Sunday, 1 January 2012

..**Logika Sandal Jepit dan Orang Kaya**..


Apa kabar Indonesia 2011? Sepertinya hingga akhir tahun ini, masih kurang sehat kabar Indonesia di 2011 ini. Untuk mewakili kabar Indonesia, saya cuplikkan 2 fakta menarik di akhir tahun 2001 ini. Pertama, kabar terancam penjaranya seorang anak yang bernama AAL (15 thn) seorang pelajar SMKN 3 Palu, Sulawesi Tengah. Kedua, kabar yang dirilis majalah Forbes (november 2011) tentang daftar orang terkaya Indonesia.


Sorry Sob, saya bukan pakar hukum, bukan ahli ekonomi, nggak mahir akuntansi, tapi kalau soal fakta seperti diatas, tentu saya bisa membacanya dan yang saya lakukan (yang katanya) sebagai penulis, adalah membuat tulisan.

Fakta ini juga yang saya paparkan di depan, anak-anak ngaji saya, biar otak mereka encer, dan ketularan saya, sebagai toekangritik (hehehe... ngeksis.com). Gini Sob, kita pakai logika pendek aja deh untuk mengenali dua fakta diatas yang harusnya jadi masalah kita bersama.

Pertama, tentang sandal jepit yang dicuri AAL. Konon katanya, sampai tulisan ini dibikin AAL diancam penjara 5 tahun gara-gara mencuri sandal yang harganya Rp. 30 ribu. Saya nggak akan bilang “Rp. 30 ribu saja”, sebab kalau namanya mencuri ya pastinya di hukum. Kalau pakai timbangan syariat islam, pencuri yang dipotong tangannya jika mencuri dengan ukuran ¼ dinar, berapa ¼ dinar itu? Silahkan nanti dihitung sendiri.

Kembali ke sandal jepit Rp. 30rb tadi, yang diancam 5 tahun penjara. Coba sekarang kita komparasi dengan pencurian (korupsi) yang dilakukan oleh Eddie Widiono misalnya, mantan Direktur Utama PT PLN dihukum 5 tahun penjara karena korupsi Rp 46 Milyar. Coba lihat angka penjaranya, koq sama 5 tahun? Sekali lagi Sob, kita pake logika pendek aja, kalo mau jujur dihitung dan dibandingkan antara AAL dan Edi, maka hukuman bagi Edi (koruptor), tidak seimbang (silahkan, kalau ada yang mau mengatakan nggak adil).

Kalau mencuri sandal jepit Rp. 30 rb, penjaranya 5 tahun, maka satu tahun penjara untuk mencuri sejumlah 6.000 rupiah. Maka biar imbang dengan patokan yang sama seharusnya seorang Eddie Widiono dipenjara sekitar 7.666.666 tahun. Kira-kira mungkin tidak seseorang dipenjara sekian tahun itu? Kalo tidak mungkin, kenapa hukumannya masih penjara? Yang lebih parah lagi, kenapa hukumnya masih dipertahankan? Pikir, pake logika pendek aja Bung.

Itu baru korupsinya seorang, bagaimana dengan korupsi jamaah anggota DPR yang tidak berani diungkap? Bagaimana kabarnya juga dengan dana balout Bank Century?, Pikir lagi, pake logika pendek aja.
Sekali lagi saya perlu bilang, saya bukan pakar hukum. Tapi, kalau ada ahli hukum yang bisa menjelaskan bahwa hukum Indonesia itu manusiawi, saya akan simak dan dengarkan, selanjutnya pasti saya akan bantah lagi J.

Kedua, soal orang terkaya di Indonesia. Sebelum saya menyoal tentang hal ini, mungkin ada yang mau menyoal saya, atau mau bilang kalau saya iri sama kekayaan mereka, atau mau melarang mereka kaya. Saya sampaikan disini, kalau saya nggak ngiri dengan mereka yang kaya, atau melarang mereka kaya. Tapi saya akan mengkritisi soal kekayaan mereka, dan (sebenarnya) mau mengajak mereka sama-sama berpikir, mengkomparasikan dengan orang miskin di negeri ini.
Data orang kaya versi Majalah Forbes (November 2011) tercatat tiga nama pengusaha terkaya di Indonesia yakni Hartono bersaudara (pemilik Djarum), Susilo Wonowidjojo (Gudang Garam), dan Eka Tjipta Widjaja (Sinarmas Grup).  Harta kekayaan ketiga pengusaha tersebut masing-masing R Budi & Michael Hartono sebesar 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp 127,4 triliun (kurs Rp 9.100), Susilo Wonowidjojo 10 miliar dolar AS (Rp 91 triliun) dan Eka Tjipta Widjaja 8 miliar dolar AS (Rp 72,8 triliun).

Ajaib Sob, tiga orang terkaya dari daftar tersebut memiliki nilai kekayaan yang setara dengan 11 persen total PDB Indonesia yang tahun ini diperkirakan mencapai US$ 752 miliar.
Sementara itu, menurut BPS penduduk miskin Indonesia tahun 2011, dengan pengeluaran kurang dari 230 ribu atau setara dengan 1 dolar amerika perhari, mencapai 30 juta jiwa. Beda lagi, kalau menggunakan indikator World Bank, standar kemiskinan internasional atau Bank Dunia  yakni kurang dari US$ 5 perhari, maka lebih dari  50,7% atau lebih dari separuh dari penduduk negeri ini masih dalam kategori miskin (sekitar 140 juta jiwa).

Kalau tadi sudah dihitung jumlah kekayaan 3 orang terkaya yang hampir menyamai 11 % total PDB Indonesia. Coba sekarang kita hitung jumlah orang miskin dikalikan penghasilan terendah versi BPS misalnya, maka  ketemu angka Rp. 6,9 Triliun. Saya akan mengatakan “6,9 triliun rupiah, saja”, kalau mau dibandingkan 1 kekayaan orang kaya Indonesia Hartono Bersaudara yang jumlahnya Rp. 127,4 triliun. Itu artinya jumlah duit orang miskin di Indonesia, hanya 18 persen dari jumlah duit yang sekarang dimiliki oleh seorang Hartono.
Padahal hitungan BPS maupun Bank Dunia untuk ukuran orang miskin Indonesia, standarnya sangat amat rendah. Bagaimana orang bisa memenuhi kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan), kalau dihitung pengeluarannya 230 ribu per bulan.
Disini, saya juga perlu bilang, saya juga bukan pakar akuntansi, sehingga kalau hitung-hitungan saya salah, diharap maklum. Tapi yang jelas untuk membuka mata lebar-lebar menyaksikan kesenjangan diatas, orang tidak perlu menunggu ahli akuntansi dulu. Akurrr?

Diantara Angin Segar
Saya katakan angin segar, karena sebenarnya permasalahan ketimpangan kemiskinan adiatas bisa kita atasi dengan kekayaan alam yang kita miliki. Tercatat negeri kita ini adalah negara penghasil minyak terbesar ke-29 di dunia. Kita juga memiliki cadangan gas terbesar ke-11 dunia, yakni mencapai 160 TSCF (triliunstandard cubic feet). Batu Bara, Indonesia juga kaya terbesar ke-15 dunia dengan jumlah cadangan sebanya 126 miliar ton (2009).
Tapi kekayaan itu tidak diimbangi dengan pengelolaan yang baik dan benar. Dan kalau kita jeli, inilah sebenarnya pangkal masalah ekonomi di Indonesia sebagai negara kapitalis, yakni masalah buruknya distribusi. Ini beberapa faktanya:
Berdasarkan data Neraca Energi Kementerian ESDM (2009), dari 346 juta barrel minyak mentah yang diproduksi di dalam negeri, 38% nya diekspor. Sementara pada saat yang sama kita harus impor minyak mentah 129 juta barel, atau 35% dari total produksi dalam negeri.  Koq bisa begitu? Iya, Itu karena 85 persen produksi minyak Indonesia dikuasai oleh swasta termasuk swasta asing.
Nasib yang sama, dialami oleh Gas alam Indonesia. Sudahlah produksinya dimopoli swasta asing, sebagian besar hasilnya justru dijual ke luar negeri dengan kontrak-kontrak jangka panjang. Dari total produksi 459 juta barel pada 2009, hampir 60% diekspor ke luar negeri.
Pun dengan Batubara juga sama, dimonopoli swasta. Dengan produksi sekitar 250 juta ton, 77 persen justru diekspor ke luar negeri. Kalaupun dijual ke dalam negeri termasuk kepada PLN, maka ia dijual dengan harga internasional.
Sebagai dampak dari pengelolaan yang salah diatas, ujung-ujungnya rakyat yang menanggung akibatnya, dengan harus menanggung biaya listrik dan harga-harga barang menjadi lebih mahal. Memang ada sejumlah BUMN ikut menjamah kekayaan alam dan ikut mengelolanya, tapi BUMN kita kan miskin, pastinya kalah dengan mereka yang bermodal besar. Padahal BUMN kan seharusnya, sebagai wakil dari negara (rakyat), bertanggungjawab sepenuhnya dalam hal ini. Tapi apa yang terjadi, BUMN kita keok dalam persaingan dan bahkan untuk menuntut kenaikan royalti dari perusahaan-perusahan tambang atau memiliki sebagian sahamnya saja seperti pada kasus kepemilikan 7% saham PT Newmont, Indonesia tak berdaya.
Begitulah, kalau soal pertambangan, pemerintah dan rakyat kita ini memang sudah dibodohi oleh para pemilik modal, baik swasta asing maupun swasta lokal. Contoh kasus, PT. Freeport yang kita hanya kecipratan 10% saja. Yang teraktual soal izin pertambangan PT. SMN di Bima, yang berakhir bentrok, juga merupakan fakta bahwa negeri ini sudah dibeli oleh para konglomerat, dan pantas disebut sebagai negara korporasi.

Urun Rembug Solusi
Sob, menurut logika pendek saya, penyebab dari masalah diatas adalah kelemahan atau lebih tepatnya kesalahan sistem kapitalisme dalam mendistribusikan kekayakan di tengah-tengah masyarakat. Karena fokus utama dari sistem ekonomi kapitalis adalah pertumbuhan, maka menurut mereka semakin tinggi pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai, semakin tinggi pula kesejahteraan yang dapat dicapai. Tapi nyatanya? Apa yang bisa bersama kita saksikan, kekayaan yang dihasilkan dari pertumbuhan tersebut hanya dinikmati oleh segelintir orang yang mereka disebut korporat. Sementara rakyat, yang sebenarnya jumlahnya lebih banyak dari orang terkaya di negeri, malah tersisih dan masih duduk di bangku-bangku kemiskinan negeri ini.

Berbagai cara pun telah ditempuh untuk menambal sulam sistem kapitalis ini, diantaranya pemberian subsidi dan program jaminan sosial. Tapi lagi-lagi kembali kita lihat hasil nyatanya, masalahnya tidak juga terselesaikan. Kemiskinan, pengangguran, perbedaan pendapatan yang tinggi, malnutrisi, akses kesehatan yang mahal tetap menjadi masalah yang tak dapat dipecahkan oleh sistem ini. Mereka tak menyadari, yang mereka lakukan hanya menambal luka, bukan menyembuhkan bahkan mengamputasi luka yang ada di tubuh negeri ini, berupa sistem kapitalisme. Kapitalisme telah terbukti tak mampu menjamin kebutuhan pokok dan kebutuhan mendasar rakyatnya, yang ada malah mengibiri, mengabaikan hak-hak rakyat nya.
Dalam Islam, jaminan kebutuhan dasar yaitu jaminan pemenuhan kebutuhan pokok individu seperti sandang, pangan dan papan maupun kebutuhan pokok berupa kesehatan, pendidikan dan juga keamanan menjadi tanggung jawab Negara. Secara praktis, hal ini telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW dan para khalifah sesudahnya.
Jadi, bagi yang otaknya encer, pasti akan berpikir beralih dari sistem kapitalisme yang sudah nyata bobroknya menuju sistem yang diridhai Allah, sistem Islam. (lbr/from various sources)

..**Saat Yang Sempurna Itu ...**..


Kadang kita sering banget menunda-nunda sesuatu yg harusnya bisa kita kerjakan hari ini. May be alasan kita adalah nunggu waktu yang sempurna biar bisa ngerjainnya dengan sempurna. Tapi jangankan sempurna, kadang akhirnya hasil jadinya aja belom juga jadi. Kalo udah gitu, satu- satunya yang sempurna tinggal harapan en penyesalan kita aja. 

Saat kamu muda, kamu boleh aja bermimpi, karena masih akan banyak waktu InsyaAllah untuk merealisasikannya. Tapi sadar ato nggak, banyak dari kita yang justru ngehancurin impian itu, bahkan saat kita belum sempat merealisasikannya. Cilakanya lagih, kita melakukan itu dengan cara yang "sempurna", yaitu lewat pilihan waktu yang kita kira adalah sempurna.

Yups, pilihan waktu yang terlalu kita pilih untuk menjadi saat yang sempurna buat ngerjain sesuatu itu, lebih banyak berarti sebagai penundaan. Ternyata tugas kemarin yang kita impikan bakal selesai hari ini, disaat yang sempurna ini, ternyata belum juga selesai. Alhasil, si tugas itupun semakin terlihat tidak sempurna karena ternyata juga jauh dari deadline yang seharusnya.

Emang yang namanya suntuk atau bahan baku yang menyebabkan penundaan melakukan sesuatu, biasa datang tanpa di undang. Dan biasanya kalo udah gitu, seterusnya adalah jadi males ngerjain sesuatu. Tapi tahukan kamu, menunda nyelesaikan apapun adalah seperti nyimpan makanan yang nggak buru- buru dimakan. Jadi kalo nggak basi atau kadaluarsa, ya perut tetep aja bakalan laper.

Coba deh kamu hilangkan sebentar tentang konsep waktu yang sempurna, yang merupakan kamuflase dari sebuah bahasa menunda mu itu. Bukankah sebenarnya yang ada hanya waktu yang terbaik, yaitu waktu yang langsung dikerjakan setiap kamu punya tugas atau mimpi?
Teman, dah banyak diluar sana orang- orang yang udah mulai menua yang ternyata juga udah banyak banget kehilangan kesempatan dan waktu berharga mereka buat ngelakuin sesuatu. Mungkin dari mereka juga ada yang dah bertahun-tahun menunggu waktu lain buat merealisasikan mimpi mereka tapi ternyata nggak pernah kejadian karena saking terlalu milih waktu yang sempurna.   Mungkin kalo waktu bisa di putar, mereka bakalan bilang "Sekarang adalah waktu yang paling tepat. Karena sekarang bisa dikerjakan dan saat yang sempurna dan tepat tidak pernah ada. Karena yang ada hanya adalah saat yang sempurna setelah semua terselesaikan."

..**Tidurlah Sayang**..




“Aku tidak mau tidur sendirian Bu.” Sebutir air mata meluncur dari kelopak mata yang memiliki bola mata indah itu. Cepat tangan kecil gadis di depanku itu menghapusnya. Wajahnya kusut dan memelas. Hmm… aku menghela napas panjang. Wajah bidadari ini selalu membuatku trenyuh dan tak kuasa untuk bilang tidak. Tapi kali ini kata ‘tidak” tidak boleh keluar dari mulutku.

“Begini saja, ibu temani sebentar yah.” sebuah senyuman terlukis di wajah permata hatiku itu.

“Kita tidur bertiga dengan Teddy bear yah?” Suaranya yang cadel dan kenes itu terdengar lirih.

“Teddy bear? Boleh. Berempat dengan sang bintang juga boleh.” Lalu kami masuk ke dalam kamarnya.

Kami tidur dengan kepala menghadap jendela kamar yang berdaun jendela lebar. Sengaja tidak dipasang gordein di sana agar pemandangan langit bisa terlihat jelas dari tempat kami berbaring. Langit tampak cerah malam itu. Bintang-bintang bertaburan memenuhi angkasa raya dan bulan tampak bersinar penuh dengan cahaya yang memantul berpendar-pendar. Aisyah, yang menjadi permata hatiku, mendekatkan kepalanya ke sisi pundakku, dan tangan mungilnya menyusup melingkari lenganku. Boneka Teddy bearnya menyembul di antara tubuh kami yang berhimpitan.

“Hmm… bagus yah, bintang-bintang itu.” Aku bertanya padanya dengan segala kekagumanku yang utuh pada keindahan jagad raya di atas sana. Subhanallah… Maha Suci Allah.

“Iyah bagus.” Suara kecil Aisyah mulai melemah karena diserang kantuk terdengar begitu lirih.

“Besok-besok… kamu tidak usah takut tidur sendirian yah. Ini hari terakhir ibu menemani kamu.” Tidak ada jawabannya, tapi aku rasakan rengkuhan tangan kecil di lenganku mengeras, sebuah isyarat tak hendak berpisah. Seperti malam-malam sebelumnya, rupanya malam inipun Aisyah tidak ingin tidur seorang diri.

“Kamu lihat bintang yang paling terang itu.” Tanganku menunjuk ke angkasa raya, pada satu titik di sebelah utara, dimana ada sebuah bintang yang terlihat paling terang cahayanya dan paling besar pula keberadaannya dibanding bintang yang lain.

‘Itu namanya bintang kejora.” Kemudian kami bersama mengagumi bintang kejora. Sederetan awan kelam yang berbaris mendekati bintang kejora, rupanya malu hati akan niatnya untuk menutupi bintang tersebut sehingga dengan cepat awan itu menyingkir dan kembali bintang kejora berpendar-pendar indah.

“Bagus bu… adik suka bintang kejora.” Suara lirih Aisyah kembali terdengar.

“Besok, kalau kamu tidur sendirian, kamu lihat saja ke langit. Insya Allah bintang kejora akan selalu muncul jika langit cerah. Kamu bayangkan bahwa ibu ada di sampingmu, sedang menatap bintang kejora bersama seperti malam ini. Jadi kamu tidak takut lagi tidur sendirian.” Sebuah senyuman terukir di mulut mungil Aisyah dan sebuah kecupan mendarat di pipiku yang dihadiahkan Aisyah padaku. Lama kami terdiam hingga yang terdengar kemudian adalah bunyi napas yang teratur. Hingga…,.

“Bagaimana jika bintang itu tidak muncul Bu ? “

“Hah ?…ngggnn.” Aku tidak langsung menjawab dan jeda waktu menunggu itu membuat sebuah kegelisahan tiba-tiba muncul di wajah Aisyah.

‘Bagaimana jika langit mendung dan badai datang ?” Suaranya yang semula lirih kini dipenuhi rasa kekhawatiran.

Kurengkuh tubuh mungilnya erat-erat… dan dengan lembut kubisikkan kata di telinganya, “Ada Allah yang selalu setia menemani kamu sayang…. Allah tidak akan pergi meninggalkan kamu, apapun keadaan yang datang dan selalu berubah-ubah. Bintang kejora itu adalah kasih ibu yang akan ibu berikan untuk kamu, tapi ibu dan bintang kejora, bahkan juga kamu, ayah, kakak, adalah ciptaan Allah, yang bisa menghilang, pergi jika Allah menghendakinya…. Tapi Allah yang Maha Pencipta selalu hadir menemani kamu. “

“Ibu akan pergi kemana ?”

“Suatu hari nanti, mungkin ibu akan pergi menghadap Allah. Kalau itu terjadi, kamu tidak bisa bertemu ibu lagi, kalau kamu kangen, kamu lihat saja ke langit yang cerah, bintang kejora itu adalah kasih sayang ibu yang sudah ibu ukir di sana agar kamu selalu ingat ibu. Jangan pernah merasa putus asa jika kamu merasa seorang diri… karena bintang kejora itu selalu bersinar berpendar-pendar meskipun awan gelap selalu berusaha menutupi kehadirannya. Kamu bisa lihat bintang itu dimanapun kamu berada di muka bumi ini. Dan ingat…. Meski bintang itu hilang karena siang muncul menggantikan malam, ada yang selalu setia menemani kamu dan menyayangi kamu melebihi kasih sayang ibu ke kamu, bahkan melebihi kasih sayang seluruh makhluk di muka bumi ini. Itu adalah kasih sayang Allah Subhanallahu Wa ta’ala… nah sekarang tidurlah… Pejamkan matamu.”

Tak ada jawaban, sebaliknya muncul sebuah pertanyaan baru.

“Apakah aku akan bertemu ibu lagi di hari esok ?” Bola mata bening bagaikan mutiara itu menatapku dengan penuh tanda tanya. Sebutir mutiara bening meluncur dari sana, dan genggaman jemari kecil di lengan tanganku kian erat. “Hanya Allah yang tahu sayang. Jika Allah mengizinkan, tentu kita akan bertemu dan bermain kembali… sekarang, tidurlah.”

Mata Aisyah menatapku dengan polos dan sebuah telaga bening di kelopak matanya terlihat bergetar tak kuasa menahan bendungan air yang terkumpul di sana. Kukecup keningnya dengan penuh rasa kasih dan sayang.

“Ibu sayang sama kamu, jika takdir datang dan memisahkan kita, rasa sayang dan doa ibu akan selalu tercurah untukmu nak… Bersyukurlah selalu pada Allah, karena apapun takdir yang diberikan oleh Allah, dalam perhitunganNya, itulah yang terbaik bagimu. Tidurlah… Ada Allah yang akan menjagaMu malam ini.


(untuk semua permata hatiku di rumah.. I Love You)

..**Aku Seorang Munafik?**..


Dengarkanlah, aku sedang bertanya, dengan sangat jujur, kepada hatiku, apakah aku seorang munafik?

Aku mengakui Allah sebagai tuhanku, tapi entah sudah berapa banyak hal dan makhluk yang aku tempatkan sejajar denganNya bahkan lebih, dihatiku.

Aku mengaku muslim, namun lihatlah perhitungan rinci yang pasti aku kemukakan di depan, ketika telah sampai waktunya aku harus mengerjakan kewajibanku sebagai muslim. Bahkan sebenarnya aku adalah sudah lebih dari tahu dan sadar bahwa aturan Allah telah jelas tentang segala sesuatu dalam hidup. Namun, entah kenapa aku tetap dengan berat hati menanggalkan semua. Apalagi lah, jika bukan karena aku tak mau rugi dalam urusan dunia. Ketakutan dan kemalasan seketika menyelubungi kepala dan menjalar ke hatiku yang akhirnya akupun menghentikan arus kebaikan itu untuk menemani hari- hari itu.

Aku mengaku muslim, namun laku, tindakan, dan tutur kataku tak lebih dari menghujat, memecah belah dan merusak citra islam dan harga diriku dan saudaraku sendiri. Dan ... ajaibnya, aku tetap menganggap hal itu sebagai sebuah kebanggaan dan atau prestasi dari diriku yang akan mungkin membuahkan pahala dimata Allah. Ya robb, sudah tidak waraskah aku?

Aku mengaku muslim, namun aku tak pernah berbangga dengan identitasku ini, dan malah menghujat sesamaku yang telah mendapat rahmat Allah untuk dapat menerapkan aturan islam lebih baik dan lebih nyata dari pada aku. Entah pikiran setan apa yang menggelayuti hatiku, dan lihatlah malah kesombongan dan caci maki atas mereka yang selalu aku berikan tanpa henti.
Aku mengajarkan kebaikan namun saking sibuknya diriku dengan sebuah pengajaran, aku lupa mengajari diriku untuk mempraktekkan kebaikan itu dalam kehidupanku sendiri. Tidak ada yang tahu memang, ataupun tidak ada yang repot dengan mencampuri urusan hidupku, namun ternyata hatiku sendiri yang berprotes kepadaku dan betapapun aku mencoba lari darinya, aku tetap tidak bisa.

Aku mengakui sebuah kebaikan dan manfaat dari kejujuran. Namun diam- diam aku mengkhianati hati nuraniku dengan berbuat curang pada Allah, diriku sendiri, kepada sesamaku. Aku menyangka Allah pun hanya diam dan tanpa akan menyeruakkan aibku ini, karena ini adalah rahasiaku dengan Nya. Selanjutnya dengan bangga dan penuh kamuflase atas sebuah julukan orang alim dan jujur, aku berjalan di muka bumi, dengan tetap tenang.
Manusia lain menggelariku orang yang amanah dalam menjaga dan memenuhi titipan mereka kepadaku. Namun dibelakang mereka, amanah itu aku selewengkan dengan alasan kebutuhan dan selera duniaku. Dan jika akhirnya mereka mengetahui hal itu, maka dengarlah untaian kata- kata indah yang dengan keahlian dan kepandaianku aku rangkai dengan berbagai cara. Apalagi lah tujuannya selain agar mereka tetap mengenaliku sebagai yang terbaik.

Lihatlah betapa mulutku memang benar- benar mengekspresikan isi hatiku. Isi hati yang aku tuntun untuk menjadi munafik, namun ternyata aku tidak sekuat itu untuk memaksanya. Suara bisikan kebaikan dari Allah lewat hati nuraniku, tetap begitu kuatnya sehingga membentuk sebuah pertentangan batin yang tidak sanggup aku kuasai permainannya.

Apakah aku seorang munafik?
MasyaAllah, ternyata aku seorang munafik. Betapa banyak manusia yang menilaiku baik, namun itu sama sekali tidak mengurangi teriakan batinku yang memaki diriku karena aku sebenarnya adalah seorang munafik. Hatiku protes karena aku telah mencurangi Allah walaupun hanya dia sendiri yang mengetahuinya. Aku ternyata tidak bisa lari sama sekali dari umpatan hati nuraniku yang pasti akan jujur tentang adanya aku.

Ya robb, ampunilah hambamu yang sombong ini, yang telah berbangga hati dengan dinilai baik dan berusaha agar dinilai baik dihadapan manusia, namun sebenarnya rendah di hadapanMu. Sanggupkah hamba ketika "video" keburukanku itu nanti akhirnya akan diputar kembali dan di pergelarkan pada semua makhlukmu diakherat nanti? Sanggupkah hamba saat nanti tiada lagi ampunan darimu dan rahmat untuk hamba, untuk tertutupnya dengan rapi semua aib dan kekurangan hamba?

Ya Allah, semakin manusia menilai baik terhadap hamba, sebenarnya semakin dalam sakit yang hamba rasakan. Sakit lantaran semakin keras pula teriakan hati nurani hamba yang mengatakan bahwa hamba adalah seorang MUNAFIK, yang hanya pandai memoles jati diri dengan sejuta kebohongan, kecurangan dan dan topeng demi terlihat sempurna dihadapan manusia.

Ya Allah, ampunilah hamba... Ampunilah hambamu yang hina ini...