Sunday, 1 January 2012

..**Terimakasih Karena Membuatku Merasa Sempurna**..


Keyakinan akan kehadiran seorang kekasih yang menjadi pendamping tentu disertai dengan keyakinan atas pilihan-Nya. Pilihan-Nya tak akan pernah salah bukan?

Banyak wanita yang sudah menjadi seorang istri mengeluh karena Allah Azza Wa Jalla tidak memilihkan orang yang tepat untuknya, hanya karena dia merasa bahwa orang yang Allah pilihkan tidak sesuai dengan harapan.
Inginnya yang romantis dan perhatian, tapi ketika menikah ternyata pasangan kita jarang sekali menunjukkan sisi romantisnya. Sebagai seorang wanita tentu hal semacam ini akan menimbulkan rasa yang luar biasa tidak menyenangkan, karena wanita memang selalu ingin diperhatikan.
Akhirnya tidak bisa dihindari lagi adanya sedikit konflik, pertengkaran, bahkan awalnya pertengkaran kecil bisa berubah menjadi pertengkaran yang besar. Maklum saja, perasaan wanita memang lebih sensitif daripada laki-laki. Kadang wanita lebih memilih diam ketika merasa pasangannya tidak sesuai dengan yang diinginkan, sedangkan laki-laki lebih sering tidak sensitif atau peka dengan perasaan pasangannya.
Konon, ngambek lah yang jadi andalan senjata perempuan kalau pasangannya tidak juga mengerti kemauannya alias cuek. Walaupun tidak semuanya saya rasa, tapi kebanyakan mengandalkan senjata yang satu ini. Yaa…terkadang dengan ngambek, bercucuran air mata, pasangan kita justru akan lebih paham, sehingga kaum hawa sering diidentikkan dengan ngambekan dan air mata.
Sebenarnya banyak dari kita yang sudah paham, bahwa setiap dari kita harus menerima pasangan masing-masing dan tentu saja harus mau hidup dengan hal itu. Bahkan kita terkadang lupa bahwa pernikahan bukan hanya menerima apa yang terlihat tapi harus mau menerima perbedaan, karena pernikahan adalah bertemunya dua pihak dengan latar belakang berbeda yang membuat masing-masing diri kita harus mengerti agar kita mampu mengubah pandangan diri menjadi versi yang disukai pasangan kita.
Buat saya,betapapun cueknya, leceknya suami saya ataupun tukang nangis, ngambekannya, cerewetnya istri saya, dia tetaplah orang yang paling terkasih, tak soal bagaimanapun dia. Dan seharusnya perasaan itu abadi bukan hanya kasih-kasihan ketika di awal pernikahan dan standar di tengah bahkan hancur di akhir. Nggak banget deh!
Saya jadi menyadari bahwa tidak mudah melewati bilangan tahun pernikahan, melihat sepasang suami istri berjalan begandengan tangan meskipun sudah berusia renta membuat saya selalu berpikir, bagaimana mereka masih bisa mesra dengan melewati tahun-tahun yang saya rasa tidaklah mudah dan apakah saya atau kita bisa melewati tahun-tahun pernikahan sama seperti mereka? Tentu saja jawabannya ada pada setiap diri kita, mau dibawa kemana arah pernikahan ini sehingga bisa tercipta suasana SAMARA di rumah kita.
Salah satunya dengan menerima ketidak sempurnaan pasangan kita yang justru membuat kita akan tumbuh menjadi pribadi yang merasa bahwa ketidaksempurnaan pasangan kita adalah penyempurna diri kita. Karena jelas diri kita pun tidaklah sempurna, kita punya kekurangan walaupun kita pasti memiliki kelebihan.
Dengan ketidaksempurnaan itulah, kita merubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik dengan mencintai apa yang justru tidak sempurna pada diri pasangan kita. Bukankah ketika kita memutuskan untuk mencintai seseorang artinya kita juga memutuskan untuk menerima apapun kekurangan dari pasangan kita, dan ingat, lakukanlah penerimaan itu jangan hanya dikatakan saja. Di awal pernikahan selalu berkata akan menerima segala kekurangan, namun setelah tahun demi tahun lewat, kata itu hanyalah tinggal kata, yang ada justru membandingkan pasangan kita dengan orang lain. Berbahaya sekali.
Sudah sepatutnya ketika kita memutuskan berkata akan menerima, maka perilaku kita terhadap pasangan kitapun harus memperlihatkan bahwa kita menerima kekurangan pasangan kita. Jadilah pribadi yang benar-benar utuh menerima ketidaksempurnaan pasangan kita menjadi penyempurna diri kita. Karena saya yakin, dibalik pribadi yang berbeda justru ada pribadi yang saling melengkapi.
***
Sayang…
Bukanlah harta atau tahta yang membuatku ada disisimu…
Tapi senyummu padaku di setiap ketidakberdayaanku…
Terimakasih karena membuatku merasa sempurna…
Kasih…
Ijinkan aku mencinta pada ketidaksempurnaanmu..
Karenanya aku merasa diri ini menjadi sempurna…
Terimakasih karena mengajariku merasa sempurna…

..**Kenapa sih islam melarang pacaran? apa jatuh cinta itu haram???**..


“Aih, Kenapa sih,…kok islam melarang pacaran?? Begitu keluhan fulanah.Buat Fulanah ia melihat ada sisi positif yang bisa diambil dari pacaran ini. Pacaran atau menurutnya ‘penjajakan’ antara dua insan lain jenis sebelum menikah sangat penting agar masing-masing fihak dapat mengetahui karakter satu sama lainnya (dan biasanya untuk memahami karakter pasangannya ada yang bertahun-tahun berpacaran lho!!).Fulanah menambahkan ,”Jadi dengan berpacaran kita akan lebih banyak belajar dan tahu, tanpa pacaran ?? Ibarat membeli kucing dalam karung!! Enggak deh…!” kemudian ia menambahkan “Bila suka dan serius bisa diteruskan ke pelaminan bila tidak ya,..cukup sampai disini..bay-bay!!, Mudahkan?”…hmm…Fulanah tidakkah engkau melihat dampak buruk dari berpacaran ini, ketika masing-masing fihak memutuskan berpisah??...Fulanah apakah engkau yakin benar apabila “putus dari pacaran” hati ini tidak sakit? Benarkah hati ini bisa melupakan bekas-bekas dari pacaran itu? Tidakkah hati ini kecewa, pedih, atau ikut menangis bersama butiran air mata yang menetes?? Sulit dibayangkan!Karena memang begitulah yang saya lihat didepan mata menyaksikan orang yang baru saja putus pacaran...



Bila memang kita tanya semua wanita muslimah seusia Fulanah (yang sedang beranjak dewasa) maka akan melihat ‘pacaran’ ini dengan sejuta nilai positif.Jadi, jangan merasa aneh bila kita dapati mereka merasa malu dengan kawannya karena belum punya pacar!!.. Duh,..kasihan sekali…Wahai ukhti muslimah…Mari kita telaah bersama dengan lebih dalam.Berdasarkan fakta yang ada, bila anda mau menengok sekilas ke surat kabar, tetangga sebelah atau lingkungan sekitar ,siapa sebenarnya yang banyak menjadi korban ‘keganasan’ dari pacaran ini? Wanita bukan??.. Bila anda setuju dengan saya, Alhamdulillah berarti hati anda sedikit terbuka.Ya,… coba lihat akibat dari berpacaran ini.Awalnya memang hanya bertemu, ngobrol bareng,bersenda gurau, ketawa ketiwi,lalu setelah itu??tentu saja setan akan terus berperan aktif dia baru akan meninggalkan keturunan Adam ini setelah terjerumus dalam dosa atau maksiat.Pernahkah anda ,.. mendengar teman atau tetangga ukhti hamil di luar nikah? Suatu klinik illegal untuk praktek aborsi penuh dengan kaum wanita yang ingin menggugurkan kandungannya? Karena sang pacar lari langkah seribu atau tidak mau kedua orangtuanya tahu? Atau pernahkah engkau membaca berita ada seorang wanita belia yang nekat bunuh diri minum racun serangga karena baru saja di putuskan oleh kekasihnya??Sadarkah kita, bahwa sebenarnya kaum hawalah yang banyak dieksploitasi dari ‘ajang pacaran ini?

Sungguh, islam telah memuliakan wanita dan menghormati kedudukan mereka.Tidak percaya??lihat hadits ini..”janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya” (HR.Bukhari, Muslim dan Ahmad).Islam melarang laki-laki untuk berduaan tanpa ada orang ketiga karena islam tidak menginginkan terjadinya pelecehan ‘seksual’ terhadap wanita.Sehingga jadilah mereka wanita-wanita muslimah terhormat dan terjaga kesuciannya.Untuk kaum laki-laki pun islam melarang mereka menyentuh wanita yang bukan mahramnya coba simak hadits ini “Sungguh bila kepala salah seorang ditusuk dengan besi panas lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”(HR.Thabrani, dalam Mu’jamul Kabir)

Nah, jelas bukan mengapa islam melarang pacaran??Bila memang seorang laki-laki ingin serius menjalin hubungan dengan seorang wanita, maka islam telah menyediakan sarananya, yaitu menikah.Karena islam Bukanlah agama yang kaku, maka islam menganjurkan kepada masing-masing fihak untuk saling berkenalan (ta’aruf).Tentu saja tidak berduaan lho,..harus ada pihak ketiganya.Setelah itu? Ya,.selamat bertanya tentang biografi calon pasangan anda,apabila kurang jelas, masih kurang yakin..islam menganjurkan mereka untuk shalat istikharah agar di berikan pilihan yang mantap yang nantinya insya Allah akan berakibat baik bagi dunia dan akhirat kedua belah pihak.Setelah mantap dan yakin akan pilihannya..kuatkan azzam (tekad), dan Bismillah…menikah..!! Indah bukan??

hehehehe

..**Akhwat bersahabat dengan ikhwan , boleh gak sich. ….??????**..




Saat ini persahabatan antara ikhwan dan akhwat bukan hal yang aneh lagi. sepertinya ini sudah menjadi trend di kalangan ikhwah. Ini bisa terjadi di kalangan aktivis kampus, dan di dunia maya. Persahabatan yang mereka lakukan memang cukup unik , tidak seperti persahabatan yang orang ammah lakukan dengan suka ngumpul-ngumpul atau membentuk genk-genk. Persahabatan akhwat dan ikhwan bisa terjalin karena saling memberi taujih dan curhat yang di lakukan via ponsel, email ataupun chat.

Pertemanan yang di anggap semula biasa menjadi memunculkan perasaan yang tidak biasa nantinya. Perasaan itu muncul step by step…..,
1. biasanya hanya sekedar simpatik, dan simpatik itu berubah menjadi ketertarikan yang lebih khusus.
2. Mulai membuat analisa dan meraba-raba “kaya’nya dia cocok jadi pasanganku”
3. Ketergantungan dan bahayanya bisa FALL IN LOVE (level yang sangat GAAASSSWAAAT) kalau sudah jatuh cinta, di kalangan ikhwah juga tidak segan-segan untuk melakukan aksi NEMBAK seseorang yang di sukainya itu (baik ikhwan ataupun akhwat yang lebih dulu). Ketika manusia jatuh cinta terkadang LOGIKA nya tidak jalan lagi. Nasehat-nasehat dari teman bisa di anggap angin lalu bahkan nasehat Murobbi juga di acuhkan, yang penting hatinya bahagia (bahagia yang menyesatkan). Tak peduli pulsa membengkak (padahal dia juga masih minta kiriman pulsa dari orang tuanya).

Sadarlah wahai para ikhwah……, apa mungkin dengan saling memberi taujih tidak ada terselip perasaan yang sulit untuk di defenisikan bagi yang memberi ataupun yang menerima….?? untuk sementara waktu memang tidak ada tapi bila itu di lakukan secara intens siapa yang bisa menjamin, apa mungkin dengan curhat dengannya masalah kita terselesaikan dan hati menjadi tenang ?? (mungkin masalah yang di curhatkan selesai tapi masalah baru akan timbul). Jadi kalau dampak akhirnya tidak baik bagi kita sebaiknya dihindari. Memang interaksi antara akhwat dan ikhwan tidak bisa dihindari , misalnya di dalam organisasi, bekerja dan bermasyarakat kita akan saling berkoordinasi dan bekerjasama dengan para ikhwan. Tapi tentu ikhwah sekalian tahu batas-batasnya. Bahkan di dalam suatu organisasi di kampus-kampus di temukan sebuah aturan yang mungkin sangat biasa. Aturan itu adalah melarang kepada anggota akhwatnya membalas sms ikhwan atau menerima telphon ikhwan bila telah lewat jam 9 malam (kecuali memang yang sangat URGENT terkait urusan Organisasi). Tapi akan lebih baik jika urusan URGENT itu dibicarakan ke-esokan harinya (seperti tidak ada waktu lain saja).

Menjaga hati……., yupzzzz….., banyak ikhwah mengakui sulit untuk menjaga hati. Nah kalau sudah tahu seperti itu kenapa tidak menjauhinya. Kebanyakan ikhwah justru menjurumuskan diri terjebak kedalamnya. Ada yang ngakunya hanya menganggap kakak adek. Uhhhh…., omong kosong masa’ sih orang yang gak muhrim bisa jadi kakak adek…….dari mana jalannya (jalan pintas kaleeeee alias jalan motong…).

Ketahuilah hai para ikhwan perasaan akhwat itu amat halus (tapi bukan berarti makhluk halus ya). Jadi tolong……, tolooong sekali jaga ucapan kalian di dalam komunikasi baik secara langsung ataupun via sms, karena kata-kata itu bisa membekas di hati para akhwat. Dan si akhwat suka membuat kesimpulan dari ucapan-ucapan itu. Kepada para akhwat tolong jangan suka memastikan sesuatu yang belum pasti, terkadang para ikhwan menganggap ucapan yang dikeluarkannya hanya biasa-biasa saja dan tidak ada maksud lain. Akhwat jangan suka ke-GEER-an ketika si ikhwan miscall di sepertiga malam, terus besoknya kita menceritakan ke teman akhwat yang lain…, eh ternyata si akhwat itu juga di miscall dan setelah diselidiki ternyata si ikhwan miscall ke semua akhwat, bukan hanya akhwat saja yang di miscall teman ikhwan lainnya juga (heheh tuh..., jadi malu kan).

Ikhwah coba fikirkan…, renungkan…. Akibat dari setiap tindakan yang kita lakukan. Apakah tindakan itu lebih banyak mengarah kepada kemaslahatannya atau kemudhorotannya?? Kalau setiap ikhwah memikirkan hal ini Insya Allah hidup kita jauh dari ke SIA-SIA-an.

..**Bolehkah ku pinta Fotomu, ukhti ??**..




“ Ukht, aku belum bisa percaya kalo kamu belum ngasih foto kamu “ Tulisan disebrang sana memaksaku memutar otak untuk tetap bertahan dalam pendirianku.

“ Buat apaan si akhi, gak perlu foto kan kalo Cuma untuk berteman. Apa karna foto, kita menjadi seorang sahabat ?? apa karna foto, lantas kita gak bisa sahabatan lagi ?? “

“ bilang aja kalo kamu memang gak mau bersahabat denganku. Cuma foto doank aja susah sekali aku minta “

“ Bukan gitu akhi, tolonglah pahami keadaanku “
“ Keadaan apa sih ukhti, kita udah kenal cukup lama “
Chating ini membuatku tak nyaman, tapi tak mungkin aku menyudahinya. Dia akan menganggapku menghancurkan ukhuwah. Apa yang harus aku lakukan??

“ Mba, gimana nih. Aku gak mau ngasih foto, tapi dia maksa ? “ Aku memulai chating dengan orang yang paling aku percayai, yaa meskipun aku kenal dia lewat facebook. Entah mengapa aku sangat mempercayai akhwat yang satu ini.

“ Emang fotonya buat apaan sih Dik ?? “ Balasan ketikanku segera muncul dilayar laptopku.
“ Nah itu, aku juga gak tahu mau diapain. Cuma waktu aku tanyain, Cuma pengen tukeran foto aja. “
“ Kamu yakin mau ngasih ?? “

“ Ya gak sih mba, aku takutnya kalo banyak mudhoratnya ketika aku ngasih foto ke dia. Aku ngasih Foto profile facebookku aja gak berani “ kataku.

“ Kalo kamu udah tahu dan merasa yakin gak mau ngasih terus masalahnya apalagi ?? “
“ Aku bingung mba, katanya wajahku aja dilihat banyak orang tiap harinya. Masa buat foto aja gak boleh “ Aku meneriakkan apa yang ada dalam hatiku.

“ Permasalahannya bukan karna wajah kamu dilihat orang lain atau gak, permasalahannya adalah foto kamu. Foto itu bisa dipergunakan dengan hal yang gak kamu inginkan. Lah iya kalo kamu husnudzon dengan dia, dia gak akan melakukan apapun dengan fotomu. Tapi kamu juga harus tahu kemungkinan terburuk, kamu kan kenal dia juga lewat Facebook. Apa iya kamu mau ngasih ke orang yang gak kamu ketahui maksudnya “

Aku menelan ludah, pikiranku melayang ke tokoh-tokoh gelap yang bergentanyangan di Facebook.
“ Kita memang harus berpikir untuk husnudzon, tapi bukan berarti lantas kita gak berhati-hati kan. Secara kita ini wanita, apapun yang ada ditubuh kita harus kita jaga baik-baik. Wajah kita didunia nyata saja sudah sering jadi perdebatan, apalagi dengan dunia maya yang siapaun dan kapanpun bisa menggunakan foto dengan bebas. Iya kalo dia ngasih kamu foto dia yang sebenernya, kalo ternyata penipuan gimana ?? siapa yang rugi ?? meski Cuma rugi foto, tapi kamu gak tahu kan foto itu dipergunakan untuk apa. Meskipun niat kamu baik untuk saling tahu, tapi apa harus dengan tukeran foto ?? kamu chating dengan lawan jenis tanpa ada keperluan apapun bisa jadi kamu sudah terbawa keinginan syetan “ Ketikan panjang lebar ku saksikan muncul sedikit demi sedikit dilayarku. Sambil ku menerawang kebenaran yang diungkapkannya.

Dunia maya ini memang dunia yang sangat luas. Benar sekali kalo dunia ini memang dunia terbebas untuk melakukan apapun tanpa diketahui siapapun dan tanpa diketahui kebenarannya. Namun bukan berarti semua yang ada di internet adalah sebuah penipuan. Banyak aktivis dakwah yang berdakwah lewat pena, tapi bukan berarti aku jadi gak hati-hati kan.

“ Afwan akhi, bukan aku mau merusak ukhuwah ini. Tapi denganmu memaksakan foto yang menurutku gak seberapa penting, jadi membuatku tersadar. Kenapa kamu memaksakan sesuatu yang menurutku tak perlu untuk sebuah persahabatan dunia maya ?? bukankah memaksa menjadikan ku berpikir bahwa kamu mempunyai maksud dibalik itu. “

Ku kirim pesan kepadanya. Ikhwan yang telah merobohkan akalku dengan cintanya. Aahh..apakah cinta harus selalu seperti ini ?? Cinta tak seharusnya memaksakan kehendakku untuk selalu menuruti keinginan orang yang kucintai.

“ Kamu su’udzon terhadapku. Baiklah, aku tak akan mengganggumu lagi. Cuma minta hal kecil saja gak boleh. Apakah itu sahabat yang baik ?? “ Ku terima balasan pesan yang ku kirim. Aku sudah memperkirkan dia akan membalas seperti itu.

“ Tidak yaa akhi. Saya tidak ada perasaan su’udzon yang berlebihan. Tapi aku hanya ingin berhati-hati. Saya tidak ingin merusak hubungan ukhuwah ini gara-gara sebuah foto, karna ukhuwah ataupun persahabatan gak dinilai dengan sebuah foto “

Setelah ku kirim pesan, aku langsung menutup laptopku. Aku segera merebahkan diri, menutup mataku. Namun pikiranku jauh melayang terhadap apa yang aku lakukan tadi.
“ Yaa Robb, semoga ini adalah jalan terbaik yang kau berikan padaku. Agar tidak terjadi muslibah yang lebih besar diantara kami “

CATATAN : Hai ukhtifillah,,apakah antunna pernah mengalami kejadian di atas??? Kalo pernah,, jangan pernah dech chatting or minta bantuan2 sama ikhwan ,, bukankah masih ada teman2 yang akhwat??
Kejadian di atas tidak akan terjadi kalo qt menjaga jarak dg ikhwan..OK.??!!

Baarokumulloohu fikum ^____^