Wednesday, 9 June 2010

Mau-kah Jadi Pendamping Rasulullah di Sorga?

Bismillahirohmannirohiim...

Asalamualaikum Wr Wb,
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Syaikhani, Imam malik, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'I dari Sahl bin sa'd As-Sa'idi, dari Rasulullah SAW bersabda:

"أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى"

"Aku dan pengasuh anak yatim di surga begini, kemudian beliyau mengisyaratkan dengan kedua jari telunjuk dan jari tengah". HR. Bukhori Muslim.

Yatim bagi manusia adalah orang yang bapaknya telah meninggal dunia sebelum dia sampai baligh,. Diantara hak anak yatim yang ada pada kita adalah mengasuhnya, menyayanginya, mencintainya, sebagaimana wajib bagi kita semua untuk membantu orang-orang jompo dan orang-orang miskin, mengasihani orang-orang yatim, mencintai sesama saudara seislam untuk meraih ridha Allah SWT, dan menggapai keberada'an kita bersama Rasulullah SAW di syurga nanti. Karena dia hanyalah seorang anak yang tidak berdaya, tidak mempunyai ayah yang menafkahinya tidak juga ibu yang mengasuh, merawat dan menyayanginya. Dia dihidupi dengan hartanya sendiri jika orangtuanya meninggalkan harta, dan jika sedang sakit dia sendirilah yang merasakan kepedihan itu.

Suatu hal yang wajib dilakukan oleh orang muslim lainnya adalah mengasuhnya menghindari berbuat jahat kepadanya, dan membuahkan hartanya serta merawatnya, hingga dia sampai aqil baligh dan telah mampu melaksanakan kewajibannya sendiri. Akan tetapi masih saja ada beberapa orang yang telah kehilangan indera perasanya, dan bertambah kejahatannya, sehingga merekapun merebut kesempatan dalam kelemahan anak yatim, kemudian mereka menggunakan hartanya dengan seenaknya dan menganggapnya sebagai harta warisan dari nenek moyangnya sendiri. Mereka tidak pernah mengasihani kelemahan mereka, apa lagi menghargai keberada'annya. Bahkan mereka memakan harta anak yatim dengan tanpa hak. Mereka mengganti kewajiban mengasihi dan menyayangi mereka dengan merusak keada'an dan harta mereka, Allah SWT telah berfirman dalam hal ini:
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا (10) [النساء : 10

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”.

Seorang mukmin tidak dianggap mukmin kecuali telah mencintai saudaranya sendiri sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri, Allah SWT telah berfirman:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (9) [النساء : 9]

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar”.

Orang yang mengasuh anak yatim, memuliakan pendidikannya, dengan berbuat baik kepadanya, menyayanginya, maka telah mempunyai sifat belas kasih, dan telah melaksanakan kewajibannya sebagai anggota masyarakat, dan juga telah berbuat baik kepada saudaranya sendiri sesama muslim yang telah meninggalkan keturunannya yang lemah menuju alam akherat. Orang tersebut juga telah tahu apa hak-hak orang-orang yatim tersebut, dia juga tidak menginginkan balasan atau butuh kepada harta-harta mereka, maka dari itu dia berhak untuk menjadi pendamping Rasulullah SAW di syurga.

Maka dari itu, telah diriwayatkan berbagai hadist dari rasulullah SAW tentang masalah ini, Al-Bazar meriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa beliyau bersabda:
"من كفل يتيما له أو لغيره وجبت له الجنة إلا أن يكون عمل عملا لا يغفر “.

“Barangsiapa mengasuh anak yatim baik miliknya atau milik orang lain, maka wajib baginya masuk surge kecuali jika dia melakukan perbuatan yang tidak diampuni oleh Allah SWT”.

Nabi kita Muhammad SAW juga telah diasuh dalam keada’an yatim diwaktu kecilnya, Ayahnya yang bernama Abdullah bin Abdul Muththalib meninggal dunia ketika beliau masih dalam kandungan ibunya berumur dua bulan, ibunya kemudian meninggal dunia ketika beliyau berumur enam tahun, kemudian kakeknya yang bernama Abdul Mutthalib yang telah diperintahkan oleh Allah untuk merawat dan mengasuhnya agar supaya beliau tidak terlalu meratapi keadaannya, kemudian Allah SWT berwasiat kepada Rasulullah SAW untuk menyayangi dan mengasuh anak yatim, dan mewasiatkan hal ini kepada seluruh umat-Nya. Allah SWT telah berfirman:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى (٦)وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى (٧)وَوَجَدَكَ عَائِلا فَأَغْنَى (٨)فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ (٩)وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ (١٠)وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (١١)

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang. dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.”

Rasulullah SAW telah menjawab pertanyaan yang ada dalam ayat tersebut dengan bersabda: “Benar wahai tuhanku”, kemudian Allah SWT berfirman: “Apakah keta’atanmu pada waktu itu lebih mulia, ataukah keada’anmu sekarang lebih mulia?” kemudian RAsulullah SAW menjawab: “Akan tetapi sekarang lebih mulia wahai tuhan”, kemudian Allah SWT berfirman: “Ketika kamu masih kecil dan lemah, Aku tidak membiarkanmu dalam keadaan seperti itu, akan tetapi Aku telah menjaga dan membiarkanmu tetap berkembang, hingga kamu menjadi pemimpin ‘Arsy, Kemudian Kami (Allah) katakan padamu: “Kalau Bukan karenamu Kami tidak menciptakan dunia, apakah engkau menyangka setelah keada’an itu Kami menghukum dan membiarkanmu?”.

Kemudian setelah kakeknya merasa bahwa dia telah mendekati ajalnya dia berwasiat kepada Abu Thalib untuk mengasuhnya, dan menaruh kepercaya’annya kepada Abu Thalib, karena Rasulullah SAW adalah anak dari saudaranya sendiri Abdullah bin Abdul Mutthalib.

Dalam Ayat terahir dari surat Ad-Dhuha ini Allah memerintahkan untuk menyiarkan nikmat yang telah Allah berikan kepada Rasulullah SAW. Akan tetapi nikmat apa yang harus disiarkan ini?, Ulama tafsir berbeda pendapat tentang nikmat ini. Pendapat pertama adalah bahwa nikmat tersebut adalah yang berupa Al-Qur’an, karena inilah nikmat termuliya yang diberika kepada Rasulullah SAW, pendapat lain mengatakan bahwa nikmat tersebut adalah nikmat yang telah Allah berikan kepada Rasulullah SAW yang berbentuk tindakan Rasulullah SAW dalam menjaga dan memelihara hak anak yatim. Yang bias diartikan: “Taufik ini adalah sebuah nikmat dari Allah SWT, maka siarkanlah kepada umatmu, agar mereka mengikutimu”.

Telah diriwayatkan juga dari Al-Husein RA dia mengatakan: “Jika kamu berbuat baik maka siarkanlah kepada saudaramu, agar mereka mencontohnya”. Sedangkan orang yang paling berbahagia adalah orang yang menyerahkan seluruh waktunya untuk anak yatim, fakir miskin, orang yang memerlukan, agar mendapatkan kedudukan tinggi dimata Allah SWT, dan syurga yang abadi.

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk selalu membimbing, mencintai, menjaga, dan menyayangi anak yatim agar kelak di syurga kita didampungi oleh kekasih kita tercinta Rasulullah SAW.Amiiin

Ada tambahan ; “KISAH NABI DAUD & PENYANTUN ANAK YATIM”.
Anak Yatim adalah ketentuan dari Allah SWT

Apabila ada anak yatim menangis, berguncanglah Arasy Allah. Bayangkanlah.

Suatu waktu Allah bertanya kepada Malaikat, "Apa yang membuat anak yatim ini menangis yang ayahnya telah aku tanam dibawah tanah?"

Malaikat menjawab, "Engkau lebih tahu, ya Allah."

"Wahai Malaikat, siapa yang bisa menyenangkan hati anak yatim, akan Aku buat mereka senang di Akhirat."

Perhatian anak yatim seharusnya berawal dari keluarga dekat. Kalau keluarga dekat tidak mampu, tentu ini tanggung jawab pemerintah. Tapi melihat pahalanya yang begitu besar dan kemuliaan yang didapat karena menyayangi dan memperhatikan anak yatim, ini seharusnya menjadi perburuan setiap muslim. Jaminannya adalah surga dan kedekatan dengan Rasulullah SAW di surga.

Kisah Nabi Daud as

Suatu ketika Nabi Daud sedang bercengkerama dengan seorang sahabatnya, seorang anak muda yang kaya dan sukses. Anak muda ini belum menikah.

Sedang asyiknya mereka bercerita dan tertawa, tiba-tiba datang malaikat pencabut nyawa, Malaikat Izrail. Anak muda ini tentu tidak bisa melihat Malaikat Izrail, tapi Nabi Daud tahu.

Nabi Daud bertanya, "Engkau datang mau silaturahim, atau mau mencabut nyawa seseorang?"

Malaikat Izrail bukannya menjawab, malah balik bertanya, "Siapa orang yang di sampingmu itu?"

Nabi Daud menjawab, "Ini temanku yang baik dan suka menolong, dia berniat berumah tangga minggu-minggu ini."

Izrail lalu berkata lagi, "Usia anak muda ini tinggal 6 hari lagi".

Mendengar pernyataan Malaikat, berubah pucatlah muka Nabi Daud, teman akrabnya akan meninggal padahal dia berencana mau menikah.
Namun Nabi Daud tidak memberitahu temannya itu.

Waktu berjalan terus. Hari berlalu sampai hari keenam, tetapi ternyata tidak ada kematian dirumah sahabatnya itu. Sampai dua minggu, satu bulan, dua bulan, enam bulan, tidak ada kematian. Dalam hati Nabi Daud timbul pertanyaan, apa kemungkinan Malaikat Izrail salah?

Setelah enam bulan, Izrail datang kembali ke istana Nabi Daud.
Nabi Daud bertanya tanpa basa-basi terlebih dahulu, "Engkau katakan usia temanku tinggal enam hari, tapi sampai hari ini ia masih hidup. Kenapa?"

Lalu berceritalah Malaikat Izrail, "Suatu hari temanmu ini datang dini hari ke suatu tempat yang tidak satu pun orang tahu, dia pergi ke tempat perawatan anak yatim, itu terjadi sebelum batas enam hari usianya akan berakhir.

Sang ibu yang merawat beberapa anak Yatim heran, ada apa seseorang muda datang dini hari, tanpa ditemani oleh siapa-siapa.

Pemuda itu berkata, "Aku tahu, engkau merawat anak yatim, aku datang untuk memberi sedikit bantuan."

Anak-anak yatim yang terbangun mendengar ada orang datang lalu bergembira dan melompat-lompat serta bersyukur karena tamu itu memberikan bantuan kepada mereka. Terbayang oleh mereka tidak akan kelaparan, Mereka sangat berterima kasih kepada pemuda itu.

Ketika si anak muda hendak pamit pulang, si Ibu berkata, "Aku hanya bisa berdoa: Ya Allah, panjangkanlah usia anak muda ini, jadikanlah ia teman duduk di surga."
Lalu semuanya berucap, "Amin.'
Ketika sampai harinya, saat aku akan mencabut nyawanya, turun perintah langsung dari Allah SWT, "Jangan cabut nyawa anak muda ini sebelum ada perintah dariku. Engkau pernah mengatakan usia anak muda ini tinggal enam hari. Sekarang aku ganti enam hari setiap harinya sepuluh tahun, setelah itu kau boleh cabut nyawanya," demikian perintah Allah SWT.

Lalu Malaikat Izrail memandang Nabi Daud dan berkata lagi, "Itu yang membuat aku tidak datang pada saat enam hari yang aku janjikan itu."

Cerita ini dikisahkan dalam kitab Arraudhul Faiq Fil Mawadi Wal Raqaib.
Kelebihan dari pahala merawat anak yatim :

Perhatikan dialog ini :

Petang itu, kang Jamil mengantar pak Yanto berkunjung ke kediaman kyai Achid.
“Kyai, saya telah menunaikan ibadah haji tiga tahun yang lalu, dan tahun ini saya ingin berhaji lagi. Bagaimana menurut Kyai?” Tanya pak Yanto setelah berbasa-basi secukupnya.
“Dalam banyak Hadis disebutkan betapa besar pahala ibadah haji yang mabrur.” Jawab Kyai, “Misalnya Hadis muttafaq ‘alaih yang menyatakan bahwa pahala haji yang mabrur adalah surga. Dan Hadis riwayat al-Bukhari yang menyatakan bahwa orang yang hajinya mabrur, semua dosanya akan dihapuskan, mirip seperti bayi yang baru terlahir di dunia”.
Pak Yanto dan kang Jamil mendengarkan jawaban kyai dengan seksama.
"Tapi ia masuk surga sendirian", Demikian ujar kyai Achid.
"Beda dengan orang yang mau merawat anak yatim, atau membiayai pendidikannya. Orang ini dijamin oleh Kandjeng Nabi Muhammad masuk surga bersama beliau". Tambah beliau, "Demikian keterangan dari Ummul Mukminin Aisyah, seperti yang termaktub dalam Hadis riwayat al-Imam al-Bukhari".
"Kyai, surga Kandjeng Nabi seperti apa bagusnya?" Tanya pak Yanto.
"Di surga tersedia semua yang kita kehendaki dan kita inginkan. Demikian keterangan yang terdapat dalam al-Quran Surat al-Zukhruf ayat 71. Bahkan semua kenikmatan yang mungkin terlintas di benak kita, sesungguhnya kenikmatan surga lebih baik, jauh lebih enak, dan juuaauuuh lebih nikmat". Jawab kyai dengan bersemangat."Dalam Hadis riwayat al-Imam Muslim diterangkan bahwa orang yang terakhir masuk surga akan mendapat surga yang luasnya sepuluh kali lipat dunia ini. Dan surga yang demikian itu adalah surga kelas emperan, kelas yang paling ekonomis.” Sambung kyai, “Lalu menurut sampeyan surga tempat tinggal Kandjeng Nabi seperti apa?".
"Tentu surga untuk Kandjeng Nabi jauh lebih luhur, lebih agung, lebih indah, lebih nyaman, lebih menyenangkan, lebih enak, lebih baik dan lebih nikmat. Pokoknya surga untuk Kandjeng Nabi pasti yang terbaik! Kelas super super super Vi Ai Pi, lah!". Jawab kang Jamil mantap.
"Nah, orang yang mau merawat anak yatim akan bersama beliau di surga kelas super super super VIP itu". Sambut kyai.
"Jadi kita bisa dapet surga kelas super super super Vi Ai Pi, kalau kita mau merawat anak yatim Kyai?". Tanya kang Jamil lagi.
"Betul, demikian janji Kandjeng Rasul seperti yang disampaikan oleh Ibunda Aisyah". Jawab kyai dengan senyumnya yang menyejukkan hati.
"Walaupun amal kebajikan kita sedikit?" Kang Jamil penasaran.
"Ya, walau amal kebajikan kita sedikit, yang penting ikhlas dan Allah Ta'ala menerimanya". Kyai menghela napasnya, “Semisal presiden akan melakukan perjalanan ke luar kota dengan menaiki kereta api, menurut sampeyan, kira-kira dia naik kereta api kelas ekonomi atau kelas VIP?”
“Ya tentunya naik kelas VIP!” jawab kang Jamil, “Masak presiden naik kereta api kelas ekonomi”.
“Nah, presiden biasanya ditemani menteri-menterinya dan robongan yang terdiri dari para pelayan dan petugas pengaman kepresidenan. Menurut sampeyan, rombongan presiden itu naik kereta VIP yang sama dinaiki presiden atau mereka naik kereta kelas ekonomi?” Tanya kyai lagi.
“Para menteri dan rombongan pastinya ikut kereta yang sama dengan yang dinaiki presiden” jawab kang Jamil.
“Lho, pelayan dan petugas keamanan kok bisa naik kereta yang sama dengan yang dinaiki presiden?” Tanya kyai Achid.
“Tentu saja bisa, lha wong presiden yang mengajak mereka” jawab pak Yanto dengan mantap.
“Begitu pula kita yang amal kebajikannya minim dan sering kali masih disusupi perasaan ujub dan riya`. Kita bisa masuk surga kelas vi ai pi kalau diajak Rasulullah.” ujar kyai Achid, “Jadi, kalau saya boleh mengusulkan, anda urungkan saja niat berhaji lagi, toh anda sudah pernah melaksanakan ibadah haji sementara kewajiban haji hanya berlaku sekali seumur hidup. Uang ONHnya bisa anda salurkan untuk panti asuhan anak yatim, agar anda diajak Rasulullah masuk ke dalam robongan beliau, dan menjadi tetangga beliau di surga yang kelasnya super vi ai pi”.
Kang Jamil dan pak Yanto menganggukan kepala..

Untuk itu, mari kita pahami ilmu fiqih yang menjadi dasar ilmu bagi kaum muslim dalam beribadah, jangan hanya menjalanka------------ibadah------------------tanpa-----------disertai-------------ilmu-------------dan--------------pemahamannya.

Nah. Saya, tentu saja, tidak mau jadi ahli ibadah yang tidak berilmu. Anda juga tidak mau kan? Wallahu a’lam bishowab.
Semoga bermanfaat : …………………………………………InsyaAllah.

Renungan :
Sahabatku,
Bahkan ada seorang ulama salaf yang pernah menggali lubang kuburan untuk dirinya sendiri. Bila ia mengalami dan merasakan kejemuan dalam beramal, ia pun turun ke dalam lobang itu. Di sana ia menyelonjorkan tubuhnya. Lalu berkata : “Wahai diriku ! Anggaplah sekarang ini engkau telah mati dan telah berada dalam liang lahadmu, apakah yang engkau inginkan ?”.

Maka ia pun menjawab : “Aku ingin dikembalikan lagi ke dunia agar aku dapat beramal shaleh.”
Ia lalu mengatakan kepada dirinya sendiri : “Sekarang engkau telah mendapatkan apa yang engkau inginkan. (Engkau sekarang masih hidup di dunia). Bangunlah dan kerjakanlah amal shaleh itu !”.

Firman ALLAH SWT :
“Artinya : Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri (pemimpin-pemimpin) di antara kamu, maka jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisaa': 59]

Taufiq WABILLAHI WALHIDAYAH WASSALAMU'ALAIKUM WR. WB.
Insya Allah muslim.

Masuk surga & masuk neraka karena seekor lalat



Imam Thariq bn Syihab pernah berkata dalam majelis pengajiannya, “Ada orang yang masuk karena seekor lalat, dan ada pula yang masuk neraka karena seekor lalat.”
Tak ayal, kaum Muslimin yang hadir dalam pengajian itu terperanjat mendengar perkataan Imam Thariq bin Syihab. Mereka penasaran.
“Bagaimana hal itu bisa terjadi?” tanya mereka serempak.
Lalu Imam Thariq bin Syihab menuturkan sebuah kisah indah,
“Ada 2 orang melakukan pengembaraan. Suatu hari, mereka memasuki daerah yang didiami oleh sebuah kaum yang menyembah berhala. Kaum itu memiliki berhala yang disembah dan dikeramatkan. Orang yang melewati daerah mereka, harus memberikan korban sebagai sesembahan untuk berhala itu. Jika tidak mau memberikan korban, maka mereka tidak akan dibiarkan keluar dari daerah itu dalam keadaan hidup.
Dua orang itu pun mengalami hal yang sama. Mereka harus memberikan sesembahan pada berhala. Lelaki pertama sangat takut pada kematian. Karena dia tidak memiliki apa-apa, akhirnya dia menangkap seekor lalat dan memberikannya kepada berhala itu sebagai sesembahan.
Sedangkan lelaki yang kedua, tetap teguh memegang akidahnya. Dia tidak mau berkorban untuk berhala itu, meskipun dengan seekor lalat. Dia memilih untuk taat pada ajaran agamanya; berkorban hanya boleh dilakukan jika sesuai dengan syariat, yaitu kurban Idul Adha yang dilakukan ikhlas karena Allah. Sedangkan memberikan sesembahan pada berhala, -meskipun hanya dengan seekor lalat- adalah perbuatan menyekutukan Allah. Itu adalah dosa paling besar. Akhirnya, dia dibunuh. Di mati syahid mempertahankan akidahnya & masuk surga.
Adapun lelaki yang satunya, akhirnya meneruskan perjalanan. Namun naas, baru berjalan beberapa puluh langkah, di tengah padang pasir dia digigit ular berbisa & akhirnya mati. Namun, dia mati dalam keadaan musyrik (menyekutukan Allah). Dia masuk neraka karena karena menyekutukan Allah, dengan memersembahkan seekor lalat pada berhala”

TOLONG DIBACA HINGGA SELESAI..DEMI PENGETAHUAN TENTENG YAHUDI LAKNATULLAH

Antara Zionisme dan Yahudi

HARUN YAHYA

Musim panas tahun 1982 menjadi saksi atas kebiadaban luar biasa yang menyebabkan seluruh dunia berteriak dan mengutuknya dengan keras. Tentara Isrel memasuki wilayah Lebanon dalam suatu serbuan mendadak, dan bergerak maju sambil menghancurkan sasaran apa saja yang nampak di hadapan mereka. Pasukan Israel ini mengepung kamp-kamp pengungsi yang dihuni warga Palestina yang telah melarikan diri akibat pengusiran dan pendudukan oleh Israel beberapa tahun sebelumnya. Selama dua hari, tentara Israel ini mengerahkan milisi Kristen Lebanon untuk membantai penduduk sipil tak berdosa tersebut. Dalam beberapa hari saja, ribuan nyawa tak berdosa telah terbantai.

Terorisme biadab bangsa Israel ini telah membuat marah seluruh masyarakat dunia. Tapi, yang menarik adalah sejumlah kecaman tersebut justru datang dari kalangan Yahudi, bahkan Yahudi Israel sendiri. Profesor Benjamin Cohen dari Tel Aviv University menulis sebuah pernyataan pada tanggal 6 Juni 1982:

Saya menulis kepada anda sambil mendengarkan radio transistor yang baru saja mengumumkan bahwa ‘kita’ sedang dalam proses ‘pencapaian tujuan-tujuan kita’ di Lebanon: yakni untuk menciptakan ‘kedamaian’ bagi penduduk Galilee. Kebohongan ini sungguh membuat saya marah. Sudah jelas bahwa ini adalah peperangan biadab, lebih kejam dari yang pernah ada sebelumnya, tidak ada kaitannya dengan upaya yang sedang dilakukan di London atau keamanan di Galilee…Yahudi, keturunan Ibrahim…. Bangsa Yahudi, mereka sendiri menjadi korban kekejaman, bagaimana mereka dapat menjadi sedemikian kejam pula? … Keberhasilan terbesar bagi Zionisme adalah de-Yahudi-isasi bangsa Yahudi. ("Professor Leibowitz calls Israeli politics in Lebanon Judeo-Nazi" Yediot Aharonoth, July 2, 1982)

Benjamin Cohen bukanlah satu-satunya warga Israel yang menentang pendudukan Israel atas Lebanon. Banyak kalangan intelektual Yahudi yang tinggal di Israel yang mengutuk kebiadaban yang dilakukan oleh negeri mereka sendiri.

Pensikapan ini tidak hanya tertuju pada pendudukan Israel atas Lebanon. Kedzaliman Israel atas bangsa Palestina, keteguhan dalam menjalankan kebijakan penjajahan, dan hubungannya dengan lembaga-lembaga semi-fasis di bekas rejim rasis Apartheid di Afrika Selatan telah dikritik oleh banyak tokoh intelektual terkemuka di Israel selama bertahun-tahun. Kritik dari kalangan Yahudi sendiri ini tidak terbatas hanya pada berbagai kebijakan Israel, tetapi juga diarahkan pada Zionisme, ideologi resmi negara Israel.

Ini menyatakan apa yang sesungguhnya terjadi: kebijakan pendudukan Israel atas Palestina dan terorisme negara yang mereka lakukan sejak tahun 1967 hingga sekarang berpangkal dari ideologi Zionisme, dan banyak Yahudi dari seluruh dunia yang menentangnya.

Oleh karena itu, bagi umat Islam, yang hendaknya dipermasalahkan adalah bukan agama Yahudi atau bangsa Yahudi, tetapi Zionisme. Sebagaimana gerakan anti-Nazi tidak sepatutnya membenci keseluruhan masyarakat Jerman, maka seseorang yang menentang Zionisme tidak sepatutnya menyalahkan semua orang Yahudi.

Asal Mula Gagasan Rasis Zionisme

Setelah orang-orang Yahudi terusir dari Yerusalem pada tahun 70 M, mereka mulai tersebar di berbagai belahan dunia. Selama masa ‘diaspora’ ini, yang berakhir hingga abad ke-19, mayoritas masyarakat Yahudi menganggap diri mereka sebagai sebuah kelompok masyarakat yang didasarkan atas kesamaan agama mereka. Sepanjang perjalanan waktu, sebagian besar orang Yahudi membaur dengan budaya setempat, di negara di mana mereka tinggal. Bahasa Hebrew hanya tertinggal sebagai bahasa suci yang digunakan dalam berdoa, sembahyang dan kitab-kitab agama mereka. Masyarakat Yahudi di Jerman mulai berbicara dalam bahasa Jerman, yang di Inggris berbicara dengan bahasa Inggris. Ketika sejumlah larangan dalam hal kemasyarakatan yang berlaku bagi kaum Yahudi di negara-negara Eropa dihapuskan di abad ke-19, melalui emansipasi, masyarakat Yahudi mulai berasimilasi dengan kelompok masyarakat di mana mereka tinggal. Mayoritas orang Yahudi menganggap diri mereka sebagai sebuah ‘kelompok agamis’ dan bukan sebagai sebuah ‘ras’ atau ‘bangsa’. Mereka menganggap diri mereka sebagai masyarakat atau orang ‘Jerman Yahudi’, ‘Inggris Yahudi, atau ‘Amerika Yahudi’.
Namun, sebagaimana kita pahami, rasisme bangkit di abad ke-19. Gagasan rasis, terutama akibat pengaruh teori evolusi Darwin, tumbuh sangat subur dan mendapatkan banyak pendukung di kalangan masyarakat Barat. Zionisme muncul akibat pengaruh kuat badai rasisme yang melanda sejumlah kalangan masyarakat Yahudi.

Kalangan Yahudi yang menyebarluaskan gagasan Zionisme adalah mereka yang memiliki keyakinan agama sangat lemah. Mereka melihat “Yahudi” sebagai nama sebuah ras, dan bukan sebagai sebuah kelompok masyarakat yang didasarkan atas suatu keyakinan agama. Mereka mengemukakan bahwa Yahudi adalah ras tersendiri yang terpisah dari bangsa-bangsa Eropa, sehingga mustahil bagi mereka untuk hidup bersama, dan oleh karenanya, mereka perlu mendirikan tanah air mereka sendiri. Orang-orang ini tidak mendasarkan diri pada pemikiran agama ketika memutuskan wilayah mana yang akan digunakan untuk mendirikan negara tersebut. Theodor Herzl, bapak pendiri Zionisme, pernah mengusulkan Uganda, dan rencananya ini dikenal dengan nama ‘Uganda Plan’. Kaum Zionis kemudian menjatuhkan pilihan mereka pada Palestina. Alasannya adalah Palestina dianggap sebagai ‘tanah air bersejarah bangsa Yahudi’, dan bukan karena nilai relijius wilayah tersebut bagi mereka.

Para pengikut Zionis berusaha keras untuk menjadikan orang-orang Yahudi lain mau menerima gagasan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama mereka ini. Organisasi Yahudi Dunia, yang didirikan untuk melakukan propaganda masal, melakukan kegiatannya di negara-negara di mana terdapat masyarakat Yahudi. Mereka mulai menyebarkan gagasan bahwa orang-orang Yahudi tidak dapat hidup secara damai dengan bangsa-bangsa lain dan bahwa mereka adalah suatu ‘ras’ tersendiri; dan dengan alasan ini mereka harus pindah dan bermukim di Palestina. Sejumlah besar masyarakat Yahudi saat itu mengabaikan seruan ini.

Dengan demikian, Zionisme telah memasuki ajang politik dunia sebagai sebuah ideologi rasis yang meyakini bahwa masyarakat Yahudi tidak seharusnya hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain. Di satu sisi, gagasan keliru ini memunculkan beragam masalah serius dan tekanan terhadap masyarakat Yahudi yang hidupnya tersebar di seluruh dunia. Di sisi lain, bagi masyarakat Muslim di Timur Tengah, hal ini memunculkan kebijakan penjajahan dan pencaplokan wilayah oleh Israel, pertumpahan darah, kematian, kemiskinan dan teror.

Banyak kalangan Yahudi saat ini yang mengecam ideologi Zionisme. Rabbi Hirsch, salah seorang tokoh agamawan Yahudi terkemuka, mengatakan:

‘Zionisme berkeinginan untuk mendefinisikan masyarakat Yahudi sebagai sebuah bangsa .... ini adalah sesuatu yang menyimpang (dari ajaran agama)’. (Washington Post, October 3, 1978)

Seorang pemikir terkemuka, Roger Garaudy, menulis tentang masalah ini:

Musuh terbesar bagi agama Yahudi adalah cara berpikir nasionalis, rasis dan kolonialis dari Zionisme, yang lahir di tengah-tengah (kebangkitan) nasionalisme, rasisme dan kolonialisme Eropa abad ke-19. Cara berpikir ini, yang mengilhami semua kolonialisme Barat dan semua peperangannya melawan nasionalisme lain, adalah cara berpikir bunuh diri. Tidak ada masa depan atau keamanan bagi Israel dan tidak ada perdamaian di Timur Tengah kecuali jika Israel telah mengalami “de-Zionisasi” dan kembali pada agama Ibrahim, yang merupakan warisan spiritual, persaudaraan dan milik bersama dari tiga agama wahyu: Yahudi, Nasrani dan Islam. (Roger Garaudy, "Right to Reply: Reply to the Media Lynching of Abbe Pierre and Roger Garaudy", Samizdat, June 1996)

Dengan alasan ini, kita hendaknya membedakan Yahudi dengan Zionisme. Tidak setiap orang Yahudi di dunia ini adalah seorang Zionis. Kaum Zionis tulen adalah minoritas di dunia Yahudi. Selain itu, terdapat sejumlah besar orang Yahudi yang menentang tindakan kriminal Zionisme yang melanggar norma kemanusiaan. Mereka menginginkan Israel menarik diri secara serentak dari semua wilayah yang didudukinya, dan mengatakan bahwa Israel harus menjadi sebuah negara bebas di mana semua ras dan masyarakat dapat hidup bersama dan mendapatkan perlakuan yang sama, dan bukan sebagai ‘negara Yahudi’ rasis.

Kaum Muslimin telah bersikap benar dalam menentang Israel dan Zionisme. Tapi, mereka juga harus memahami dan ingat bahwa permasalahan utama bukanlah terletak pada orang Yahudi, tapi pada Zionisme.

© 2005 Harun Yahya International. Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini info@harunyahya.com

Tuesday, 1 June 2010

faedah menikah di usia muda



Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam dan satu-satunya layak untuk disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Menikah di usia muda, siapa takut?

Berikut penjelasan yang bagus dari ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Sholih bin Fauzan bin 'Abdillah Al Fauzan -hafizhohullah- yang kami kutip dari Web Sahab.net (arabic).

[Faedah pertama: Hati semakin tenang dan sejuk dengan adanya istri dan anak]

Di antara faedah segera menikah adalah lebih mudah menghasilkan anak yang dapat menyejukkan jiwa. Allah Ta'ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

“Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Al Furqon: 74)

Istri dan anak adalah penyejuk hati. Oleh karena itu, Allah -subhanahu wa ta'ala- menjanjikan dan mengabarkan bahwa menikah dapat membuat jiwa semakin tentram. Dengan menikah seorang pemuda akan merasakan ketenangan, oleh karenanya ia pun bersegera untuk menikah.

هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Al Furqon: 74)

Demikian pula dengan anak. Allah pun mengabarkan bahwa anak adalah separuh dari perhiasan dunia sebagaimana firman-Nya,

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. ” (QS. Al Kahfi: 46)

Anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Setiap manusia pasti menginginkan perhiasan yang menyejukkan pandangan. Sebagaimana manusia pun begitu suka mencari harta, ia pun senang jika mendapatkan anak. Karena anak sama halnya dengan harta dunia, yaitu sebagai perhiasan kehidupan dunia. Inilah faedah memiliki anak dalam kehidupan dunia.

Sedangkan untuk kehidupan akhirat, anak yang sholih akan terus memberikan manfaat kepada kedua orang tuanya, sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : علم ينتفع به ، أو صدقة جارية ، أو ولد صالح يدعو له

“Jika manusia itu mati, maka amalannya akan terputus kecuali tiga perkara: [1] ilmu yang bermanfaat, [2] sedekah jariyah, dan [3] anak sholih yang selalu mendoakannya.”1

Hal ini menunjukkan bahwa anak memberikan faedah yang besar dalam kehidupan dunia dan nanti setelah kematian.

[Faedah kedua: Bersegera nikah akan mudah memperbanyak umat ini]

Faedah lainnya, bersegera menikah juga lebih mudah memperbanyak anak, sehingga umat Islam pun akan bertambah banyak. Oleh karena itu, setiap manusia dituntut untuk bekerjasama dalam nikah membentuk masyarakat Islami. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

تزوجوا فإني مكاثر بكم يوم القيامة

“Menikahlah kalian. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.”2 Atau sebagaimana sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

Intinya, bersegera menikah memiliki manfaat dan dampak yang luar biasa. Namun ketika saya memaparkan hal ini kepada para pemuda, ada beberapa rintangan yang muncul di tengah-tengah mereka.

Rintangan pertama:

Ada yang mengutarakan bahwa nikah di usia muda akan membuat lalai dari mendapatkan ilmu dan menyulitkan dalam belajar. Ketahuilah, rintangan semacam ini tidak senyatanya benar. Yang ada pada bahkan sebaliknya. Karena bersegera menikah memiliki keistimewaan sebagaimana yang kami utarakan yaitu orang yang segera menikah akan lebih mudah merasa ketenangan jiwa. Adanya ketenangan semacam ini dan mendapatkan penyejuk jiwa dari anak maupun istri dapat lebih menolong seseorang untuk mendapatkan ilmu. Jika jiwa dan pikirannya telah tenang karena istri dan anaknya di sampingnya, maka ia akan semakin mudah untuk mendapatkan ilmu.

Adapun seseorang yang belum menikah, maka pada hakikatnya dirinya terus terhalangi untuk mendapatkan ilmu. Jika pikiran dan jiwa masih terus merasakan was-was, maka ia pun sulit mendapatkan ilmu. Namun jika ia bersegera menikah, lalu jiwanya tenang, maka ini akan lebih akan menolongnya. Inilah yang memudahkan seseorang dalam belajar dan tidak seperti yang dinyatakan oleh segelintir orang.

Rintangan kedua:

Ada yang mengatakan bahwa nikah di usia muda dapat membebani seorang pemuda dalam mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Rintangan ini pun tidak selamanya bisa diterima. Karena yang namanya pernikahan akan senantiasa membawa keberkahan (bertambahnya kebaikan) dan akan membawa pada kebaikan. Menjalani nikah berarti melakukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan seperti ini adalah suatu kebaikan. Seorang pemuda yang menikah berarti telah menjalankan perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia pun mencari janji kebaikan dan membenarkan niatnya, maka inilah yang sebab datangnya kebaikan untuknya. Ingatlah, semua rizki itu di tangan Allah sebagaimana firman-Nya,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“ Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.” (QS. Hud: 6)

Jika engkau menjalani nikah, maka Allah akan memudahkan rizki untuk dirimu dan anak-anakmu. Allah Ta'ala berfirman,

نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An'am: 151)

Oleh karenanya ,yang namanya menikah tidaklah membebani seorang pemuda sebagaimana anggapan bahwa menikah dapat membebani seorang pemuda di luar kemampuannya. Ini tidaklah benar. Karena dengan menikah akan semakin mudah mendapatkan kebaikan dan keberkahan. Menikah adalah ketetapan Allah untuk manusia yang seharusnya mereka jalani. Ia bukan semata-mata khayalan. Menikah termasuk salah pintu mendatangkan kebaikan bagi siapa yang benar niatnya.

teladan buat istri & calon istri

Suatu ketika, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberitahu para shahabatnya bahwa istri Umar bin Khattab termasuk penduduk jannah karena perilaku baiknya kepada suami.

Mendengar berita tersebut, para shahabat pun terpana. Memang kelebihan amalannya apa dan bagaimana ?

Karena ingin mendapatkan kebaikan, mereka bertanya kepada istri Umar perihal sikapnya kepada suami, Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘Anhu.

Tahu, apa jawabannya ?

Jawabannya sangat sederhana….,

Bahkan sangat sederhana….,

Terkadang karena kesederhanaan jawaban itulah yang membuat ia begitu istimewa. Ia diberi jannah sebagai ganjarannya.

Ia pun menjawab pertanyaan para shahabat yang sudah menanti jawaban dengan penuh perhatian,

“Bila suamiku mencari kayu bakar,

Saat mencari rizki untuk kami,

Tentu ia merasakan kepenatan.

Teriknya matahari dan dahaga nyaris membakar rongga tenggorokannya.

Di rumah, aku menyiapkan air dingin untuknya

Sehingga….,

Ketika ia pulang, air tersebut bisa langsung mengobati dahaganya.

Aku juga telah merapikan perabotanku dan menyiapkan makanan untuknya.

Setiap hari….,

Aku menunggunya dengan mengenakan pakaian yang paling indah.

Ketika ia sudah berada di depan pintu rumah,

Aku menyambutnya bak seorang pengantian perempuan yang menyambut pasangan yang sangat dirindukannya.

Aku siap menyerahkan jiwaku kepadanya.

Jika ia hendak istirahat, aku pun akan membantunya.

Jika ia menginginkanku, aku pun berada di tulang hastanya,

Seperti anak kecil yang sedang dihibur ayahnya…..”





Indahnya…., jannah dunia seolah menjadi milik berdua saja.


Mudah kan…? so, jadikan sloganmu, "Baiti Jannati"


Fal Mau’id wal Jaza’, al-Jannah, janji dan balasannya adalah jannah.




NB; Umar bin Khatab pada kesehariannya bekerja mengumpulkan kayu bakar dari lereng gunung untuk kemudian dijual. Uang hasil penjualan tersebut kemudian dipakai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.