Sunday, 1 January 2012

..**Istriku, Sang Pesona Bintang**..

Mengenang ibunda kaum Muslimin, Khadijah. Perempuan yang pesonanya senantiasa menerangi langit zaman. Bintang yang sinarnya tak pernah redup meski terus digosok waktu.

Telah tergaris takdir bahwa dibutuhkan seorang Khadijah untuk menemani Rasulullah memulai misi kenabian. Saat wahyu pertama turun di Gua Hira, berat terasa oleh Sang Rasul, seperti seluruh tanggung jawab dunia dipikulkan di pundaknya. Pulanglah beliau ke rumah dengan keringat bercucuran. Rasa takut tak terperi menyergap hingga wajahnya pucat pasi. Tanpa banyak tanya, Khadijah, perempuan mulia dengan segudang keanggunan itu mendekap lembut suaminya, menjalarkan gelombang ketenangan yang menjadi modal untuk kesuksesan suaminya di fase-fase perjuangan selanjutnya.

“Ia beriman padaku saat yang lain ingkar, ia berikan hartanya saat yang lain pelit,” begitu beliau menjelaskan saat Aisyah cemburu tentang keutamaan Khadijah. Bayangkan, saat yang lain mencibir, menghina, menolak, saat itulah Khadijah hadir, tidak hanya untuk mendengar dan menerima, tapi juga ikut berjuang bersama Rasulullah. Maka wajar bila posisi Khadijah di hati Sang Nabi tidak pernah tergantikan. Pesonanya terus membekas, bahkan setelah lama Khadijah meninggal.

Begitulah pesona bintang, ia terasa meski tak terlihat, meski tak bersama. Bintang, itulah dia yang terus diingat-ingat, kenangan tentangnya terus terbayang. Maka ketika seorang teman menggoda saya dengan bertanya, “Ga takut kecantol cewek Eropa, nih?” Saya tersenyum, lalu menghadirkan kenangan di depan debur ombak Kuta malam itu, dua hari setelah saya menikah. Pada istri saya bilang, “Aku telah memilih seseorang untuk menjadi bintang dalam hidupku, dan itu adalah kamu. Maka teruslah kamu menjadi bintangku. Kamulah bintang di langit hatiku….”

Jadi, bukannya tidak ada orang lain yang lebih cantik, lebih tampan, atau lebih keren. Hanya saja, ketika kita telah memutuskan seseorang untuk menjadi bintang di langit hati kita, dan kita memang mempertahankannya sebagai bintang, pesona milik orang lain bukanlah sesuatu yang harus dipusingkan.

..**Suamiku, Pahlawan Keluargaku**..


Hidup bagi sebagian orang tidak selalunya mudah untuk dilalui. Rentetan tanggung jawab akan kebutuhan batin dan lahir, seakan terus mendesak. Desakan tanggung jawab itu mengharuskan mereka untuk tetap bertahan dan tak boleh sama sekali mengeluh, walau batin mereka ada kalanya tidak selaras lagi dengan keadaan.

Dan untukmu para istri, saksikanlah bahwa mereka itu adalah suamimu, pahlwan keluargamu.
Maka hargailah kerja keras mereka, wahai para istri yang sholihah. Lihatlah betapa mereka telah memberikan seluruh yang mereka punya untukmu dan tetap tegaknya kehormatan dirimu dan keluargamu. Ciumlah tangan pemberi kasih sayang bagimu dan pahlawanmu itu, dan ucapkanlah terimakasih, walau dalam keadaan apapun situasi tentang hatimu. 

Maka hiburlah mereka, wahai para istri yang cantik. Sungguh, tugas dan kewajiban mereka menjaga, memulyakan dan memenuhi kebutuhanmu, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Lihatlah betapa suamimupun seakan begitu sulit walaupun hanya untuk sekedar meluangkan waktu bagi diri mereka sendiri, untuk benar- benar merasa lega karena tertawa gembira. Gembira karena seakan terlepas dari beban hidup dan tanggung jawab mereka atas dirimu dan keluargamu.

Maka bahagiakan mereka, wahai para istri calon bidadari surga. Berilah mereka jeda waktu untuk sekejab meletakkan keletihan mereka dipundakmu. Lihatlah betapa sebenarnya rapuh mereka tanpa ada dorongan semangat darimu. Rasakanlah tentang kebutuhan mereka untuk mendapat kehangatan dalam kasih sayang di rumahmu.

Maka temanilah mereka, wahai para istri yang setia. Pastikanlah kau menjadi hadiah terindah bagi segala peluh dan kepenatan  hidup mereka. Pastikan mereka tidak merasa kesepian, dan hanya sendiri melewati segala kesulitan dalam penanggungan beban serta kejenuhan hidup ini, sendiri.  

Merekalah yang mengangkat kehormatanmu, menjauhkanmu dari sebuah meminta, dan mencukupkan kebutuhanmu agar kau selalu merasa tercukupi, dan mendamaikan batinmu dengan perlindungannya. Dan jika mereka adalah ibarat sebuah kepala, maka kaulah wahai istri yang sholihah, yang menjadi leher penopang atas mereka.

Katakanlah kepada mereka...
Mulialah Engkau para suami dan para lelaki yang menghabiskan waktu dan hidup anda demi menjadi sumber bagi kedamaian dan kebahagiaan istri dan anak- anaknya.

Mulialah engkau bagi para pemikul tanggung jawab yang merelakan separuh sifat kemanusiawiannya hilang. yaitu, yang tetap menguatkan diri untuk tidak bersedih saat anggota keluarga yang lain bersedih, yang merelakan waktu istirahatnya habis, demi kenyamanan tidur keluarganya. Yang tetap harus tetap tegar walaupun sebenarnya dirinya sendiri sudah sangat rapuh, demi menopang kedamaian keluarga untuk selalu hidup dalam sebuah terpenuhi.
Semoga Allah selalu mencurahkan kebahagiaan bagi para suami penopang tanggung jawab, dan pemikul tanggung jawab yang sangat berat.

Dan untukmu wahai para istri, saksikanlah bahwa mereka adalah para suamimu, pahlawan keluargamu.

Renungan untuk suami-suami: Bila Istri Cerewet


Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet.
Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.
Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?
Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.
Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.
Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.
Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.
5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.
Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.
Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya. 

WallahuAlam.

..**Di Ujung Manisnya Facebook**..



Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Aku melihat undangan itu tercetak manis di foto facebookmu,aku tergagap,aku ingin menjerit,aku ingin menangis. Tapi apa aku ini,siapa aku ini di matamu,lalu apa yang selama ini kau katakan padaku,harapan,komitmen,sampai pada bayang-bayang suatu pernikahan. Namun apa yang kau perbuat padaku. Kau hancurkan impian ku selama ini,kau hancurkan harapanku. Sampai ku harus rela menolak orang yang hendak mengkhitbahku demi menantimu.

Patah hati..hal yang paling menyakitkan,sama seperti kata-kata di atas. Sebuah penipuan yang di balut dengan sebuah keindahan. Tak ada yang menyadari bahwa syetan-syatan tengah membuaimu dengan kata-kata indahnya. Membawamu merasakan kenyamanan sesaat namun di hentakkan begitu saja olehnya.

Tidak sedikit muslimah atau bahkan seorang laki-laki yang terjebak dengan perasaannya sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang di permainkan nafsu. Karna fitrah seorang wanita yang senang di puji,senang di perhatikan bahkan senang di rayu meskipun kadang dengan tegas mereka menolak,di lain sisi ada rasa berdesir di hati mereka.

Kamu sangat tahu bahwa kata-kata yang di timbulkan antara lawan jenis belum tentu dapat di pertanggung jawabkan. Maka kamu terjebak dengan aktivitas perasaan karna janji-janji yang melambungkan mimpimu. Kamu sangat menyadari aktivitas itu sangat menguras pikiran,waktu dan hati,meskipun hanya lewat tulisan atau pun kata-kata di facebook.

Kamu melihat banyak akhwat yang comment di statusnya atau di wall nya dia,padahal dia bukan siapa-siapa kamu,hanya sebuah komitmen yang membuat kamu merasa memilikinya. Namun sangat di sayang kan karna kamu tetaplah bukan istrinya,ketika kamu cemburu pun sia-sia.
Sahabatku, kamu tahu bahwa facebook sangat beracun. Racun yang mematika n hati bila kamu tak hati-hati. Racun itu pula yang sering kali menindas hatimu dengan kata-kata manis yang membuaikan. Kata-kata manis yang selalu muncul di antara wall dan inboxmu. Tapi kamu tak menyadari,apakah dia mengirimkan kata-kata manis itu hanya untukmu?? Atau kamu malah sudah tahu tapi tetap cuek karna kamu telah terbuai perasaanmu ??

Kamu akan tetap cantik tanpa pujian kecantikan darinya. Kamu akan tetap indah tanpa sanjungan manisnya. Kamu akan tetap mempesona tanpa kata-kata pesonanya. Sadarlah sahabat,meski aku tahu kalo kamu sangat sadar dengan apa yang kamu perbuat. Namun kamu enggan menolak racun perasaanmu karna itu sangat menyenangkan.

Indahnya dirimu saat kamu mau menjaga dirimu,cantiknya dirimu saat kamu mau menghargai kehormatanmu,pesona dirimu ada pada penjagaan akhlakmu. Jangan terus menerus terbuai sebuah kata pujian dan sanjungan yang menipu,karna di balik itu ada sebuah kepahitan.

Wallohu ’alam bish showwab.

..**Jagalah Iffah dan 'Izzah mu di Facebook Yaa Ukhty**..


Ukhtyfillah,, kamu mungkin sudah tak asing dengan kata Iffah ( Kesucian diri )dan Izzah ( kemuliaan diri ) seiring beredarnya “ para ilmuan “ Facebook yang menyebar luaskan kata-kata itu. Kamu mungkin mampu menguasai kedua hal tersebut di “ dunia nyata” tapi ternyata tidak sedikit yang tidak mampu mempertahankan keduanya ketika berada di “dunia maya”.

Sayang sekali memang, ketika kamu merasa bahwa ‘dunia maya’ akan jauh berbeda dengan ‘dunia nyata ternyata syetan pun dengan mudah menguasaimu. Hijab yang begitu anggun kamu tutup dari lawan jenis, begitu mudah kamu buka ketika menemukan lawan jenis, karna kamu merasa bahwa tidak ada hijab di ‘dunia maya ‘ apalagi yang sedang populer kini yakni facebook.
Tak ada lagi yang tersisa dari rasa malu yang sering kamu banggakan di ‘dunia nyata’, hilang begitu saja ketika lawan jenis mu lebih memperhatikanmu di facebook daripada ketika di ‘dunia nyata’. Kamu sisihkan kemana rasa malu mu ketika hati sudah terpaut di ‘dunia maya’ sehingga mata dan hati mu tak lagi melihat sebuah iffah dan izzah yang kamu harus pertahankan.
Ataukah Facebook sebagai sebuah pelarian kebebasanmu yang tak bisa kamu lakukan ketika di ‘dunia nyata’, lantas untuk apakah iffah dan izzah mu ketika di’ dunia nyata’ kalo hanya sebagai “pemantas” dirimu. Apakah kamu lupa bahwa Allah Azza Wa Jalla tidak hanya melihat pergerakanmu di ‘dunia nyata’ ?? Allah Azza Wa Jalla selalu melihat setiap senti pergerakanmu dan tentu saat mulut di kunci semua akan di pertanggung jawabkan di hadapan-Nya.
Sadarkah bahwa iffah dan izzah mu sangat berharga. Justru perjuangan menjaga keduanya lebih sulit ketika kita di dunia Facebook yang sepertinya tak berbatas. Semua dipersatukan dengan bermodalkan “ ukhuwah “.
Benarlah adanya kamu harus menjaga “ ukhuwah “, namun perlu kamu pahami dan cermati bahwa sering kali para “ ikhwit” ( Ikhwan genit ) dan “ Akhwit “ ( akhwat genit ) berkeliaran di Facebook untuk mencari korban-korban yang mau ditukarkan iffah dan izzah nya untuk kepuasan sesaat di ‘dunia maya’.
Mungkin di awal kamu akan menemukan bahwa mereka sangat perhatian denganmu, namun dibalik itu semua mereka mulai merayumu. Tak ayal lagi, karna kamu merasa bahwa Facebook hanya ‘dunia maya’ maka kamu lepaskan iffah dan izzah mu karna kamu yakin bahwa ‘ dunia maya’ telah terhijab. Sebab, Facebook hanyalah segelintir tulisan yang menyejukkan hati. Tapi kamu lupa bahwa kamu tidak akan pernah lepas dari yang namanya “aktivitas hati”.
Dari matalah semua bermula, meski hanya lewat tulisan-tulisan mesra namun hatimu tak akan pernah terdustai termakan syetan. Syetan hanya akan tertawa menyaksikan aktivitas dua insan berlawanan jenis yang tak pernah menyadari bahwa dirinya telah berteman dengan syetan. Naudzubillah..
So ukhtyfillah, jagalah iffah dan izzah mu layaknya barang berharga yang harus kamu genggam erat atau kamu simpan selayaknya barang berharga. Sesungguhnya, kita di tuntunt untuk menjaga iffah dan izzah dimanapun kita berada. Tak hanya di ‘dunia nyata saja, bahkan di ‘dunia maya’ sekalipun, karna aturan yang haq dan keindahan islam tentu tidak hanya ada di ‘dunia nyata’ ataupun di Facebook tempat mu mengembara. Namun ada di hatimu, karna Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu akan dekat denganmu.
Wallahua’lam bi Shawwab