Thursday, 18 August 2011

10 Cara Meraih Cinta Allah

Tujuan hidup seorang Muslim adalah memperoleh ridha dan cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tujuan ini akan tercapai hanya jika ia menjalani hidup secara mulia, baik sebagai hamba. Berikut ini adalah 10 cara meraih cinta Allah:

1. Selalu mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melakukan ibadah mahdhah secara istiqamah
Allah Ta’ala berfirman, ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah [2] : 185)

Dalam Hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman, ”Aku dalam sangkaan hamba-Ku, dan Aku akan selalu bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Kemudian apabila ia ingat Aku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia ingat kepada-Ku dalam satu kaum, maka Aku akan mengingatnya dalam kaum yang lebih banyak dari pada kaum itu. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku satu hasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, aku akan datang kepadanya dengan lari-lari kecil.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

2. Kecintaan Allah Ta’ala bisa diperoleh dengan menjalankan ibadah nawafil (tambahan/sunnah)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, ”Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal lebih Aku sukai daripada jika ia mengerjakan amal yang Kuwajibkan kepadanya. Hamba-Ku selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya, sebagai tangan yang ia memukul dengannya, sebagai kaki yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku pasti Ku-beri dan jika ia minta perlindungan kepada-Ku pasti Aku lindungi.” (Riwayat Bukhari)

3. Mencintai para kekasih-Nya. Merekalah orang-orang yang senantiasa ditolong, dilindungi, dan dibela oleh-Nya. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu (Ra), Rasulullah SAW bersabda, bahwa Allah Ta’ala berfirman, ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Ku-izinkan ia diperangi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

4. Mengikuti ajaran Rasulullah SAW
Allah Ta’ala berfirman, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran [3] : 31)

5. Berperang di jalan Allah Ta’ala dengan shaf yang rapi
Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff [61] : 4)

6. Sabar ketika diuji dengan penderitaan dan syukur ketika diuji dengan kelapangan
Allah Ta’ala berfirman, ”Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran [3]: 146)

7. Selalu berbuat baik dan suka menolong sesama
Allah Ta’ala berfirman, ”Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (al-Maidah[5]: 93). Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah RA, juga bersabda, “Barangsiapa melepaskan seorang Mukmin dari penderitaan-penderitaan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya penderitaan-penderitaan hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan yang sulit niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup aib seorang Muslim maka Allah akan menutup aibnya di akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (Riwayat Muslim)

8. Bertakwa dan berbuat adil
Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah [9]: 7).
Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah [60[: 8)

9. Ikhlas dalam beramal
Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang meninggalkan dunia dalam keadaan ikhlas hanya kepada Allah Ta’ala, tidak menyekutukan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, (lalu) ia wafat, maka Allah ridha kepadanya.” (Riwayat Ibnu Majah)

10. Bertobat dengan tulus
Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah [2] : 222)

MENJAWAB KEBERADAAN ALLAH

DIKUTIP.COM - Seorang pembaca dikutip.com bertanya dimana Allah,, bagaimana wujud Allah dan bagaimana menyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya...? Penulis juga pernah sebelumnya menemukan kasus serupa, dan inilah 3 pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh "Pencari Tuhan" itu.
1. Kalau memang Allah itu ada, tunjukkan wujud Allah kepada saya.
2. Apakah yang dinamakan takdir?
3. Dan Kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukkan ke neraka yang terbuat dari api, apakah menyakitkan buat setan, sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Allahmu tidak pernah berfikir sejauh itu?

Jika para pembaca dikutip.com juga mendengar ada seseorang yang menanyakan dimana Allah, TAMPARLAH pipinya saja

Tamparan itulah jawaban atas tiga buah pertanyaannya tersebut. Jika mereka terkejut dan tidak mengerti, jelaskan seperti dialog berikut.

Penanya : Kok Anda marah.

Anda : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Tentu saja saya merasa sakit.
Anda : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
P : Ya.

Anda : Tunjukkan pada saya wujud sakit itu!
P : Saya tidak bisa.
Anda : Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan keberadaan Allah tanpa mampu melihat wujudNya

Anda : Apakah tadi malam Anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
P : Tidak.
Anda : Apakah pernah terpikir oleh Anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
P : Tidak.
Anda : Itulah yang dinamakan Takdir.

Anda : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
P : Kulit.
Anda : Terbuat dari apa pipi anda?
P : Kulit.

Anda : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Sakit
Anda : Walaupun setan dan neraka sama terbuat dari api, neraka tetap menjadi tempat menyakitkan untuk setan.

Komitmen Muslim Terhadap Al-Qur’an

1.       Mengimani
Kita harus yakin bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah  yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Salam.  Kita wajib mengimani semua ayat-ayat yang kita baca, baik yang berupa hukum-hukum maupun kisah-kisah.  Baik yang menurut kita terasa masuk akal maupun yang belum dapat kita pahami, yang nyata maupun yang gaib.
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata : ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wa Salam).”(Q.S. Al-Maidah : 83).

2.       Membaca
Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa membaca dengan sebenar-benar bacaan (haqqa tilawah) merupakan parameter keimanan orang tersebut kepada Al-Qur’an.  Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :
“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan ‘haqqa tilawah’ mereka itulah orang-orang yang beriman kepadanya.  Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”(Q.S.Al Baqarah:121).

3.       Mentadabburi
Tadabbur Al-Qur’an dapat dilakukan dengan mengulangi ayat-ayat yang kita baca dan meresapinya kedalam hati serta memikirkan maknanya dengan bacaan yang lambat.  Tidak hanya hati yang mentadabburi, tapi fisik kita yang lain pun ikut bertadabbur.  Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Salam merupakan contoh terbaik bagi kita dalam cara mentadabburi Al-Qur’an, diriwayatkan ketika diturunkan surat Huud dan Al Waqiah sampai beruban rambutnya karena takut terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
“Maka apakah mereka tidak mentadabburkan Al Qur’an?  Kalau kiranya Al Qur’an itu turun dari sisi selain Allah tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya.”(Q.S.An Nissa : 82).

4.       Menghapal
“Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Salam mengatakan barang siapa yang didalam rongga tubuhnya tidak ada sedikitpun Al Qur'’n, tak ubahnya bagaikan rumah yang bobrok."
(HR. At Tarmidzi, hadist no.998,hlm 417).

5.       Mengamalkan
Mengamalkan berawal dari memahami ilmu-ilmunya serta berpegang teguh pada hukum-hukumnya, kemudian menyelaraskan hisup dan tingkah laku serta akhlaknya, sebagaiman akhlak Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Salam dalam Al Qur’an.
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.  Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu.  Dan Allah tiada memberi petunjuk pada kaum yang dzalim.”(Q.S.Al Juma’ah:5).
Alangkah buruknya perumpamaan ini bagi mereka yang tidak mengamalkan ayat-ayat Allah (termasuk didalamnya Al-Qur’an), yaitu dengan perumpamaan keledai yang memikul kitab-kitab besar tetapi ia tidak mengerti apa yang ada didalamnya.  Jadi bila manusia tidak mengamalkan Al Qur’an seperti keledai yang tidak merasakan selain beban bawaan tanpa dapat memanfaatkan apa yang dibawanya itu.
Untuk menjadi seorang muslim yang senantiasa komitmen terhadap Al-Qur’an bisa dicapai melalui proses pembinaan diri.  Hal ini dilakukan tidak hanya sekali saja melainkan secara berkesinambungan dan bertahap.

Saturday, 23 July 2011

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Oleh Akhwat Dalam Proses Ta'aruf


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang muslimah dalam menjalankan proses ta’aruf, diantaranya:

Pertama, bersihkan niat, dan ikhlaskan menikah adalah ibadah semata untuk mencari ridhaNya. Tidak mudah memang menerima “calon suami” kita apa adanya, apalagi apabila yang datang tidak sesuai dengan “kriteria” yang kita harapkan. Di sinilah sandungan/ujian pertama keikhlasan kita.

Kedua, jaga nilai-nilai yang ada pada saat proses ta’aruf. Usahakan semuanya sesuai dengan landasan syar’i yang ada. sangat disayangkan apabila niat yang sudah diusahakan untuk bersih, terkotori oleh hal-hal yang berbau maksiat.

Ketiga, terus berdo’a, memohon petunjuk dan bimbinganNya. Mohon dilapangkan hati, dimudahkan jalannya, dan diberi kemantapan tekad untuk melakukan yang terbaik sesuai kehendakNya. Karena kita mahluk yang lemah dan sangat lemah, adakalanya kita tidak kuat menjalani hal yang terjadi, maka mohonlah kekuatan dariNya.

Keempat, tawakkal. Setelah niat yang kita usahakan, proses yang kita jaga, terakhir yang terbaik kita lakukan adalah tawakkal. Apapun yang terjadi, serahkan semua itu padaNya. Karena hanya Dialah yang Mahatahu apa yang akan terjadi nanti, dan hanya Allah yang tahu yang terbaik untuk kita di dunia akhirat. Tidak ada yang lebih indah dari tawakkal ini.

Dua hal yang mengagumkan untuk seorang muslim, adalah pada saat dia diberi musibah dia bersabar, dan pada saat dia diberi kenikmatan dia bersyukur. Dan kedua-duanya adalah baik. Begitu juga dengan proses ta’aruf yang terjadi. Apabila pada saat berjalannya proses, semuanya sesuai dengan harapan kita, maka kita bersyukur. Dan bila yang terjadi adalah sebaliknya, ternyata tidak sesuai, maka kita bersabar.

Monday, 11 July 2011

Mulia Di Akhirat & Meraih Dunia dengan Ilmu

”Hidup bahagia,mati masuk syurga” yup,pasti setiap orang ingin seperti itu.Jadi apa yang dapat kita lakukan untuk mewujudkannya?
Allah Ta’ala telah mengajarkan sebuah doa dalam firmanNya:
”Wahai Rabb kami,berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat” (QS.Al-Baqarah : 201)
Al-Hasan rahimahullah (wafat th. 110 H) berkata, ”Yang dimaksud kebaikan dunia adalah ilmu dan ibadah, dan kebaikan akhirat adalah Syurga ”Sedangkan Ibnu Wahb (wafat th.197 H) rahimahullah berkata, ”Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata ”Kebaikan di dunia adalah rizki yang baik dan ilmu, sedangkan kebaikan di akhirat adalah syurga”

Perhatikanlah bagaimana para ulama memegang ilmu sebagai sumber kebaikan di dunia,yang dengannya dapat diraih pula kebaikan di akhirat berupa syurga.Karena itu, hal utama yang harus kita lakukan untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan terus menerus mengejar ilmu dengan mengikhlaskan niat karena Allah Ta’ala.Ilmu yang dimaksud adlah ilmu yang bermanfaat.
Imam Ibnu Rajab (wafat th.795 H) rahimahullah mengatakan bahwa ”Ilmu yang bermanfaat menunjukkan pada dua hal : Pertama,mengenal Allah Ta’ala dan segala pa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Hal ini mengharuskaan adanya pengagungan, rasa takut,cinta,harap,dan tawakkal kepada Allah serta ridha terhadap takdir dan segala musibah yang Allah Ta’ala berikan.
Kedua, mengetahui segala apa yang dibenci dan dicintai Allah Azza wa Jalla dan menjauhi apa yang dibenci dan dimurkai olehNya berupa keyakinan, perbuatan yang lahir dan bathin. Hal ini emengharuskan orang yang mengetahuinya untukbersegera melakukan segala apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Ta’ala dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan kedua hal ini bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat.
Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap dalam hati maka sungguh, hati itu akan tunduk dan meras patuh pada Allah Azza wa Jalla, jiwa merasa cukup dan puas dengan sedikit dari keuntungan dunia yang halal dan merasa kenyang dengannya sehingga hal itu menjadikannya qanaah dan zuhud di dunia.”
Rasululah Salallahu Allaihi Wasallam mendoakan orang-orang yang mendengarkan sabda beliau dan memahaminya dengan keindahan dan berserinya wajah. Beliau bersabda :
”Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadist dari kami, lalu menghafalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain. Banyak orang yang membawa fiqih namun dia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih pada orang yang lebih faham darinya. Ada tiga hal yang tidak dapat dpungkiri hati seorang muslim selama-lamanya: melakukan sesuatu dengan ikhlas karena Allah, menasehati ulul amri (penguasa) dan berpegang teguh pada jama’ah kaum muslimin,karena do’a mereka meliputi orang-orang ayng berada dibelakang mereka.”
Beliau bersabda,
”Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan kekuatannya,menjadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang tealah ditetapkan baginya.” (Hadist Shahih diriwayatkan oleh Ahmad (V/183),ad-Darimi(I/75),Ibnu Hibban (no 72,73-Mawarid),Ibnu’Abdil Barr dalam Jaami’Bayaanil’Ilmi wa Fadhlihi(I/175-176,no.184),lafazh hadist ini milik Imam Ahmad dari Abdurrahman bin Aban bin ’Utsman radhiyallahu’anhum)
Jadi, ayo semangat menuntut ilmu..!! supaya bahagia dunia dan akhirat, insyaAllah. Jangan lupa ikhlaskan niat pada Allah Subhanahu Wata’ala.
Israil bin Yunus (wafat th.160 H) rahimahullah mengatakan,
”Barangsiapa menuntut ilmu karena Allah Ta’ala, maka ia mulia dan bahagia di dunia.Dan barangsiapa menuntut ilmu bukan karena Allah, maka ia merugi di dunia dan akhirat.”
Dan diantara doa yang Rasulullah ucapkan adalah : ”Ya Allah, aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat,rizki yang halal, dan amal yang diterima.”
Wallahu’alam bishowab