Di dalam terjemahan al Qur’an yang umum, kata “Hati” sering di pakai untuk menterjemahkan secara umum kata-kata “Shudur” (Dada), “Nafs” (Jiwa), “Qalb” (Hati) dan Fu’ad (Hati Kecil).
Fu’ad (Hati Kecil) sesungguhnya berada di dalam Hati (Qalb) dan Hati (Qalb) berada di dalam Shudur (Dada).
Fuad itu ibarat ruang kosong, dan yang pertama kali hadir di dalamnya adalah Jiwa dan Ruh yang suci dari Allah SWT, memiliki karakter dasar yang jujur apa adanya (QS. 53:11), dapat dipalingkan (QS. 6:110), bisa diisi – oleh keimanan atau kekufuran (QS. 28:10, QS. 14:43, QS. 6:113, QS. 23:78, QS. 67:23), berinteraksi kuat dengan Al-Qur'an (QS. 25:32, QS. 11:120), pondasinya ilmu (QS. 16:78), kecenderungan mencintai sesama (QS. 14: 37), dipengaruhi oleh indera pendengaran dan penglihatan (QS. 46:26), jenis hati yang pertama kali diaktifkan (QS. 32:9) dan yang kelak mempertanggungjawabkan amaliyahnya di hadapan Allah SWT (QS. 17:36, QS. 104:7).
Referensi:
1) Hati kecil yang tidak mendustakan QS. 53:11
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَىٰ [٥٣:١١
“Hati kecil” nya (fu’ad - fu’aadu) tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. (QS. An-Najm [53]:11)
2) Hati kecil yang dipalingkan oleh Allah sehingga sesat QS. 6:110
وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ [٦:١١٠
Dan (begitu pula) Kami memalingkan “hati kecil” (fu’ad - af’idatahum) dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (QS. Al-An’aam [6]:110)
3) Hati kecil yang bisa menjadi Kosong (frustasi) QS. 28:10
وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَارِغًا ۖ إِنْ كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَنْ رَبَطْنَا عَلَىٰ قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ [٢٨:١٠
Dan menjadi kosonglah “hati kecil” (fu’ad - fu’aadu) ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan “hati”nya (qalbihaa), supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). (Al-Qashash [28]:10)
4) Hati kecil yang kosong (melamun/mata tak berkedip) QS. 14:43
مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ ۖ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاءٌ [١٤:٤٣
mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mangangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan “hati kecil” (fu’ad - af’idatuhum) mereka kosong.
5) Hati kecil yang tidak beriman QS. 6:113
وَلِتَصْغَىٰ إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُقْتَرِفُونَ [٦:١١٣
Dan (juga) agar “hati kecil” (fu’ad - af’idahu) orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan. (QS. Al-An’aam [6]:113)
6) Hati kecil yang tidak bersyukur QS. 23:78
وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ [٢٣:٧٨
Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan “hati kecil” (fu’ad - af’idah). Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS. Al-Mu’minuun [23]:78)
7) Hati kecil yang di-ingatkan untuk bersyukur QS. 67:23
قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۖ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ [٦٧:٢٣
Katakanlah: "Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan “hati kecil” (fu’ad - af’idah)". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (QS. Al-Mulk [67]:23)
8) Hati kecil yang semakin kuat ketika dibacakan Al-Qur’an QS. 25:32
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا [٢٥:٣٢
Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat “hati kecil” mu (fu’ad - fu’aadaka) dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (QS. Al-Furqaan [25]:32)
9) Hati kecil yang semakin teguh dengan kisah-kisah Rasul QS. 11:120
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ [١١:١٢٠
Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan “hati kecil” (fu’ad - fa’aadaka); dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Hud [11]:120)
10) Hati kecil yang membuat kita menjadi berilmu dan harus kita syukuri QS. 16:78
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [١٦:٧٨
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan “hati kecil” (fu’ad - af’idah), agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl [16]:78)
11) Hati kecil yang mencintai/cenderung kepada sebagian manusia QS. 14:37
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ [١٤:٣٧
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah “hati kecil” (fu’ad - af’idatan) sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim [14]:37)
12) Hati kecil yang tidak dapat bekerja secara sinergis dengan Pendengaran dan Penglihatan QS. 46:26
وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ [٤٦:٢٦
Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan “hati kecil” (fu’ad - af’idah); tetapi pendengaran, penglihatan dan “hati kecil” (fu’ad - af’idah) mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya. (QS. Al-Ahqaf [46]:26)
13) Hati kecil yang diaktifkan setelah hadirnya Ruh (pendengaran, penglihatan, dan Fuad) QS. 32:9
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ [٣٢:٩
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan “hati kecil” (fu’ad - af’idah); (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (As-Sajadah [32]:9)
14) Hati kecil yang dimintai pertanggungjawaban QS. 17:36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا [١٧:٣٦
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan “hati kecil” (fu’ad - fu’aada), semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Israa [17]:36)
15) Hati kecil yang dibakar di neraka Huthamah QS. 104:7
الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ [١٠٤:٧
yang (membakar) sampai ke “hati kecil” (fu’ad - af’idah). (QS. Al-Humazah [104]:7)
Tuesday, 5 July 2011
SUAMI ITU PAKAIAN TUK ISTRINYA DAN ISTRI ITU PAKAIAN TUK SUAMI NYA BGITU JUGA DGN PASANGAN KITA
Istri merupakan pakaian untuk suaminya. Suami merupakan pakaian untuk istrinya. Begitukah? Ya, begitulah adanya! Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan perempuan (Q.S. 49: 13) agar saling mengenal dan akhirnya saling membantu serta saling melengkapi. Mari kita simak firman Allah berikut ini!
“… Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka…”(Q.S. Al-Baqarah [2]: 187)
Mengapa Suami Istri dikatakan sebagai pakaian? Apa rahasia di balik itu? Apa fungsi pakaian dalam ajaran Islam?
Jika demikian, ketika seorang istri dikatakan sebagai pakaian untuk suaminya, dan seorang suami merupakan pakaian untuk istrinya, maka:
“… Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka…”(Q.S. Al-Baqarah [2]: 187)
Mengapa Suami Istri dikatakan sebagai pakaian? Apa rahasia di balik itu? Apa fungsi pakaian dalam ajaran Islam?
Pakaian (sandang) merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia di samping makanan (pangan) dan tempat tinggal (papan). Selain berfungsi menutup tubuh, pakaian juga dapat merupakan pernyataan lambang status seseorang dalam masyarakat. Sebab berpakaian ternyata merupakan perwujudan dari sifat dasar manusia yang mempunyai rasa malu sehingga berusaha selalu menutupi tubuhnya.Dalam ajaran Islam, pakaian bukan semata-mata masalah budaya dan mode. Islam menetapkan batasan-batasan tertentu untuklaki-laki maupun perempuan. Adapun berdasarkan firman llah di dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl [16]: 81 dan Surat Al-A’raf [7]: 26-, pakaian itu mempunyai tiga fungsi utama yaitu:
- Sebagai penutup aurat.
- Sebagai perhiasan. Maksudnya adalah sebagai perhiasan untuk memperindah penampilan di hadapan Allah dan sesama manusia. Sebagai perhiasan, seseorang bebas merancang dan membuat bentuk atau mode serta warna pakaian yang dianggap indah, menarik, serta menyenangkan, selama tidak melanggar batas-batas yang telah ditentukan.
- Sebagai pelindung tubuh dari hal-hal yang merusak, seperti panas, dingin, angin kencang, sengatan matahari dan sebagainya.
Jika demikian, ketika seorang istri dikatakan sebagai pakaian untuk suaminya, dan seorang suami merupakan pakaian untuk istrinya, maka:
- Sorang istri harus mampu menjaga kehormatan suaminya, menutupi aibnya, merahasiakan kelemahannya agar dihormati oleh orang lain. Cukuplah ia yang mengetahui kekurangan apa pun yang ada pada diri suaminya. Begitupun seorang suami terhadap istrinya harus mampu melakukan hal yang sama. Mengapa harus demikian? Ada peribahasa mengatakan “Bagai menepuk air di dulang, menciprat ke wajah pula”. Menjelek-jelekkan suami atau istri di hadapan orang lain, akibatnya akan mengenai diri sendiri pula. Ia sendiri yang akan merasakan malunya. Menghinakan suami atau istri di hadapan orang lain, maka diri sendirilah yang akan dipandang sebelah mata (hina) di hadapan orang-orang itu.
- Seorang istri harus menjadi pelengkap untuk suaminya, menjadikannya tampak memesona, indah, sempurna. Begitupun seorang suami harus menjadi pelengkap untuk istrinya, menjadikannya tampak memesona, indah, sempurna. Istri harus tampak menawan di mata suaminya. Suami harus menawan bagi istrinya. Kehidupan suami-istri harus menjadi pemandangan indah buat orang-orang sekitarnya, mampu menjadi motivasi untuk membangun keluarga sakinah yang penuh mawaddah dan rahmah.
- Seorang suami harus menjadi benteng untuk istrinya, sebesar apa pun ancaman yang datang dari luar yang akan membahayakan istrinya, maka suami harus menjadi pelindungnya. Tidak boleh ada seorang pun yang mengganggu istrinya. Begitupun seorang istri harus menjadi benteng buat suaminya. Jangan sampai suaminya terserang penyakit manusiawi yang menggerogoti kehidupannya. Sumai dan istri harus saling menjaga, baik lahir maupun batin.
MALAM DAN SIANG HANYALAH SEBUAH PERJALANAN
Saudaraku semuslim,
Malam dan siang hanyalah sebuah perjalanan yang selalu dilalui oleh setiap insan, dia melewatinya selangkah demi selangkah sehingga sampai pada akhir sebuah perjalanan. Jika Anda bisa mempersembahkan sebuah perbekalan pada setiap langkah tersebut, maka lakukanlah, karena tidak lama lagi perjalanan ini akan berakhir, bahkan dia berlari dengan lebih cepat dari yang engkau bayangkan.
Maka bekalilah dirimu dalam perjalanan ini dan lakukanlah kewajibanmu, seakan-akan engkau sedang ada dalam perjalanan yang banyak mengandung bahaya para perampok. Seorang Salaf menulis surat kepada saudaranya (yang isinya),
“Wahai saudariku, engkau berkhayal bahwa engkau selamanya berada di dunia, akan tetapi sebenarnya engkau ada dalam sebuah perjalanan. Engkau digiring dengan cepat, kematian datang menghadangmu, sedangkan dunia telah menggulung tikarnya di belakangmu, umurmu yang telah berlalu sama sekali tidak akan kembali.”
Malam dan siang hanyalah sebuah perjalanan yang selalu dilalui oleh setiap insan, dia melewatinya selangkah demi selangkah sehingga sampai pada akhir sebuah perjalanan. Jika Anda bisa mempersembahkan sebuah perbekalan pada setiap langkah tersebut, maka lakukanlah, karena tidak lama lagi perjalanan ini akan berakhir, bahkan dia berlari dengan lebih cepat dari yang engkau bayangkan.
Maka bekalilah dirimu dalam perjalanan ini dan lakukanlah kewajibanmu, seakan-akan engkau sedang ada dalam perjalanan yang banyak mengandung bahaya para perampok. Seorang Salaf menulis surat kepada saudaranya (yang isinya),
“Wahai saudariku, engkau berkhayal bahwa engkau selamanya berada di dunia, akan tetapi sebenarnya engkau ada dalam sebuah perjalanan. Engkau digiring dengan cepat, kematian datang menghadangmu, sedangkan dunia telah menggulung tikarnya di belakangmu, umurmu yang telah berlalu sama sekali tidak akan kembali.”
MALAM DAN SIANG HANYALAH SEBUAH PERJALANAN
Saudaraku semuslim,
Malam dan siang hanyalah sebuah perjalanan yang selalu dilalui oleh setiap insan, dia melewatinya selangkah demi selangkah sehingga sampai pada akhir sebuah perjalanan. Jika Anda bisa mempersembahkan sebuah perbekalan pada setiap langkah tersebut, maka lakukanlah, karena tidak lama lagi perjalanan ini akan berakhir, bahkan dia berlari dengan lebih cepat dari yang engkau bayangkan.
Maka bekalilah dirimu dalam perjalanan ini dan lakukanlah kewajibanmu, seakan-akan engkau sedang ada dalam perjalanan yang banyak mengandung bahaya para perampok. Seorang Salaf menulis surat kepada saudaranya (yang isinya),
“Wahai saudariku, engkau berkhayal bahwa engkau selamanya berada di dunia, akan tetapi sebenarnya engkau ada dalam sebuah perjalanan. Engkau digiring dengan cepat, kematian datang menghadangmu, sedangkan dunia telah menggulung tikarnya di belakangmu, umurmu yang telah berlalu sama sekali tidak akan kembali.”
Malam dan siang hanyalah sebuah perjalanan yang selalu dilalui oleh setiap insan, dia melewatinya selangkah demi selangkah sehingga sampai pada akhir sebuah perjalanan. Jika Anda bisa mempersembahkan sebuah perbekalan pada setiap langkah tersebut, maka lakukanlah, karena tidak lama lagi perjalanan ini akan berakhir, bahkan dia berlari dengan lebih cepat dari yang engkau bayangkan.
Maka bekalilah dirimu dalam perjalanan ini dan lakukanlah kewajibanmu, seakan-akan engkau sedang ada dalam perjalanan yang banyak mengandung bahaya para perampok. Seorang Salaf menulis surat kepada saudaranya (yang isinya),
“Wahai saudariku, engkau berkhayal bahwa engkau selamanya berada di dunia, akan tetapi sebenarnya engkau ada dalam sebuah perjalanan. Engkau digiring dengan cepat, kematian datang menghadangmu, sedangkan dunia telah menggulung tikarnya di belakangmu, umurmu yang telah berlalu sama sekali tidak akan kembali.”
Monday, 4 July 2011
Catatan Penantian Akhwat Shalihah
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Seorang gadis yang membiarkan dirinya dikerumuni, didekati, diakrabi oleh lelaki yang bukan muhrimnya…cukuplah dengan itu hilang harga dirinya…di hadapan Allah. Di hadapan Allah. Di hadapan Allah. PELIHARALAH DIRI DAN JAGA KESUCIAN.
Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga….
Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari ridha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu.
Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku. Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan.
Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak. Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yang mampu mendebarkan hati juataan gadis untuk membuat aku terpikat. Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli syurga, memimpinku ke arah tujuan yang satu.
Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana. Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirimu. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku. Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu.
Aku tahu lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki itu bukan teman hidupku kelak. Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan denganku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tetapi dia tetap tidak berputus asa. Aku merasa seolah-olah kehidupanku yang tenang ini telah dirampas dariku.
Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan ? Aku beristigfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan. Tidak kunafikan sebagai remaja, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untukmu. Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain. Engkau berhak mendapat kasih yang tulen.
Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan. Bagaimana akan kujawab di hadapan ALLAH kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi? Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku.
Aku harus memperbaiki dan menghias pribadiku karena itulah yang dituntut oleh Allah. Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik? Aku palingkan wajahku dari lelaki yang asyik memperhatikan diriku atau coba merayuku. Aku sedaya mungkin melarikan pandanganku dari lelaki ajnabi (asing) karena Sayyidah Aisyah r.a pernah berpesan, “Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki.”
Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang. Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati. Aku menghalang diriku dari mengenali lelaki manapun karena aku tidak mau mengenal lelaki lain selainmu, apa lagi memahami mereka. Karena itulah aku sekuat ‘kodrat yang lemah ini’ membatasi pergaulanku dengan bukan mahramku.
Aku lebih suka berada di rumah karena rumah itu tempat yang terbaik buat sorang perempuan. Aku sering merasa tidak selamat dari diperhatikan lelaki. Bukanlah aku bersangka buruk terhadap kaummu, tetapi lebih baik aku berwaspada karena contoh banyak di depan mata. Ibu telah mendidikku semenjak kecil agar menjaga maruah dan mahkota diriku karena Allah telah menetapkannya untukmu suatu hari nanti.
Kata ibu, tanggung jawab ibu bapak terhadap anak perempuan ialah menjaga dan mendidiknya sehingga seorang lelaki mengambil-alih tanggungjawab itu dari mereka. Jadi, kau telah wujud dalam diriku sejak dulu. Sepanjang umurku ini, aku menutup pintu hatiku dari lelaki manapun karena aku tidak mau membelakangimu.
Entah angin apa yang membuai hari ini, membuatku begitu berani mencoretkan sesuatu untuk dirimu yang tidak pernah aku kenali. Aku sebenarnya tidak pernah berniat untuk memperkenalkan diriku kepada siapapun. Apalagi mencurahkan sesuatu yang hanya aku khususkan buatmu sebelum tiba masanya. Kehadiran sseorang lelaki yang menuntut sesuatu yang kujaga rapi selama ini semata-mata buatmu, itulah hati dan cintaku, membuatku tersadar dari lenaku yang panjang.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Subscribe to:
Posts (Atom)
