Sunday, 1 January 2012

Biarlah Allah yang Memilihnya Untukmu



Di suatu sudut taman, aku melihat seorang gadis sedang menangis. Tidak..dia tidak sendirian, namun ditemani seorang wanita dan seorang laki-laki. Kebetulan duduk kami tidak lah berjauhan, samar-samar aku masih mendengar pembicaraan mereka.

“Kalau kamu yakin, abang sih nggak apa-apa Lena. Toh kamu sudah besar, bisa memilih dan memilah, ya kan ummi? Tapi yang abang nggak suka, cara kalian berhubungan.”

Aku sudah bisa menerka, bahwa wanita dan laki-laki itu adalah sepasang suami istri dan gadis itu adalah adik dari laki-laki itu. Dan lagi-lagi aku bisa menebak ke arah mana pembicaraan mereka, apalagi kalau bukan “Cinta”

“Aku juga tahu batasannya, Bang.” Gadis itu menjawab dengan sesegukan.

“Lena, seorang laki-laki yang mengenal syariat dan kalau dia benar mencintaimu seperti yang dia katakan, dia tidak akan pernah memanjakanmu dengan kata-kata manis sebelum dia halal denganmu. Karena dia tahu, apa yang dia perbuat padamu selalu ada yang melihatnya yaitu Allah.”

Giliran wanita tadi yang berbicara, rupanya yang wanita bisa berpikir lebih bijak, mungkin karena dia sama-sama wanita dan lebih paham isi hati wanita.

“Biarlah Allah yang memilihkannya untukmu, Lena. Memilihkan laki-laki yang pantas untukmu, yang perlu kamu lakukan adalah membersihkan hatimu dari virus-virus yang menyerangnya agar kelak laki-laki yang dipilihkan-Nya untukmu pun bersih dari virus hati yang merusaknya.”

Ada genangan di mataku yang berubah menjadi butiran-butiran yang terus menetes di pipiku. Semakin menderas. Nasehat itu seolah-olah ditujukan Allah untukku lewat wanita tadi.

Aku baru patah hati dan putus cinta karena laki-laki yang tadinya aku cintai lebih memilih orang lain. Dan di taman inilah aku menginjakkan kaki untuk menenangkan pikiranku, dan ternyata Allah memberikanku sebuah kejutan yang membuat hatiku terbuka lewat tiga orang itu. Terima kasih yaa Rabb, Kau masih mencintaiku justru ketika aku berpaling dari-Mu.

***

Banyak yang tidak menyadari ketika hati memilih seseorang, seolah-olah dia pasti akan menjadi pendampingmu. Padahal belum tentu adanya, jadi ketika Allah Azza Wa Jalla memutuskan untuk mengembalikanmu kepada-Nya dengan menjauhkanmu dari maksiat, kamu justru membenci-Nya, menyalahkan takdir-Nya.

Kesadaran kamu atas cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah disamarkan oleh cinta pada makhluk-Nya, sangat disayangkan kamu lupa bahwa dengan mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kamu justru akan mendapatkan cinta yang jauh lebih berharga.

Sadarilah, Allah akan memilihkanmu seseorang yang jauh lebih pantas ketika kamu mampu menjaga hatimu dari kekejian massa yang memberikan kebebasan pada kemaksiatan ketimbang kamu memilih ikut untuk berkecimpung dalam kemaksiatan dengan dalih-dalih cinta atau ketakutan tidak mendapatkan cinta.

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS An Nur:26)

Cinta Merobohkan Akalku



Seorang ahli ibadah bernama Umar, sedang asyik dengan kkhusyuannya membaca setiap ayat Al Quran dengan lantunan sangat indah. Tiba-tiba datanglah seorang wanita cantik duduk di depannya dengan pakaian seadanya tak menutupi auratnya. Dengan sangat terkejut umar lalu beristighfar dan langsung menundukkan pandangannya.

”Saudariku,apa yang kau lakukan disini,tolong keluarlah atau fitnah akan mengguncang kita,” kata umar bergetar.

“Aku tergoda olehmu, aku mencintaimu, aku ingin bermesraan denganmu,apakah kau tak menyukaiku?,” wanita itu mencoba merayu.

”Pergilah, syetan telah merusak jiwamu,” dengan penuh ketegasan umar mengusirnya.

” Tidak wahai umar, aku rusak karna cintamu, aku buta karna cintamu, lihatlah aku yang begitu mencintaimu, menginginkanmu ada dipelukanmu,” wanita itu terus menggodanya.

” Baik, aku ingin bertanya padamu saudariku. Jika engkau membenarkan perkataanku,maka aku mau melakukan apapun yang kau minta,”kata umar

”Jangan tanya lagi, aku pasti akan membenarkan semuanya,”kata wanita itu senang.

”Jika malaikat maut datang menemui dan akan mencabut nyawamu, apakah kau mau jika peristiwa itu datang saat aku sedang memuaskan nafsumu?” umar mulai bertanya.

” Demi Allah,tentu saja tidak!!” Wanita itu terkejut mendengar pertanyaan umar.

“Jika kau masuk ke dalam kubur lantas di dudukkan dan ditanya oleh malaikat tentang perbuatanmu, apakah kau senang jika aku memuaskan nafsumu??” umar terus bertanya.

” Demi Allah,tentu saja tidak !!”wanita itu mulai menangis

” Jika manusia diberikan buku amalnya di hari kiamat, sedangkan kau tak tau akan menerima dengan tangan kanan atau tangan kirimu, apakah kau suka jika aku memuaskan nafsumu??”

” Demi Allah,tentu saja tidak !!” kata wanita itu tertunduk

” Jika kau melewati jembatan Shirathal Mustaqim padahal kau belum tau apakah selamat atau tidak, apakah kau masih senang jika aku memuaskan nafsumu??”

” Demi Allah,tentu saja tidak!! cukup wahai umar! ”wanita itu terus menangis.

” Jika kau datang pada timbangan amal, padahal kau belum tahu timbanganmu berat atau ringan,apakah kau masih senang jika aku memuaskan nafsumu?”

” Demi Allah, tentu saja tidak !!”

” Jika engkau berdiri dihadapan Allah untuk ditanya dan dimintai pertanggung jawaban.apakah kau masih senang jika aku memuaskan nafsumu??”

“ Demi Allah,tentu saja tidak!!” wanita itu menangis tak tertahan lagi.

” Bertakwalah kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya Allah telah memberimu nikmat kecantikan, tak sepatutnya kau menampakkan kecantikan dan auratmu.” kata umar menenagkan.

” Wahai umar, maafkan lah aku, aku begitu mncintaimu, aku selalu terkagum-kagum dengan ibadahmu, sedangkan aku tak mampu meraihmu, hanya bisa melihatmu dari jauh,” kata wanita itu mencoba menghapus air matanya yang terus mengalir.

”Baiklah,kala engkau mau berubah akan ku bimbing engkau, aku akan menikahimu sekarang juga”

Bergetar umar mengatakan itu, umar ingin beribadah denganya. Tak mungkin dipungkiri,telah bergetar hati umar dibuatnya.

”Benarkah umar?” terkejut wanita itu mendengar perkataannya.

”Bawa walimu kemari, aku akan menyiapkan mahar dan saksinya,” masih dengan tertunduk malu,umar tersenyum.

”Terimakasih umar,aku akan segera membawa waliku kemari.”

Tangis wanita itu berubah menjadi tangis kebahagiaan. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan berubah mengikuti calon suaminya umar.

Pernikahan itu akhirnya terjadi,wanita itu menunggu di rumahnya. Dirinya tak percaya melihat sosok yang ada di cermin di hadapannya, kini wanita yang tadi pagi ingin memuaskan hasratnya pada Umar telah membalut dirinya dengan jilbab. Senyum merekah menghiasai bibir merahnya.

Pamannya telah menjemput untuk mengantarkannya pada Umar, suaminya.. Paman wanita itu terkejut melihat penampilan wanita yang ada di hadapannya sekarang berubah.

”Apa yang membuatmu berubah seperti ini anakku?beruntung sekali Umar mendapatkanmu.” Pamanya bertanya heran

”Tidak paman,aku yang beruntung mendapatkannya,” wanita itu tersenyum senang.

Sampailah wanita itu di rumah Umar,dengan malu-malu Umar menyambutnya. Kini mereka menggenggam erat satu sama lain dalam kehalalan untuk beribadah padaNya.

(Yang di cetak tebal di atas saya ambil dari buku “Taman Para Pecinta” (Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

***

Akhi, seandainya kamu adalah pemeran utama dari kisah di atas, apa yang akan kamu lakukan? Mampukah kamu seteguh Umar? Mampukah kamu keluar dari Nafsu yang membelenggu ketika akal sudah dikuasai nafsu? Atau ikut kata pepatah “Mana ada kucing nolak kalau diberi ikan, meskipun itu hanya tulangnya saja”…Masyaallah…Renungkanlah Saudaraku!

Ukhti, seandainya kamu adalah pemeran utama dari kisah di atas, akal dan hatimu sudah dibutakan oleh cinta yang berbalut nafsu, akankah kamu mampu lepas dari belenggunya walaupun kamu katakan atas nama cinta? Kamu hilangkan kehormatanmu demi cinta yang tak halal? Kamu pupuskan harga dirimu demi cinta yang bernoda? Atau kamu hanya ingin ikuti kata” Demi cinta, akan ku korbankan apa saja demi dirimu kasih”, padahal belum tentu kekasih yang kamu banggakan, mau berkorban untukmu setelah kehormatan dan harga dirimu terenggut.. Masyaallah…Renungkanlah Saudariku!

Pikirkanlah ketika engkau hendak berbuat kemaksiatan, Allah selalu melihatmu. Pangkal segala maksiat,kelalaian dan syahwat adalah Mengumbar Nafsu. Sedangkan pangkal dari ketaatan adalah Dikekangnya nafsu.