Sunday, 1 January 2012

Sebuah Pengakuan


Sebuah pengakuan...
Mengakui, merobohkan kuatnya beban hati.
Mengakui, mengikis kerak air mata yang tersimpan bertahun- tahun.
Mengakui, membawa gemilang hidup baru yang lebih melegakan.
Mengakui, mendamaikan. 

Sebuah pengakuan, sangat meringankan.

Disebuah sudut ruangan, terlihatlah seorang wanita yang sangat terkulai lemas. Badannya mengurus dan kelopak matanya terlihat semakin hitam. Siapapun yang melihat, pastilah setuju bahwa  kondisinya terlihat begitu mengenaskan.

Pandangannya kosong menatap jendela di luar, sama sekali tidak nampak sebuah kebahagiaan selain air mata yang selalu menetes, bahkan tanpa sama sekali di rasanya. Penampilannya terlihat lusuh, sepertinya dia benar- benar kehilangan gairah untuk terus hidup.
Betapa tidak, sebuah kanker rahim telah menemani hari- harinya kini. Dan dokter telah menegaskan kepadanya, bahwa untuk menyelamatkan hidupnya, tiada jalan lain kecuali rahim miliknya harus diangkat. 

 Terbayanglah seketika, bahwa selamanya dia tidak akan pernah memiliki keturunan. Dia akan menjadi sangat terendahkan dengan sebutan bukan hanya sebagai wanita mandul, namun wanita yang benar- benar tidak sempurna. 


Terngiang juga dikepalanya tentang sebuah pertanyaan, Lalu bagaimana dengan suaminya, mungkinkah sang suami akan meninggalkannnya dan memilih untuk bersama wanita lain yang akan memberinya keturunan?. Selain itu pertanyaan tentang perceraian pun ikut berkecamuk menyerang batinnya. mungkinkah pernikahan yang baru 3 tahun dijalaninya ini, akan berakhir dengan kata cerai?. Semua kenyataan yang terasa seperti mimpi itu, semakin menambah berat batinnya.

Tak lama setelah itu,  terdengar ketok pintu, dan seorang laki- laki melangkah masuk dengan terburu- buru.  Laki- laki itu adalah sang suami yang baru saja kembali dari luar kota.
Begitu sangat sedihnya, ketika beliau menghadapi kenyataan saat melihat kondisi istrinya, yang hampir- hampir hilang kesadaran jiwanya. Sang suami bertanya, " mama kenapa?".
Pertanyaan itu seolah membuyarkan pandangan kosong sang istri dan berbalik dengan pandangan sedih tepat ke arah wajah suaminya. Tanpa di mengerti oleh sang suami, seketika itu pula meledaklah tangis sang istri. Seakan dia meronta dan menahan beban yang selama ini dia pendam, hanya sendiri.

"Papa sudah tahu apa yang mama alami. Mama jangan kawatir, Allah pasti selalu memberi yang terbaik untuk para hambanya, termasuk mama". Kalimat bijak dan mendamaikan tersebut mengalir halus dari mulut sang suami. Namun anehnya, hal tersebut tidak sama sekali meredakan tangisnya, bahkan semakin menjadi. Dengan tanpa alasan, sang istri kemudian bersimpuh dan lalu mencium kaki sang suami seraya berkata,

" Mama minta maaf, pa, ini semua salah mama. Mama khilaf pa, mama bejat. Mungkin ini akibat dari dosa mama, mama sudah tidak jujur dengan papa, sebelum kita menikah. Mama dulu pernah beberapa kali menggugurkan kandungan. Mama bejat, pa. Sekarang mungkin Allah ingin menghukum mama dengan mengambil rahim mama. Maafkan mama, pa. Maafkan mama"

Bagai disambar petir, kata- kata itu terasa menyobek ulu hati sang suami, sampai- sampai dia tidak sanggup menggerakkan badannya.Ya, sebuah pengakuan dari istrinya tercinta, tentang gelapnya masa lalu dan kekhilafan yang telah dilakukan.

 Pikirannya pun kalut seketika itu, dan bahkan beliau tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Beliau bahkan berharap seakan hal itu hanyalah mimpi buruk yang secepatnya dia ingin tersadar darinya. Rasa kesadaran atas harga diri seorang pemimpin keluarga yang telah di bohongi dan ditipu oleh pasangan hidupnya sendiri, juga ikut menyeruak dan menggugah jiwanya sebagai laki- laki.

Namun....
Setelah beberapa hari berlalu, sang suami mencoba kembali menilik keadaan istrinya yang semakin hari semakin memburuk. Tinggal beberapa hari lagi, rahimnya akan diangkat. Ingin rasanya kedua tangannya merengkuh kembali sang istri yang tengah bersedih dan membawanya kedalam pelukannya. Namun, rasa marah, sesal, kecewa dan banyak lagi, seakan tetap mengunci geraknya untuk tetap berada disana saja. 

Tapi entah dari mana kekuatan itu, tiba- tiba tergeraklah tangan untuk membelai kepala sang istri seraya beliau berk`ta,
" Ma, Pernikahan memang membutuhkan anak- anak agar kita merasa bahagia didalamnya. Pernikahan memang salah satunya bertujuan mendapatkan keturunan. Dan jujur, papa memang sangat mendambakannya. Dan jujur, papa memang sangat terluka dengan apa yang telah mama jujurkan beberapa hari yang lalu. Namun kasih sayang mama selama ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi sebuah ucapan maaf. Dan perlakuan yang mama berikan kepada papa, sudah cukup papa nilai sebagai usaha tobat mama atas berbagai dosa. Papa terima maaf mama, kekurangan dan kelebihan mama, karena tidak ada yang lebih indah dari sebuah kasih sayang yang telah mama berikan kepada papa, dan mungkin dengan penerimaan maaf yang mama mohonkan kepada papa, itu bisa membalas sedikit harga dari semua itu. Walaupun baru hanya sedikit."

Kembali, meledaklah tangis sang istri yang seketika berhamburan kedalam pelukan suaminya. Tak pernah disangkanya sama sekali tentang pengampunan yang begitu besar dari seorang suami yang sangat disayanginya. Semua pemikirannya tentang bagaimana kelanjutan hidup bagi dirinya kedepan seakan lebih terang bagi dirinya. Tak pernah disangkanya bahwa pengakuan dari sesuatu yang begitu menyesakkan dan menghimpit dadanya, kini telah terangkat karena luasnya hati seseorang yang sangat dicintainya. Ucap syukur kepada allah yang dia lantunkan berkali- kali, seakan tak bisa mengganti rasa terima kasih yang terpanjat kepada Nya.

Dan dalam dekapan hangat itu, memang sempatlah terbersit dalam pikiran sang suami....
Bahwa nasehat yang beliau ucapkan memang terdengar sangat mulia dan mendamaikan, walau ada sudut dalam hatinya sendiri yang memaki tentang kemampuannya untuk tetap melanjutkan pernikahan dan misi mulia memaafkan dan merangkul istrinya kembali. Beliau kemudian tersenyum dan menjawab balik kepada dirinya sendiri, bahwa pernikahannya memang tidaklah biasa, dan jalan yang dia tempuh juga memang bukanlah hal yang biasa untuk dilewati. Namun bukankah Allah sudah terbiasa dan senantiasa mengasihi hambanya yang memaafkan dan bertaubat kembali ke jalannya? dan bukankah memaafkan itu melegakan bagi penerimanya dan memuliakan bagi sang pemberi?

Dari Temen Jadi Demen


“ Ok akh..makasih ya atas curhatnya hari ini dan terimakasih telah mau jadi sahabat baik ana. Ana jadi lega. Mungkin besok kita sambung lagi, via YM atau chat FB yaa “ SMS pun terkirim.
“ Sama-sama ukhti, insyaallah kalo butuh curhat lagi bisa dengan ana. SMS ana saja kalo ukhti onlen yaa. Met istirahat ya ukhti. Moga mimpi indah “ SMS balasan dari si dia. Hati pun terpejam dalam mimpi indah.

Ehm..ehm..ada yang pernah SMS an atau Chating seperti itu, atau dengan gaya bahasa lain ?? tapi saya yakin kalo ikhwah fillah gak gini-gini amat, paling pernah meskipun sedikit..hehe..
Ternyata..eh..ternyata, gak satu atau dua orang wanita dan laki-laki yang senang bersahabat dengan lawan jenisnya. Banyak..yaa..banyak. Karna kebanyakan dari mereka tidak mengenal batasan dengan lawan jenis, yang mereka tahu hanya dilarang berduaan di tempat sepi jadi kalo berduaan di tempat rame gak apa-apa ( nah lho ). Kira-kira kalo kamu gimana ??

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (HR.Ahmad)

Hadits diatas gak Cuma ngelarang kamu berduaan di tempat sepi lho, ternyata ketika kamu berduaan ditempat rame juga si syetan gak pernah mau ketinggalan. Soalnya akibat dari berduaan bukan hanya kontak fisik yang dikhawatirin, tapi semuanya berawal dari pandang memandang kan. Yang kata Rasulullah, pandangan mata adalah panah-panah iblis, makanya orang yang berhasil nundukin pandangannya bisa merasakan manisnya iman..Subhanallah..

Kalo berdua-duan meskipun ditempat rame, tetep saja matanya gak bisa lepas tuh sama si syetan..eeh..salah..maksudnya sama si dia. Abisnya si syetan gak pernah mau ketinggalan sih, ngikutin kemanapun kalo kamu lagi berduaan sama si dia. Malah si syetan seneng tuh, meski kamu dan si dia gak adu fisik tapi kalian beradu mata dan beradu hati, di aduk-aduk deh jadi adonan Nafsu.

Kami kan Cuma curhat SMS an atau Chating, Cuma sebagai Sahabat gak lebih, sahabatan sama lawan jenis kan gak apa-apa kan, toh gak pernah ketemu kok. Gak khalwat kan kami ?? Masa syetan jaman sekarang bisa ikutan chating atau SMS an, Keren ya ??Dasyat pertanyaannya. Kata siapa si syetan gak pernah tau ilmu internet ?? syetan sekarang canggih, bukan Cuma internetnya yang dikuasain sekalian akal dan hatinya si ‘ pemain internet ‘ yang dikuasain.

Meski Cuma lewat SMS atau chating dan dengan alasan Cuma ‘Sahabatan’, apakah yakin kamu mampu menjaga hatimu untuk tetap bertahan pada keistiqomahan ?? Sudah fitrahnya, ketika kamu merasa cocok dan merasa bahwa si dia yang awalnya kamu anggap sahabat namun ternyata mempunyai kepribadian dan bisa menampung semua curhatan kamu, disitulah si syetan mulai mengadu hatimu dengannya, menghilangkan seluruh kemuliaanmu. Tentu tak ada yang mau kemuliaannya dihadapan Allah ternodai gara-gara si syetan.

Karna seperti apapun, diantara kalian pasti ada yang berharap-harap cemas, ada yang menanti-nanti. Akhirnya bukan persahabatan yang tulus lah yang terjadi namun karna ada ‘rasa’ yang membuat syetan ikut bermain-main.So..perlu kamu sadari batasan hubungan antara wanita dan laki-laki dalam bersahabat. Bukan bersahabat dengan selalu berduaan kemana-mana sejatinya seorang sahabat. Bukan sahabat yang selalu harus tahu apa yang kamu lakukan,apa yang sedang terjadi padamu selayakya SAHABAT SEJATImu.

Hubungan persahabatan diantara wanita dan laki-laki seharusnya hanyalah hubungan untuk kepentingan umum untuk berdakwah karna dakwahnya berhubungan dengan orang banyak. Misal seorang aktivis laki-laki hendak SMS dengan aktivis wanita, maka sudah seharusnya yang ditanyakan hanya seputar organisasinya, bukan permasalahan pribadi atau pun masalah individu. Dan tentu itu pun dalam koridor yang diketahui oleh umum pula sehingga tidak terjadinya fitnah.

Jangan sampai hubungan persahabatan untuk kepentingan dakwah tersusupi oleh nafsu syahwat. Interaksi kalian harus tetap dalam koridor kerjasama untuk dakwah, bukan untuk hubungan pribadi bahkan awalnya tanya masalah dakwah akhir-akhirnya malah kena kuman syetan ( hati-hati untuk yang satu ini karna datangnya sering gak disadari )Pergaulanmu memang semakin luas, tak bisa dipungkiri bila awalnya Temen malah jadi Demen. Kalo udah kayak gini, saran saya si gak usah ditunda, lamar aja daripada si syetan nanti yang datengin kalian. Idih..gak mau kan. Bersahabatlah dengan bijak dan tetap jagalah nilai-nilai islam.

Hadiah Cinta





“Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak elaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya,aku ini makhluk aneh." Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Iapun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah. Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya." Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Dihari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah...bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. "Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?"

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui

Cinta Kepada Rasul



Pada saat Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah, beliau ditemani oleh sahabatnya, Abu Bakar Shiddiq r.a. Terkait masalah ini ada hal menarik dari apa yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak. Beliau menyebutkan, sepanjang perjalanan tersebut Abu Bakar berjalan berpindah-pindah posisi. Sesekali mengambil posisi di depan beliau, dan kadangkala di belakangnya.
Apa yang dilakukan Abu Bakar rupanya membuat Rasulullah SAW penasaran. Beliaupun segera bertanya, “Wahai Abu Bakar, apakah gerangan yang menjadikan engkau sesekali berjalan di depanku lalu sesekali pindah berjalan di belakangku?” Abu Bakar pun menjawab serius, “Bila aku ingat orang-orang yang mengejarmu, aku berjalan di belakangmu agar aku dapat melindungimu. Namun, ketika aku teringat pada orang-orang yang hendak menerjangmu dari depan akupun berjalan di depanmu.” Mendengar jawaban demikian Nabi Muhammad SAW melanjutkan bertanya, “Wahai Abu Bakar, jika terjadi sesuatu, apakah engkau suka hal itu menimpamu dan tidak menimpaku?” Abu Bakar menjawab tanpa ragu, “Benar. Demi Allah yang mengutusmu dengan hak, jika ada suatu perkara yang menyakitkan maka aku lebih suka hal itu menimpaku dan tidak menimpamu.”
Ketika keduanya sampai di Gua Tsur, Abu Bakar melakukan inspeksi dulu terhadap isi gua. Barangkali ia khawatir ada hal yang membahayakan Nabi seperti ular. “Tunggu sebentar di tempatmu, duhai Rasulullah! Aku akan membersihkan gua untukmu,” ujarnya. Abu Bakar segera masuk gua lalu membersihkannya dari segala sesuatu yang dapat mengganggu. Ketika dia ada di atas gua, ia ingat belum membersihkan dan menutup suatu lubang. “Wahai Rasulullah, tunggu sebentar, aku akan membersihkan sebuah lubang dulu,” lanjutnya. Setelah selesai melakukan pengamanan dalam gua Abu Bakar mempersilakan Nabi masuk, “Silakan turun, wahai Rasulullah!” Beliau pun turun ke gua.
Sepenggal kisah di atas menggambarkan betapa cintanya Abu Bakar kepada Rasulullah Muhammad SAW. Apa sebenarnya yang ada di benak Abu Bakar kala itu? Ketika ditanya Nabi tentang mengapa ia melakukan hal tersebut, ia mengatakan: ”Kalau aku yang binasa, tidak akan ada apa-apa. Sebab, aku hanyalah seorang awam. Namun, bila engkau binasa, bagaimana dengan kaum Muslim dan masa depan Islam. Engkau adalah inti agama ini.” Nampak jelas, dibalik kecintaan Abu Bakar kepada Rasulullah adalah kecintaannya kepada Islam. Seakan-akan Abu Bakar menegaskan bahwa disamping memuliakan diri Nabi, salah satu bukti penting kecintaan seseorang kepada Rasulullah Muhammad SAW adalah pembelaannya kepada Islam yang beliau bawa.
Hal serupa merupakan karakter sahabat. Thariq bin Shihab meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Mas'ud berkata, ”Aku bersama Miqdad bin al-Aswad pernah ikut perang Badar. Jika aku menjadi peraih syahid, maka itu lebih aku sukai daripada terlepas darinya. Orang itu datang kepada Nabi SAW pada saat beliau sedang berdoa bagi kehancuran kaum musyrik. Ia pun berkata, ”Kami tidak akan mengatakan sebagaimana pernyataan kaum Musa kepada Musa nabi mereka 'Pergilah engkau dan Tuhan-mu berperang'. Sebaliknya, kami akan berperang di sebelah kananmu, di sebelah kirimu, di depan dan di belakangmu. Maka aku melihat wajah Nabi SAW bersinar-sinar dan perkataannya menunjukkan kegembiraan” (HR. Bukhari). Padahal, kata Nabi, yang disebut berperang di jalan Allah itu adalah li i'lai kalimatillah (meninggikan kalimat Allah). Karenanya, sikap berperang dari segenap arah bersama Nabi sebenarnya dalam rangka membela Islam sekaligus Rasul yang membawanya. Bahkan, Sa'ad pernah menunjukkan sikapnya untuk siap berperang mengorbankan nyawa sekalipun dalam menghadapi orang-orang yang mencampakkan Islam dengan cara mendustakan Rasulullah (HR. Bukhari dan Muslim). Itulah kecintaan para sahabat, kecintaan pada Rasul yang dibuktikan dengan kecintaan, penerapan, dan pembelaan pada Islam.
Segenap kecintaan sahabat kepada Nabi berintikan kecintaan kepada Islam. Bahkan, kecintaan isterinya pun demikian. Kecintaan Khadijah kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah sedangkal cinta seorang isteri kepada suami, melainkan cinta seorang umat kepada Rasulullah yang diutus kepadanya sekaligus kecintaannya kepada Islam. Ketika Nabi ketakutan saat pertama kali menerima wahyu, Khadijah malah berkata, ”O, putera pamanku, bergembiralah, dan tabahkanlah hatimu! Demi Dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Sama sekali Allah tidak akan mencemoohkan kau ...”. Gambaran ini pun nyata sekali dalam ungkapan Nabi tentangnya: ”Demi Allah, aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia mempercayaiku kala semua orang mendustakanku. Ialah yang memberi harta pada saat semua orang enggan memberi. Dan darinya aku memperoleh keturunan, sesuatu yang tidak kuperoleh dari istri-istriku yang lain” (HR. Ahmad).
Kini, 1400 tahun telah berlalu. Adakah kecintaan kepada Rasul terpatri dalam hati? Ketika Nabi dilecehkan berulang-ulang, sudahkah kita membelanya? Saat Islam dilecehkan dalam film fitna, ajaran-ajarannya tentang poligami, hukuman mati (qishash) dan jihad disudutkan dengan dalih bertentangan dengan hak asasi manusia (HAM), dimanakah pembelaan kita yang mengaku umatnya? Kala al-Quran diputarbalikkan, adakah sikap perjuangan dan pembelaan? Padahal, bukankah ayat demi ayat al-Quran dahulu dibela oleh Rasulullah dan para sahabat dengan pikiran, harta bahkan nyawa mereka? Kini, saatnya kita menunjukkan cinta hakiki kita kepada Rasul dengan jalan menerapkan, memperjuangkan dan membela Islam yang beliau sampaikan!