berubah, dan binasa, sehingga tidak ada keteguhan mereka. Penyebabnya jelas, tuhan-tuhan mereka adalah benda mati yang tidak mempunyai kekuatan dan kemampuan berhadapan dengan Dzat yang memiliki kekuatan. Maka tuhan-tuhan mereka itu tidak berguna untuk mencegah dan membatalkan keputusan Allah SWT atas mereka, yakni kehancuran.
Di samping itu juga: Wa adhalla a’mâlahum (dan Allah menyesatkan amal-amal mereka). Kata al-dhalâberartial-‘udûl ‘an al-tharîq al-mustaqî(menyimpang dari jalan yang lurus). Kebalikannya adalah al-hidâyah (petunjuk). Demikian al-Raghib al-Asfagani. Menurut Ibnu Jarir al-Thabari, frasa ini berarti Allah menjadikan amal mereka dilakukan tapa petunjuk dan istiqamah. Sebab, amal mereka dilakukan karena ketaatan terhadap syetan. Bukan ketaatan kepada al-rahman.Al-Syaukani dan al-Jaiziri menafsirkan frasa ini sebagaiabthlahâ waja’alahâ dhâi’at[an] (menjadikannya sia-sia dan lenyap).
Dikemukakan Fakhruddin a-Razi, ayat ini memberikan isyarat yang menjelaskan tentang perbedaan nasib orang-orang kafir yang telah mati dengan orang-orang Mukmin yang terbunuh (dalam medan peperangan). Mengenai orang-orang Mukmin tersebut,Allah SWT berfirman: Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka (TQS Muhammad [47]: 4). Sedangkan terhadap orang-orang kafir yang mati, Allah SWT menghapus dan melenyapkan semua amalnya.
Karena Membenci Alquran
Setelah diberitakan mengenai hukuman bagi kaum kafir, dalam ayat berikutnya dijelaskan perkara yang menjadi penyebabnya. Allah SWT berfirman: Dzâlika bi annahum karihû mâanzalal-Lâh lahum (yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah [Alquran]). Kata dzâlikamerupakan isyârah yang merujuk kepada kalimat sebelumnya, yakni kecelakaan dan lenyapnya amal orang-orang kafir. Sedangkan frasa bi annahum memberikan makna sebab. Artinya, semua kejadian yang menimpa mereka itu disebabkan sikap mereka: karihû mâ anzalal-Lâh lahum.
Menurut Ahmad Mukhtar dalam Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, kata kariha al-syakhsh fi’l al-sûberarti maqatahu, walam yuhibbuhu, abghadhahu (membenci dan tidak menyukainya).       Sedangkan yang dimaksud dengan mâanzalal-Lâh lahum dalam ayat ini adalah Alquran, beserta semua isinya, baik dalam perkara aqidah maupun syariah.
Telah maklum bahwa Alquran diturunkan sebagai hud[an] (petunjuk), syifâ(obat),danrahmah (kasih sayang). Juga mengeluarkan manusia min al-zhulumât ilâ al-nû(dari kegelapan menuju cahaya). Di dalam Alquran pula penjelasan haq dan batil, halal dan haram, tata cara ibadah, dan sebagainaya. Pendek kata, Alquran merupakan petunjuk hidup yang benar bagi seluruh manusia.
Oleh karena itu, ketika Alquran diingkari, apalagi dibenci, pelakunyadipastikan tidak akan bisa mengerjakan ibadah dan amal shalih lainnya dengan benar. Sebab ketentuan ibadah dan amal shalih bukan berdasarkan akal, namun oleh syara’ yang bersumber dari Alquran.
Kebencian terhadap Alquran yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang tauhid, akan membuat pelakunya menegasikan tauhid dan lebih memilih syirik. Sementara syirik menkadi penyebab terhapusnya pahala. Allah SWT berfirman: Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu(TQS al-Zumar [39]: 65).
Alquranjuga berisi berita tentang akhirat. Orang yang mengingkari dan membencinya, tentulah tidak akan beramal untuk akhirat. Semuanya dikerjakan untuk mengejar dan meraih kenikmatan dunia. Karena itu dicari, maka wajar saja jika mereka tidak berhak mendapatkan bagian di akhirat.
Allah SWT pun berfirman: Faahbatha a’mâlahum(lalu Allah menghapuskan [pahala-pahala] amal-amal mereka). Kata habitha al-‘amal berarti habatha, fasada, bathala, dzahaba, suda[n] (terhapus, rusak, batal, lenyap, sia-sia). Sehingga makna ahbatha-Lâh al-‘amal adalah Allah membatalkan dan melenyapkan pahalanya. Demikian penjelasan Ahmad Mukhtar. Makna itu pula yang terdaapt dalam ayat ini.
Menurut al-Qinuji, yang dimaksud dengan amal di sini adalah amal yang terlihat secara kasat mata sebagai amal kebaikan meskipun pada asalnya tetap batil. Sebab, amal orang kafir tidak diterima sebelum keislaman mereka. Tak jauh berbeda, al-Thabari juga menjelaskan bahwa Allah SWT telah membatalkan amal yang mereka kerjakan di dunia. Ditegaskan pula olehnya, ketentuan ini berlaku untuk semua orang kafir.
Mengenai terhapus dan sia-sianya amal perbuatan orang juga ditegaskan dalam banyak ayat, seperti QS al-A’raf [7]: 147). Juga dalam al-Baqarah [2]: 217, Ali Imran [3]: 21-22, al-Maidah [5]: 5 dan 53, al-An’am [6]: 88.
Demikianlah nasib yang menimpa kaum kafir. Mereka mendapatkan kehinaan, kekalahan, kesengsaraan, dan penderitaan selama-lamanya. Semua amal yang dikerjakan sia-sia, lenyap, dan tidak berguna sedikit pun bagi mereka. Semua itu disebabkan karena kekufuran mereka, terutama kebencian mereka terhadap Alquran beserta ajarannya, baik sebagian atau seluruhnya.
Ancaman ayat ini seharusnya membuat para pengidap Islam phobiasegera sadarJuga mereka yang suka menyebarkan kebencian dan sikap antipati terhadap Islam, syariah, jihad dengan makna yang sebenarnya (yakni perang di jalan Allah), dan daulah khilafah seraya menuduh para pejuangnya sebagai penganut radikalisme dan fundamentalisme, bahkan pelaku terorisme yang harus dibasmi. Umat Islam haruswaspada dan tidak boleh terpedaya oleh propaganda busuk mereka yang dapat menggelincirkan kita dan mengekor sikap mereka yang benci terhadap Islam. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.
Ikhtisar:
1.      Nasib orang kafir akan hina, celaka, dan sengsara. Amal mereka juga terhapus dan sia-sia.
2.      Perkara yang menjadi penyebab penderitaan kaum kafir itu adalah kebencian mereka terhadap Alquran

..**Catatan kecil buat Ibu, calon Ibu dan anak Ibu**..


22 Desember di Indonesia diperingari sebagai Mother’s Day – Hari Ibu. Kita nggak tau darimana datengnya itu, yang jelas seharusnya Hari ibu bukan alasan untuk baik pada ibu pada satu hari aja, katena mereka layak mendapatkan itu dari kita setiap harinya.
Jadi Hari Ibu seharusnya bukan ajang ‘pamer’ perhatian pada ibu pada satu hari saja, namun lebih kepada pengingat bagi ibu dan bagi anak-anak ibu untuk menghormati dan memuliakan posisi sebagai seorang ibu.
Maka setidaknya ada hal-hal yang harus diingat oleh ibu dan calon ibu:

1. Islam memandang ibu adalah pendidik utama anak

Dalam hadits disebutkan: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Ibumu,” jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya orang itu lagi. “Kemudian ayahmu,” jawab Rasulullah (HR. Bukhari dan Muslim)

Disini ibu disebutkan Rasulullah 3x baru ayah 1x. Kalau boleh mengambil permisalan, maka seharusnya ibu punya tanggung jawab 3x lipat dari ayah. Ibulah yang mendidik anak-anaknya dalam porsi yang lebih besar. Semakin baik kualitas ibu, semakin baik generasi yang dihasilkan.

2. Islam menaruh ibu sebagai orang nomor satu ditaati setelah Allah dan Rasul-Nya

Posisi ini juga bukan posisi yang sembarang, ini posisi yang sangat mulia. Islam lewat ‘birrul walidain’menggariskan bahwa posisi orangtua adalah paling tinggi setelah Allah dan Rasul-Nya. Dan ketaatan pada mereka disamakan dengan ketaatan pada Allah, dan murka mereka sama seperti murka Allah.

Dalam kenyataan, masih banyak kita temukan orangtua, terutama ibu yang justru melarang anaknya berbuat baik, bahkan mensponsori keburukan. Melarang anaknya berkerudung dan berjilbab, melarang anaknya berdakwah dan berjuang dalam Islam, atau bahkan meminta anaknya berpacaran.

Bayangkan, bagaimana yang terjadi pada generasi Islam bila orangtuanya semacam ini? Subhanallah.

Seharusnya sebagai orang yang paling ditaati setelah Allah dan Rasulullah, ibu menjadi tiang utama dalam mengajarkan amar ma’ruf dan nahi munkar bagi anaknya. Menjadi teladan hidup bagi anak-anaknya dalam perjuangan Islam.

3. Ibu lebih memerlukan ilmu dalam mendidik anak-anaknya, karena itu ibu harus lebih banyak ikutan majelis ta’lim (majelis ilmu)

Anak akan menyerap apapun yang dikatakan ibunya, karena ibunya adalah patron baginya. Ada ibu-ibu yang beralasan pada saya bahwa dia terlalu sibuk, terlalu banyak kerjaan untuk mengikuti majelis ta’lim dan mengkaji Islam.

Justru sebaliknya, semakin banyak kita memiliki anak, maka semakin banyak ilmu yang perlu kita siapkan. Dan ilmu tidak mungkin ada tanpa kita cari dan kita kaji.

Membesarkan anak tanpa ilmu sama saja menuntunnya ke depan jurang kehidupan. Dan mencari ilmu dalam mendidik anak (walaupun sulit), akan memudahkan urusan kita di alam kubur nantinya.

4. Sayang sekali, sekarang banyak ibu yang lebih sayang kambing daripada anaknya, kambingnya diiket, anaknya dibiarin

Coba lihat menjelang Idul Adha. Kambing diikat dimana-mana, takut kehilangan. Ironisnya, ibu-ibu sering membiarkan anaknya bermain tanpa pengawasan, dan akhirnya mempelajari hidup bukan dari ibunya, tetapi dari teman-temannya. Balik rumah syukur, nggak balik ya buat lagi.

Ada juga orangtua yang sibuk ikut majelis ta’lim namun tak perhatian pada anaknya. Mereka lupa bahwa ilmu bukanlah simpanan, namun sesuatu yang harus dibagikan. Mreka puas ketika menutup aurat, namun bangga ketika anaknya mengumbar aurat. Banyak yang seperti itu bisa kita lihat pada umat Islam masa kini.

Lebih parah lagi ketika ibu menyuruh anaknya berbuat baik, namun tidak mencontohkan dengan dirinya. Meminta anaknya menutup aurat di sekolah, namun ia menjemput anaknya dengan tanktop. Seperti lilin, menerangi orang lain tapi membakar diri sendiri.

Rupanya banyak ibu yang melupakan bahwa untuk melahirkan anak itu perlu perjuangan luar biasa selama 9 bulan 10 hari ditambah fase melahirkan. Kebanyakan ibu memberikan perhatian di awal-awal saja, padahal pendidikan kepada anak itu terus berlanjut hingga mereka baligh, bahkan sampai salah satu darinya meninggal.

5. Buat ibu-ibu yang berkarir, “is it worthed?” sekian juta sebagai pengganti waktu dengan buah hati?

Bila kita menanyakan “Siapa ibu de-facto anak-anak masa kini?”. Mungkin ‘pembantu’, ‘babysitter’adalah jawaban yang tepat. Anak-anak main dengannya, tidur dengannya, bercengkerama dengannya, disuapi makan olehnya dan bahkan disusui olehnya. Dengan alasan nafkah (yang sebenarnya bisa kalau diusahakan) mereka menerjunkan diri pada dunia kerja yang tak berkesudahan. Pergi saat buah hati masih tidur, dan pulang ketika mereka telah tidur.

Jangan salahkan pembantu dan babysitter ketika anaknya nantinya justru menangis saat ditinggal pembantu atau babysitter daripada ditinggal ibunya.

Saya meminta istri saya tetap dirumah mengurus rumah dan anak. Salah satu alasan yang paling kuat adalah; saya nggak mau ketika anak saya telah dewasa, dan seandainya dia tidak seperti yang saya harapkan, lalu saya dan istri terucap “Coba dulu kita menghabiskan waktu lebih banyak untuk dia (anak)!”

Maksimal mendidik anak bukan masalah materi. Tapi masalah ilmu yang kita berikan untuk dia. Jangan sampe nyesel dibelakang karena nggak memberikan pendidikan yang maksimal.

Ala kulli hal, bagi ibu-calon ibu-dan anak-anaknya. Patut kiranya kita mengetahui bahwa jasa ibu tak akan dapat dibalas oleh anak-anaknya. Simak hadits berikut:

Suatu ketika Rasul ditanya oleh seseorang : “ Ya Rasul, sunnguh saya telah menggendong ibu saya sejauh 2 farsakh (9,6 kilometer) di jalan berpasir yang terik, andai atas pasir itu diletakkan sepotong daging niscaya matang daging itu. Apakah dengan begitu saya telah menyampaikan rasa terima kasih saya kepadanya ? “, Nabi menjawab, “Mungkin hal itu baru bisa membalas sedikit rasa sakitnya saat bunda melahirkanmu” (HR Thabrani )

Semoga sayang kita kepada kedua orangtua khususnya ibu menjadi lebih termaknai, dan semoga persiapan menjadi ibu serta mendidik anak semakin baik.