Wednesday, 9 June 2010

Wahai istriku, Mari kita membangun sebuah rumah di surga...

Seorang ikhwan mengatakan dengan agak malu-malu, “Beginilah akhi, masih jadi “kontraktor” setiap tahunnya.” Wah hebat! Pasti pengusaha yang sukses kalau setiap tahun mendapatkan tender sebagai kontraktor, entah kontraktor bangunan atau jalan raya. Namun jangan salah! Ternyata “kontraktor” yang dimaksud adalah bahwa ikhwan yang bersangkutan masih mengontrak rumah terus setiap tahunnya, alias belum punya rumah sendiri. Maka kebiasaan “tukang kontrak” ini membuat pelakunya mendapatkan sebutan “kontraktor”.

Begitulah kehidupan dunia dengan segala kenikmatan dan kelezatan yang ada di dalamnya, tidak semua ikhwan memang mendapatkan rizki memiliki rumah sendiri sehingga tidak dipusingkan dengan anggaran khusus setiap tahunnya yang harus disusun rapi jika tak ingin urusan tempat tinggal jadi berantakan. RAPBRT (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Rumah Tangga) kadang menjadi sebuah agenda yang tarik ulurnya bisa “alot” atau “fleksibel” tergantung kemampuan asisten nahkoda bahtera rumah tangganya, yakni para istri yang shalihah.

Memang memiliki sebuah rumah sendiri adalah impian setiap manusia ketika tinggal di dunia yang teramat sementara ini, tak terkecuali bagi ikhwan! Memiliki sebuah istana kecil di dunia merupakan bagian dari sebuah kebahagiaan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang : istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang : tetangga yang jelek, istri yang jelek, kendaraan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” [HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 1232 dan Al-Khathib dalam At-Tarikh 12/99. Al-Imam Al-Albani mengatakan dalam Ash-Shahihah no. 282: “Ini adalah sanad yang shahih menurut syarat Syaikhain/Al-Bukhari dan Muslim]

Namun apakah akhirnya memiliki sebuah tempat tinggal yang luas menjadi sebuah obsesi (keinginan yang harus diwujudkan)? Sehingga kadang dengan berbagai macam cara manusia berusaha untuk mendapatkan sebuah rumah yang megah, mewah, dan luas di dunia. Sebagian manusia menganggap bahwa rumah adalah simbol dari status sosial mereka, semakin megah rumahnya maka semakin diakui keberadaan seseorang itu, sebaliknya jika rumah seseorang biasa-biasa saja (tipe RS –rumah sederhana, RSS –rumah sangat sedehana atau RSSS –rumah sangat sederhana sekali) maka keberadaan mereka tidak diperhitungkan dalam pergaulan sosial masyarakat yang ber-orientasi (bertujuan) kepada dunia.

Apalagi bagi yang masih menjadi “kontraktor” tiap tahunnya, tinggal di rumah kontrakan menjadi tukang sewa menjadi kebiasaan rutin tahunan, pendapatan yang pas-pasan setiap bulannya membuat anggaran rumah hanya cukup untuk biaya sewa – alhamdulillah. Walau ada masih keinginan yang terpendam untuk sekedar memiliki rumah tipe RS, RSS, atau RSSS (rumah segede stadion sepakbola).

Namun apakah hal itu yang selalu kita pikirkan, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara.” [HR. Al-Bukhari], dan tahukah antum semua bagaimana sifat (karakter) seorang pengembara itu? Mari kita tengok para perantau di sekitar kita, ada seorang perantau yang datang ke Surabaya, bekerja pada sebuah kantor dengan jabatan yang rendah, tempat tinggalnya hanya sebuah kamar kost yang kecil, ukuran 2 x 2 meter sudah cukup baginya untuk sekedar melepas lelah setelah bekerja seharian, ada juga seorang perantau yang bekerja sebagai buruh pabrik sebagai karyawan produksi, pekerjaan yang kasar, berat namun halal, berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 9 malam, tempat tinggal yang disewanya hanyalah ukuran 2,5 x 2 meter, itupun dia tinggal berdua dengan teman satu kost-nya. Hanya 7 jam saja dia menghuni tempat kostnya – itupun dalam keadaan tidur melepas lelah, kemudian besoknya kembali bekerja menjalankan rutinitas sebagaimana biasa, baju yang mereka pakai sehari-hari adalah baju kumal untuk bekerja yang banyak terkena kotoran oli dan minyak dalam pekerjaannya dan pakaian sederhana untuk tidurnya, namun ketika ada waktu libur tiba dia pulang ke kampung halamannya. Dengan baju yang bagus dan harta yang cukup hasil tabungannya selama ini.

Demikianlah sifat dan karakter seorang perantau yang asing (al-ghuroba), biar hidup susah dan seadanya di tempat dia merantau, makan seadanya, pakaian seadanya cukup untuk menutup aurat, perabotan makan dan keperluan sehari-hari pun seadanya cukup untuk menunjang kehidupannya yang sementara di tempat perantauannya. Namun dia pulang dengan perasaan riang, karena cukup bekal dan pakaian bagus yang dikenakannya, istilah singkatnya, biar hidup menggelandang di kota, namun pulang ke kampung dengan bekal yang banyak. Para perantau ini tidaklah berfoya-foya menghabiskan bekalnya untuk memuaskan segala keinginannya di tempat dia merantau. Bahkan untuk jatah makan pun dicarinya tempat yang paling murah, namun cukup untuk menegakkan tulang punggung untuk bekerja.

Begitulah keadaan kita hidup di dunia, tidaklah akrab dengan kehidupan dunia yang serba sementara ini, tidaklah kita terpesona oleh kilauan kesenangan dunia yang menipu (baca catatan sebelumnya : manusia yang gemar tertipu...), tidaklah kita mengumpulkan keperluan kita di dunia ini kecuali hanya sekedar menunjang kehidupan kita dan yang menjadi prioritas kita adalah bekal untuk kehidupan akhirat kelak, sehingga kita pulang ke kampung halaman kita di akhirat dalam kondisi ceria karena bekal yang cukup.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menggambarkan dunia dengan lisannya, dengan sabdanya : “Aku sama sekali (tidak memiliki keakraban) dengan dunia, perumpamaanku dengan dunia adalah bagaikan seseorang yang ada di dalam perjalanan, dia beristirahat di bawah sebuah pohon rindang, lalu dia pergi dan meninggalkannya.” [HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.]

Wahau saudaraku, rumah yang engkau impi-impikan di dunia ini, jika Allah Ta’ala memberikannya sebagai rizkimu, maka akan berapa lama engkau menghuni rumah itu? 10 tahun? 20 tahun? Atau bahkan belum sempat engkau menghuninya ternyata Allah Ta’ala berkehendak mewafatkanmu, wallahu a’lam. Rumah seperti itukah yang ukurannya tidak seberapa, yang telah menyita perhatianmu, sehari selama 24 jam keinginan akan rumah dunia ini memalingkan kita dari rumah kita yang sebenarnya kelak di akhirat. Lalu apakah yang telah engkau siapkan untuk memangun rumahmu kelak di surga yang seluas langit dan bumi?

CATATAN SEORANG SUAMI KEPADA ISTRINYA DI MALAM HARI....

Wahai istriku, malam telah larut, dan aku melihat engkau telah terlelap dengan indahnya menuju mimpi-mimpimu, dapat aku melihat engkau tersenyum dengan indahnya di dalam tidurmu. Wahai istriku, beristirahatlah sebentar sebelum engkau bangun untuk mengerjakan sholat malammu...

Wahai istriku, dapat aku melihat bulir-bulir keringat membasahi keningmu, mungkin karena udara yang terasa panas di malam ini membuatmu banyak berkeringat dalam tidurmu, memang kamar yang sempit ini tidak memiliki AC, tidak banyak memiliki hiasan dan perabotan yang mahal, tidak juga kita tidur beralaskan tempat tidur yang empuk dan mewah. Namun diriku selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala karena engkau menerima semua ini dengan lapang dada dan penuh kesabaran.

Wahai istriku, sewa rumah akan habis satu bulan lagi... dan tabungan kita belum cukup untuk membayar sewa rumah ini satu tahun ke depan, semoga Allah Ta’ala memberikan kita tambahan rizki agar kita mampu memperpanjang sewa rumah kecil ini, agar kita terlindung dari terik panas dan dinginnya malam, agar anak-anak kita pun bisa bernaung dari derasnya hujan dan memiliki tempat bermain. Memang tidak luas rumah yang kita sewa ini, namun bersama dirimu dan anak-anak kita semuanya menjadi teramat indah...kita memang tidak memiliki rumah tempat tinggal yang luas sebagai bagian dari kebahagiaan, namun aku memiliki sebagian kebahagiaan yang lain, yaitu dirimu sebagai istri yang shalihah yang selalu berada di sampingku, bersabar atas semua kesempitan dunia ini.

Wahai ibu dari anak-anakku, terima kasih karena engkau tidak mengeluh karena ketidak mampuan suamimu untuk membelikan sebuah rumah bagimu, terima kasih engkau telah membangkitkan semangatku untuk beribadah kepada Allah Ta’ala di tengah-tengah kesulitan kita, terima kasih atas kesabaranmu mendidik anak-anak kita ditengah kekurangan ini. Terima kasih wahai istriku engkau selalu mengingatkan aku untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala atas rizki yang diberikan-Nya kepada kita sehingga kita bisa makan setiap hari tanpa kekurangan.

Wahai istri dari hamba yang dha’if... perkenankanlah suamimu mengajakmu untuk membangun sebuah rumah dan istana yang indah bagimu di surga kelak, dunia ini bukan bagian kita, dan kita tidak akan tinggal lama di dalamnya. Birlah kita kelak keluar dari segala kesempitan ini menuju kelapangan yang indah, insya Allah. Wahai istri yang shalihah, tahukah engkau bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu 'anhu berkata, “Sesungguhnya dunia itu adalah Surga bagi orang kafir dan penjara bagi orang yang beriman. Dan sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin ketika dirinya keluar dari dunia adalah bagaikan seorang yang sebelumnya berada di dalam penjara, lalu dia dikeluarkan darinya. Sehingga dia berjalan di atas bumi dengan mencari keluasan.” [Syarhush Shuduur, hal. 13]

Wahai istriku mari kita bangun sebuah rumah di surga dengan sholat sunnah rowatib, berusahalan untuk menegakkannya walau di tengah kesibukanmu mengurus rumah tangga dan anak-anak kita, berusahalah demi kebaikanmu dan kebaikan kita semua, aku akan membantumu dalam menjaga anak-anak kita dan membantumu mengerjakan pekerjaan rumah yang mampu aku lakukan, bukankah engkau mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim no. 728)

Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya` dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari Aisyah)

Maka ke dua belas rakaat itu merupakan tabungan dan bekal kita kelak di surga insya Allah, oleh karena itu janganlah engkau enggan mengerjakannya meskipun terasa berat, bersabarlah akan sholat, dan kerjakanlah karena ikhlas kepada Allah Ta’ala.

Wahai istriku, mari kita bangun sebuah rumah di surga dengan meninggalkan debat, demi Alloh, debat itu hanya akan meninggalkan permusuhan dan kebencian, maka bersabarlah di dalam dakwah, ketika engkau sedang menasihati seseorang, maka perhatikanlah hak-haknya, jika dia bertanya kepadamu maka jawablah dengan baik sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta bersabarlah, jika ia mendebatmu maka tinggalkanlah dia. Wahai istriku, janganlah engkau banyak bercanda, apalagi jika engkau membumbuinya dengan dusta. Sungguh kedustaan itu akan meruntuhkan bagian rumahmu disurga kelak, Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan di dalam Sunannya :

“Muhammad bin Utsman ad-Dimasyqi Abu al-Jamahir menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abu Ka’b Ayyub bin Muhammad as-Sa’di menuturkan kepada kami. Dia berkata; Sulaiman bin Habib al-Muharibi menuturkan kepadaku dari Abu Umamah, dia berkata ; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)

Wahai istriku, perbaguslah akhlakmu, berhiaslah dengan akhlak yang shalihah, berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah ash shahihah, karena bukan saja engkau akan mendapatkan sebuah rumah di bagian teratas surga, engkau juga akan mendpatkan kecintaan dari Allah Ta’ala, kemudian dari aku suamimu, dari anak-anakmu, dari karib kerabatmu dan dari seluruh kaum muslimin.

Wahai istriku, kenalilah dunia dengan segala perangkapnya, dengan segala keburukan di dalamnya, Abu Hazim berkata, “Barangsiapa yang mengenal dunia, niscaya dia tidak akan senang dengan kemegahan yang ada di dalamnya dan tidak akan bersedih dengan bencana yang ada di dalamnya.”

‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu berkata, “Siapa yang menyatukan enam hal dalam dirinya, berarti dia tidak meninggalkan satu jalan pun menuju Surga dan satu pintu pun untuk lari dari Neraka. (1) Orang yang mengenal Allah dan mentaati-Nya, (2) Orang yang mengenal syaitan dan menjauhinya, (3) Orang yang mengenal kebenaran dan mengikutinya, (4) Orang yang mengenal kebathilan dan menjaga diri darinya, (5) Orang yang mengenal dunia dan menolaknya, dan (6) Orang yang mengenal akhirat dan mencarinya.” [Al-Ihyaa’ (III/221).]

Karena itu wahai istriku mari kita lalui kehidupan di dunia ini sebagaimana seseorang yang asing, sebagaimana seorang pengembara dalam perantauannya, mengambil seperlunya saja apa yang menjadi hak kita, karena kita akan meninggalan negeri perantauan ini dan kembali kepada kampung halaman akhirat yang kekal. Mari kita kumpulkan bekal sebaik-baiknya, semoga kelak ketika kita pulang ke kampung halaman kita, ada sebuah rumah yang indah menanti kita, sebuah rumah yang telah kita bangun sejak jauh hari dari sekarang ini...ketika masih di dunia ini.

Wallahu a’lam bish showab

Melejitkan Potensi Diri, Meraih Kesempurnaan

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangannya, tidaklah Alloh menurunkan baik di dalam taurat, di dalam Zabur, di dalam Injil, tidak juga di dalam Al Furqan (Al Quran) sebuah surat yang seperti ini, sesungguhnya ia adalah As Sab’ul Matsaani (Al Fatihah).” (Shahih, HR. Tirmidzi, 5/2875, disahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi, lihat Tafsir Ibnu Katsir jilid 1 hal 13)

Manusia itu memiliki dua potensi kekuatan: kekuatan ilmiah nazhariyah (pengetahuan dan pemikiran) dan kekuatan ‘amaliah iradiyah (perbuatan dan kehendak). Kebahagiaan yang sempurna bagi manusia sangat tergantung pada penyempurnaan kedua kekuatan ini; kekuatan ilmiah/pengetahuan dan kekuatan iradiyah/kehendak.

Kiat Menyempurnakan Kekuatan Ilmiah

Cara untuk menyempurnakan kekuatan ilmiah hanya bisa dilakukan dengan:
Mengenali Zat Yang telah menciptakan dirinya, Nama-nama dan Sifat-sifatNya.
Mengetahui jalan yang bisa mengantarkan kepada-Nya.
Harus mengerti berbagai rintangan jalan tersebut.
Harus mengenali dirinya sendiri.
Mengetahui aib-aib yang dimilikinya.

Dengan lima pengetahuan inilah seorang manusia akan bisa memperoleh kesempurnaan kekuatan ilmiah. Orang yang paling berilmu adalah orang yang paling mengerti dan paling paham tentang-Nya.

Kiat Menyempurnakan Kekuatan Amaliah

Sedangkan untuk menyempurnakan kekuatan amaliah iradiyah hanya bisa diraih dengan menjaga hak-hak Alloh subhanahu wa ta’ala yang harus ditunaikan hamba (tauhid dan taat) dan menegakkannya dengan ikhlas, shidq (jujur dan benar), penuh nasihat, ihsan, mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dan menyadari serta mengakui karunia Alloh kepada dirinya, menyadari kekurangan dirinya dalam menunaikan hak-hakNya. Sehingga dia pun merasa malu menghadap-Nya dengan pengabdian (yang kurang) seperti itu karena dia menyadari bahwa pengabdiannya itu belum bisa memenuhi hak-Nya sebagaimana seharusnya, bahkan jauh sekali di bawah semestinya.

Tanpa Pertolongan Alloh Itu Tak Mungkin Diraih

Tidak mungkin seorang manusia menempuh jalan untuk menyempurnakan kedua kekuatan ini kecuali dengan pertolongan Alloh. Allohlah yang memberikan hidayah kepadanya menuju jalan yang lurus/shirathul mustaqim; jalan yang diajarkan Alloh kepada wali-waliNya dan mereka mendapat keistimewaan dengan menempuhnya, Allohlah yang bisa menjauhkan dirinya dari melenceng keluar dari jalan tersebut. Penyimpangan dari jalan lurus itu bisa terjadi dengan rusaknya kekuatan ilmiahnya sehingga dia terjatuh dalam kesesatan. Atau juga penyimpangan itu terjadi karena rusaknya kekuatan amaliahnya sehingga dia berhak mendapatkan murka.

Maka kesempurnaan dan kebahagiaan insan tidak mungkin tercapai kecuali dengan terkumpulnya seluruh perkara ini tadi (kekuatan ilmiah dan amaliah serta pertolongan Alloh). Surat Al Fatihah telah mencakup perkara-perkara ini dan menatanya dengan sedemikian bagusnya.

Ushul Asma’ul Husna

Firman Alloh Ta’ala,

الحمد لله رب العالمين. الرحمن الرحيم. مالك يوم الدين

“Segala puji bagi Alloh Robb penguasa alam, Yang Maha pemurah lagi Maha penyayang, Raja penguasa pada hari pembalasan.” (QS. Al Fatihah: 2-4)

Ayat-ayat ini mengandung landasan yang pertama yaitu mengenali Robb ta’ala, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Nama-Nama Alloh yang tercantum dalam surat ini adalah ushul asma’ul husna (pokok Asma’ul Husna) yaitu: Alloh, Ar Rabb dan Ar Rahman. Makna-makna semua Nama Alloh intinya berpusat pada nama-nama ini.

Nama Alloh mengandung sifat Uluhiyah. Alloh, dialah yang berhak dipertuhankan dan diibadahi, yang berhak diesakan dalam beribadah karena berbagai macam sifat ketuhanan melekat di dalam diri-Nya, dan itu semua merupakan sifat kesempurnaan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Nama Ar Rabb mengandung sifat Rububiyah. Rabbul ‘Aalamin artinya Zat yang men-tarbiyah seluruh alam. Tarbiyah Alloh kepada makhluk-Nya ada dua macam:
Tarbiyah ‘aammah/umum
Tarbiyah khaashshah/khusus

Tarbiyah Umum dan Khusus

Tarbiyah umum yaitu: penciptaan seluruh makhluk, pemberian rezeki kepada mereka, pemberian petunjuk guna mencapai kemaslahatan hidup mereka selama di dunia.

Sedangkan tarbiyah khusus adalah: tarbiyahNya kepada wali-waliNya. Wali Alloh adalah hamba-hambaNya yang beriman dan senantiasa bertakwa kepada-Nya.

Alloh mentarbiyah mereka dengan keimanan, memberikan taufik kepada mereka untuknya, menyempurnakan iman itu bagi mereka. Alloh menyingkirkan berbagai rintangan dan penghalang yang menghalangi hubungan mereka dengan-Nya. Hakikat dari tarbiyah khusus ini adalah: tarbiyah taufik untuk bisa mencapai segala kebaikan dan terlindungi dari berbagai macam kejelekan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Nama Ar Rahman mengandung sifat ihsan, pemurah dan pemilik kebaikan. Ibnul Mubaarak rohimahulloh mengatakan, “Ar Rahman apabila diminta pasti memberi dan apabila tidak diminta akan murka.” Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi, “Barang siapa yang tidak meminta kepada Alloh maka Alloh murka kepadanya.” (Shahih, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ 2418, lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/27)

Inti Penghambaan

Firman Alloh ta’ala,

إيّاك نعبد و إيّاك نستعين

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan.” (QS. Al Fatihah: 5)

Ayat ini mengandung keharusan mengetahui jalan yang mengantarkan kepada Alloh, jalan itu adalah dengan beribadah kepada-Nya saja dengan segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi-Nya serta senantiasa memohon pertolongan-Nya dalam menunaikan ibadah kepada-Nya.

Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Alloh, baik berupa perkataan maupun perbuatan; yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan ibadah hanya akan dianggap/diterima sebagai ibadah apabila:
Diambil dari tuntunan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Dikerjakan dengan niat mengharap keridhoan Alloh.

Disebutkannya ibadah sebelum isti’anah (minta tolong) demi mendahulukan hak Alloh atas hak hamba. Karena isti’anah itu sebenarnya termasuk ibadah, maka penyebutan isti’anah setelah ibadah dalam ayat ini merupakan penyebutan sesuatu yang lebih luas cakupannya sebelum sesuatu yang lebih sempit cakupannya.

Kenapa isti’anah disebutkan padahal isti’anah juga termasuk ibadah, jawabnya adalah: karena setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Alloh dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Jika seandainya Alloh tidak menolong dirinya niscaya dia tidak akan bisa mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Shirathal Mustaqim

Firman Alloh ta’ala,

اهدنا الصراط المستقيم

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al Fatihah: 6)

Ayat ini mengandung penjelasan bahwa seorang hamba tidak memiliki jalan untuk meraih kebahagiaannya kecuali dengan istiqomah meniti shirathal mustaqim, dan tidak ada jalan menuju istiqomah di atas shirathal mustaqim kecuali dengan hidayah dari-Nya.

Hakikat jalan yang lurus adalah: mengenali kebenaran dan mengamalkannya. Hidayah itu ada dua, hidayah ila shirath dan hidayah fii shirath. Hidayah ila shirath yaitu petunjuk menuju jalan yang lurus; tetap berpegang dengan agama Islam dan meninggalkan agama-agama selainnya. Sedangkan hidayah fii shirath adalah petunjuk untuk bisa melaksanakan berbagai rincian ajaran agama Islam dengan bentuk ilmu dan pengamalan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Di dalam ayat ini juga terkandung bantahan bagi seluruh kalangan pembela kebid’ahan dan para pengibar bendera kesesatan, sebab setiap ahli bid’ah dan orang sesat adalah sosok yang menyimpang dari jalan yang lurus (lihat Taisir, hal. 40).

Bukan Yang Dimurkai dan Sesat

Firman Alloh ta’ala,

غير المغضوب عليهم ولا الضالّين

“Bukan jalannya orang-orang yang engkau murkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat.” (QS. Al Fatihah: 6)

Ayat ini mengandung penjelasan dua sisi penyimpangan dari jalan yang lurus. Menyimpang ke sisi yang satu akan menjerumuskannya ke dalam kesesatan yaitu rusaknya ilmu dan keyakinan. Sedangkan menyimpang ke sisi yang lainnya akan menjerumuskannya ke dalam kemurkaan yang timbul karena rusaknya niat dan amalan.

Orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran tapi justru meninggalkannya, sebagaimana yang terjadi pada orang-orang Yahudi. Sedangkan orang-orang yang tersesat adalah orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan/tidak mau tahu seperti yang terjadi pada orang-orang Nasrani (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Maka bagian awal dari surat ini mengandung rahmat, bagian tengahnya mengandung hidayah dan bagian akhirnya mengandung nikmat. Jatah nikmat hakiki yang diperoleh hamba itu sesuai dengan kadar hidayah yang diterimanya. Begitu pula jatah hidayahnya sesuai dengan kadar rahmat yang dianugerahkan kepadanya, sehingga urusan ini akhirnya semua kembali berpusat pada nikmat dan kasih sayang-Nya.

Sedangkan nikmat dan kasih sayang/rahmat merupakan salah satu bukti keberadaan sifat rububiyah Alloh, Dia tidak pernah lepas dari sifat penyayang dan pemberi nikmat, dan hal itu termasuk sebab yang mengharuskan penyembahan ditujukan kepada-Nya. Dialah sesembahan yang hak, walaupun orang-orang yang menentang bersikeras menentang-Nya dan orang-orang musyrik tetap bersikukuh dengan kesyirikannya.

Maka barang siapa merealisasikan makna-makna yang terkandung dalam surat Al Fatihah, mengilmuinya, mengetahui dan mengamalkannya, serta turut menciptakan keadaan yang diinginkannya, sungguh dia telah meraih kejayaan terbesar dengan amalnya dan Ubudiyah/penghambaannya (kepada Alloh) menjadi Ubudiyah khaashshah (penghambaan khusus) yaitu tingkatannya orang-orang yang diangkat derajatnya oleh Alloh di antara kalangan orang-orang awam yang beribadah. Wallohul musta’aan.

Air Mata Penting bagi Kesehatan ^_^

Ada Gangguan, Fungsi Mata Bisa Terganggu

AIR mata yang keluar dari mata tak hanya diproduksi saat menangis maupun saat hati sedang gundah. Namun air mata memang dibutuhkan agar fungsi mata berfungsi secara optimal.

Jika ada gangguan dengan produksi air mata, itulah yang dinamakan keluhan mata kering (dry eye syndrome)? Itu salah satu keluhan mata yang diakibatkan berkurangnya produksi air mata dan atau berkurangnya kualitas air mata.

Menurut Kepala KSM Mata RSD Mattaher Jambi dr Kuswaya Waslan SpM, mata akan berfungsi secara optimal, di antaranya bila lapisan air mata yang menutupi permukaan mata dalam keadaan normal baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Kalau air mata tidak normal, fungsi air mata sebagai media optik, mengeluarkan debu/kotoran, menjaga kelembapan mata, adanya enzim-enzim untuk menetralisasi mikroorganisme dan fungsi suplai makanan terhadap kornea akan terganggu, yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan yang lebih lanjut dari mata. “Sehingga boleh dikatakan bahwa air mata berguna yang penting untuk kesehatan mata,” ujarnya kemarin.

Secara anatomi, air mata terdiri atas tiga lapisan. Lapisan pertama (lapisan musin) adalah lapisan yang menempel pada kornea, dihasilkan oleh sel goblet pada konjungtiva. Lapisan kedua di tengah lapisan akuos, yang dihasilkan oleh kelenjar lakrimal utama dan kelenjar lakrimal tambahan seperti kelenjar krause dan kelenjar wolfring yang terdapat pada fornik konjungtiva.

Lapisan ketiga atau paling atas adalah lapisan lemak yang dihasilkan oleh kelenjar meibomian dan kelenjar zeis. Secara normal ketiga lapisan itu homogen dan kuat sekali perlengketannya. “Tetapi kalau ada sesuatu pengaruh yang menyebabkan lapisan-lapisan tersebut terganggu, keluhan mata kering akan terjadi,” ujarnya.

Gejalanya, mata terasa berat, panas, seperti ada benda asing, penglihatan buram, terasa mengganjal, dan yeri. Keluhan tersebut tegantung derajat keparahan mata kering. “Keluhan tersebut biasanya terjadi kalau mata digunakan terus-menerus atau pada kondisi lingkungan panas, berangin, dan kelembapan yang rendah,” jelasnya.

Untuk memeriksa dan menilai lapisan air mata, bisa dilakukan pemeriksaan schirmer untuk melihat produksi air mata; pemeriksaan break-up time untuk memeriksa lapisan air mata lapisan lemak; dan pemeriksaan rose bengal untuk memeriksa lapisan air mata lapisan musin.

Lalu apa penyebabnya? Penyebab dari mata kering ada beberapa. Pertama, proses normal karena faktor usia, biasanya terjadi pada wanita berumur sekitar 40 tahunan yang disebabkan fluktuasi hormonal atau pada wanita mau menopause.

Kedua, karena efek samping dari penggunaan obat-obatan seperti antihistamin/antialergi, antidepresi, obat darah tinggi, obat parkinson, dan obat pil keluarga berencana.

Dapat juga karena seseorang menderita penyakit seperti lupus, rheumatoid arthritis, sjogren sindroma. Kemudian bisa juga karena tidak sempurnanya penutupan kelopak mata, seperti pada penderita hipertiroid, bels palsy, tumor pada kelopak mata.

Selanjutnya bisa muncul jika ada penyakit mata seperti blepharitis/ radang kelopak mata, ptrerygiun. Kemudian akibat pekerjaan seperti bekerja pada ruangan ber-AC, kurangnya mata berkedip.

Keadaan lain, hidup atau tinggal di lingkungan kering, berdebu dan banyak angin, penggunaan lensa kontak yang lama, penggunaan obat tetes mata yang mengandung bahan pengawet seperti thimerosal dan benzalkonium klorida. “Pada penelitian terakhir, akibat merokok,” tambahnya.(*)



Air mata dan Manfaatnya by SabilaRosyad

Harun Yahya pernah mengatakan pada tulisannya tentang ”MIRACLE OF EYE” bahwa Tears are perfect eyedrops. Banyak orang yang mengira bahwa air mata kita adalah hanya sekedar cairan yang mengalir apabila kita menangis. Padahal sebenarnya, air mata adalah cairan ciptaan Allah yang sangat bervariasi kandungan dan fungsinya. Subhanallah.

Airmata melindungi mata dari kuman dan mengandung Lyzosime yang dapat membunuh berbagai macam mikroba. Lyzosime ini sendiri adalah zat desinfektan yang lebih keras dari zat-zat kimia yang digunakan untuk mendesinfeksi seluruh tubuh
Subhanallah, marilah kita berhenti sejenak untuk berfikir. Bagaimana mungkin, mata yang merupakan organ yang sangat halus, dapat ”tahan” dengan kandungan zat kimia sekeras Lyzosime tersebut tanpa menimbulkan iritasi dan lain sebagainya. Jawabannya sudah sangat jelas, bahwa ini adalah salah satu bukti penciptaan Allah SWT.

Katakanlah. ”Adakah kamu perhatikan sekutu-sekutu kamu yang kamu seru selain dari Allah? Perlihatkanlah kepada-Ku apakah yang mereka telah ciptakan di bumi, ataupun mereka berserikat dalam penciptaan langit? Ataukah Kami telah memberikan Kitab kepada mereka, lalu mereka mendapatkan keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? Bahkan orang-orang zalim itu tidak menjanikan sebahagian terhadap sebahagian yang lain melainkan tipu daya. (QS. Faathir : 40)

Lapisan air mata sendiri terdiri dari tiga lapisan yaitu : Lapisan minyak, Lapisan air dan Lapisan Lendir. Lapisan minyak merupakan lapisan terluar yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar kecil pada pinggir kelopak mata yang bernama kelenjar Meibom. Fungsi dari lapisan minyak ini adalah untuk melicinkan permukaan mata dan mengurangi penguapan air mata.

Lapisan minyak merupakan lapisan terluar yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar kecil pada pinggir kelopak mata yang bernama kelenjar Meibom. Fungsi dari lapisan minyak ini adalah untuk melicinkan permukaan mata dan mengurangi penguapan air mata. Lapisan minyak merupakan lapisan terluar yang dihasilkan. Lapisan air merupakan lapisan tengah yang dihasilkan oleh sel sel yang tersebar pada konjungtiva (selaput bening mata). Lapisan ini berfungsi membersihkan mata dan mengeluarkan benda-benda asing ataupun iritan yang masuk ke dalam mata. Lapisan terdalam adalah lapisan lendir. Lapisan ini membantu agar air mata tersebar rata pada permukaan mata dan membantu agar mata tetap lembab.

Pada sebagian orang, ternyata air mata tidak tersedia dalam jumlah yang cukup untuk menjaga agar mata tetap lembab dan nyaman. Pada orang-orang ini akan dirasakan gejala seperti mata panas, nyeri, berlendir, dan mudah teriritasi.

Pengurangan jumlah air mata ini dapat disebabkan oleh meningkatnya usia, terutama setelah menopause. Mata kering dapat pula terjadi berkaitan dengan penyakit radang sendi. Selain itu, mata kering dapat juga disebabkan oleh penggunaan berbagai obat seperti obat-obatan hipertensi, obat-obatan KB maupun obat anti alergi

Nah, dasar dari penanggulangan mata kering ini adalah pemberian air mata buatan. Tetes air mata buatan ini dapat digunakan sebagai pelumas mata dan menggantikan lapisan air mata yang hilang. Air mata buatan ini dapat dipakai sesering mungkin bergantung pada gejala yang dirasakan.

Pada penderita yang derajat mata keringnya lebih parah, dapat dilakukan penyumbatan pada saluran air mata, sehingga air mata tidak keluar melalui saluran ini dan mata lebih lembab. Bagi para pengguna komputer, karena pancaran radiasi komputer dan akomodasi berlebihan karena komputer, disarankan untuk menetesi mata dengan air mata buatan setiap 4-5 jam sekali dan melakukan RULES OF 20

Apa itu RULES of 20?
Yaitu setiap 20 menit dihadapan komputer, pejamkan mata selama 20 detik atau lemparkan pandangan ke arah jauh (minimal 20 feet) .Hal ini untuk memberi kesempatan pada otot mata agar istirahat dari akomodasinya, dan juga memberi kesempatan berkedip ( menutup mata) agar lapisan air mata dapat terbentuk.

Dokter akan mendeteksi kekeringan air mata ini dengan berbagai macam tes dan alat. Pada stadium awal, penyakit mata kering (DRY EYE SYNDROME) ini sama sekali tidak berbahaya, namun pada fase yang lanjut (sangat kering) dapat menimbulkan kerusakan serius di bola mata.

Kiat Keluarga Sakinah

Asalamualaikum Wr Wb,

Keluarga sakinah adalah idaman setiap manusia. Tapi tidak jarang
dari mereka menemukan jalan buntu, baik yang berkecupan secara
materi maupun yang berkekurangan. Apa sebenarnya rahasianya? Mengapa
kebanyakan manusia sulit menemukannya? Mengapa sering terjadi
percekcokan dan pertengkaran di dalam rumah tangga, yang kadang-
kadang akibatnya meruntuhkan keutuhan rumah tangga?
Padahal Allah swt menyebutkan perjanjian untuk membangun rumah
tangga sebagai perjanjian yang sangat kuat dan kokoh yaitu "Mîtsâqan
ghalîzhâ. Allah swt menyebutkan kalimat "Mîtsâqan ghalîzhâ hanya
dalam dua hal: dalam membangun rumah tangga, dan dalam membangun
missi kenabian. Tentang "Mîtsâqan ghalîzhâ dalam urusan rumah
tanggah terdapat dalam surat An-Nisa': 21. Adapun dalam hal missi
kenabian terdapat dalam surat An-Nisa': 154, tentang perjanjian kaum
nabi Musa (as); dan dalam surat Al-Ahzab: 7, tentang perjanjian para
nabi: Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa (as).
Bangunan rumah tangga bagaikan bagunan missi kenabian. Jika bangunan
runtuh, maka maka runtuhlah missi kemanusiaan. Karena itu Rasulullah
saw bersabda: "Perbuatan halal yang paling Allah murkai adalah
perceraian." Sebenarnya disini ada suatu yang sangat rahasia. Tidak
ada satupun perbuatan halal yang Allah murkai kecuali perceraian.
Mengapa ini terjadi dalam perceraian? Tentu masing-masing kita punya
jawaban, paling tidak di dalam hati dan pikiran. Dan saya tidak akan
menjawab masalah ini, perlu pembahasan yang cukup rinci dan butuh
waktu yang cukup lama. Tentu perlu farum tersendiri.
Keluarga sakinah sebagai idaman setiap manusia tidak mudah
diwujudkan sebagaimana tidak mudahnya mewujudkan missi kenabian oleh
setiap manusia. Perlu persyaratan-persyaratan yang ketat dan berat.
Mengapa? Karena dua persoalan ini bertujuan mewujudkan kesucian.
Kesucian berpikir, mengolah hati, bertindak, dan gerasi penerus
ummat manusia.
Karena itu, dalam bangunan rumah tangga Allah swt menetapkan hak dan
kewajiban. Maaf saya pinjam istilah AD/ART. Bangunan yang lebih
kecil missinya dari bangunan rumah tangga punya AD/ART, vissi dan
missi. Bagaimana mungkin bangunan yang lebih besar tidak punya
AD/ART, Vissi dan Missi bisa mencapai tujuan? Tentu AD/ART, Missi
dan Missi dalam rumah tangga, menurut saya, tidak bisa dibuat
berdasarkan mu'tamar atau kongres atau musyawarah seperti layaknya
organisasi umumnya.
Dalam hal rumah tangga kita jangan coba-coba buat AD/ART sendiri,
pasti Allah swt tidak ridha dan murka. Karena itu Allah swt
menetapkan hak dan kewajiban dalam bangunan rumah tangga. Tujuannya
jelas mengantar manusia pada kebahagiaan, sakinah, damai dan
tenteram sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan oleh Allah dan
Rasul-Nya.
Menurut pemahaman saya, tidak cukup AD/ART itu dalam bentuk tek dan
buku, perlu sosok contoh yang telah mewujudkan AD/ART itu. Siapa
mereka? Ini juga perlu farum khusus untuk membahasnya secara detail
dan rinci.
Tapi sekilas saja saya ingin mengantarkan pada diskusi contoh
tauladan rumah tangga yang telah mewujudkan keluarga sakinah. Dan
ini tidak akan terbantah oleh semua kaum muslimin. Yaitu rumah
tangga Rasulullah saw dengan Sayyidah Khadijah Al-Kubra (sa), dan
rumah tangga Imam Ali bin Abi Thalib (sa) dengan Sayyidah Fatimah
Az-Zahra' (sa).
Disini sebenarnya ada hal yang sangat menarik dikaji, khususnya bagi
kaum wanita dan kaum ibu. Apa itu? Fakta berbicara bahwa Rasulullah
saw banyak dibicarakan oleh kaum laki-laki bahwa beliau contoh
poligami, kemudian mereka melaksanakan dengan dalil mencontoh
Rasulullah saw. Tapi kita harus ingat kapan Rasulullah saw
berpoligami? Dan mengapa beliau melakukan hal ini? Pakta sejarah
berbicara bahwa Rasulullah saw tidak melakukan poligami saat beliau
berdampingan dengan Khadijah sampai ia meninggal. Mengapa? Kalau
alasannya perjuangan. Bukankah di zaman dengan Khadijah beliau tidak
berjuang? Justru saat-saat itu perjuangan beliau sangat berat.
Dimanakah letak persoalannya? Lagi-lagi menurut saya, pribadi
Khadijah yang luar biasa, sosok seorang isteri yang benar-benar
memahami jiwa dan profesi suaminya. Sehingga Rasulullah saw tidak
pernah melupakan Khadijah walaupun sudah meninggal, dan disampingnya
telah ada pendamping wanita yang lain bahkan tidak satu isteri. Kaum
wanita khususnya kaum ibu, kalau ingin keluarga sakinah harus
mempelajari sosok Khadijah Al-Khubra (sa), supaya suaminya tidak
mudah terpikat hatinya pada perempuan yang lain.
Sekarang tentang keluarga Imam Ali dengan Fatimah Az-Zahra (sa).
Sejarah bercerita pada kita bahwa Rasulullah saw sangat menyukai
rumah tangga puterinya dengan kehidupan sederhana bahkan sangat
sederhana. Saking sederhananya, hampir-hampir tidak mampu dijalani
oleh ummatnya, khususnya sekarang. Sama dengan Rasulullah saw Imam
Ali (sa) saat berdampingan dengan Fatimah puteri Nabi saw beliau
tidak berpoligami. Beliau berpoligami setelah Fatimah Az-Zahra'
meninggal. Ada apa sebenarnya dengan dua wanita ini, sepertinya
mereka dapat mengikat laki-laki tidak kawin lagi? Apa Imam Ali takut
dengan Fatimah, atau Rasulullah saw takut dengan Khadijah? Atau
sebaliknya, Khadijah berani dan menundukkan Rasululah saw, juga
Fatimah (sa) seperti itu terhadap suaminya? Tentu jawabannya tidak.
Lalu mengapa? Jawabannya perlu forum tersendiri untuk kita
diskusikan dan mengambil pelajaran darinya.
Sebagi konsep dasar diskusi kita: Perempuan adalah sumber sakinah,
bukan laki-laki. Mari kita perhatikan firman Alla swt:
.
Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia menciptakan untuk kalian
isteri dari species kalian agar kalian merasakan sakinah dengannya;
Dia juga menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.
Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang
yang berpikir." (Ar-Rûm: 21).

Dalam ayat ini ada kalimat "Litaskunû", supaya kalian memperoleh
atau merasakan sakinah. Jadi sakinah itu ada pada diri dan pribadi
perempuan. Laki-laki harus mencarinya di dalam diri dan pribadi
perempuan. Tapi perlu diingat laki-laki harus menjaga sumber
sakinah, tidak mengotori dan menodainya. Agar sumber sakinah itu
tetap terjaga, jernih dan suci, dan mengalir tidak hanya pada kaum
bapak tetapi juga anak-anak sebagai anggota rumah tangga, dan gerasi
penerus.
Kita bisa belajar dari fakta dan relialita. Kaum isteri yang sudah
ternoda mata air sakinahnya berdampak pada anak-anak sebagai penerus
ummat Rasulullah saw. Siapa yang paling berdosa? Jelas yang
mengotori dan menodainya.
Sebagai pengantar untuk membangun keluarga sakinah baiklah kita
pelajari Hak dan Kewajiban yang buat oleh Allah dan Rasul-Nya,
antara lain:
Hak-hak Suami
1. Suami adalah pemimpin rumah tangga

"Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain
(wanita).."(An-Nisa': 34)

2. Suami dipatuhi dan tidak boleh ditentang
3. Tanpa izin suami, isteri tidak boleh mensedekahkan harta suami,
dan tidak boleh berpuasa sunnah.
4. Suami harus dilayani oleh isteri dalam hubungan badan kecuali
uzur, dan isteri tidak boleh keluar rumah tanpa izinnya. Rasulullah
saw bersabda:

"Isteri harus patuh dan tidak menentangnya. Tidak mensedekahkan
apapun yang ada di rumah suami tanpa izin sang suami. Tidak boleh
berpuasa sunnah kecuali dengan izin suami. Tidak boleh menolak jika
suaminya menginginkan dirinya walaupun ia sedang dalam kesulitan.
Tidak diperkenankan keluar rumah kecuali dengan izin suami." (Al-
Faqih, 3:277)

5. Menyalakan lampu dan menyambut suami di pintu
6. Menyajikan makanan yang baik untuk suami
7. Membawakan untuk suami bejana dan kain sapu tangan untuk mencuci
tangan dan mukanya
8. Tidak menolak keinginan suami hubungan badan kecuali dalam
keadaan sakit
Rasulullah saw juga bersabda:
"Hak suami atas isteri adalah isteri hendaknya menyalakan lampu
untuknya, memasakkan makanan, menyambutnya di pintu rumah saat ia
datang, membawakan untuknya bejana air dan kain sapu tangan lalu
mencuci tangan dan mukanya, dan tidak menghindar saat suami
menginginkan dirinya kecuali ia sedang sakit." (Makarim Al-Akhlaq:
215)
Rasulullah saw juga bersabda:

"(Ketahuilah) bahwa wanita tidak pernah akan dikatakan telah
menunaikan semua hak Allah atasnya kecuali jika ia telah menunaikan
kewajibannya kepada suami." (Makarim Al-Akhlaq:215)
Hak-Hak Isteri
1. Isteri sebagai sumber sakinah, cinta dan kasih sayang. Suami
harus menjaga kesuciannya. (QS Ar-Rum: 21)
2. Isteri harus mendapat perlakukan yang baik
"Ciptakan hubungan yang baik dengan isterimu." ( Al-Nisa' :19)
3. Mendapat nafkah dari suami
4. Mendapatkan pakaian dari suami
5. Suami tidak boleh menyakiti dan membentaknya
Pada suatu hari Khaulah binti Aswad mendatangi Rasulullah saw dan
bertanya tentang hak seorang isteri. Beliau menjawab:

"Hak-hakmu atas suamimu adalah ia harus memberimu makan dengan
kwalitas makanan yang ia makan dan memberimu pakaian seperti
kwalitas yang ia pakai, tidak menampar wajahmu, dan tidak
membentakmu" (Makarim Al-Akhlaq:218)
Rasulullah saw juga bersabda:

"Orang yang bekerja untuk menghidupi keluarganya sama dengan orang
yang pergi berperang di jalan Allah.". (Makarim Al-Akhlaq:218)

"Terkutuklah! Terkutuklah orang yang tidak memberi nafkah kepada
mereka yang menjadi tanggung jawabnya." (Makarim Al-Akhlaq:218)
6. Suami harus memuliakan dan bersikap lemah lembut
7. Suami harus memaafkan kesalahannya
Cucu Rasulullah saw Imam Ali Zainal Abidin (sa) berkata:

.
"Adapun hak isteri, ketahuilah sesungguhnya Allah Azza wa Jalla
telah menjadikan untukmu dia sebagai sumber sakinah dan kasih
sayang. Maka, hendaknya kau sadari hal itu sebagai nikmat dari Allah
yang harus kau muliakan dan bersikap lembut padanya, walaupun hakmu
atasnya lebih wajib baginya. Karena ia adalah keluargamu Engkau
wajib menyayanginya, memberi makan, memberi pakaian, dan memaafkan
kesalahannya."

Menghindari pertikaian
Rasulullah saw bersabda:
"Laki-laki yang terbaik dari umatku adalah orang yang tidak menindas
keluarganya, menyayangi dan tidak berlaku zalim pada mereka."
(Makarim Al-Akhlaq:216-217)

"Barangsiapa yang bersabar atas perlakuan buruk isterinya, Allah
akan memberinya pahala seperti yang Dia berikan kepada Nabi Ayyub
(a.s) yang tabah dan sabar menghadapi ujian-ujian Allah yang berat.
(Makarim Al-Akhlaq:213)

"Barangsiapa yang menampar pipi isterinya satu kali, Allah akan
memerintahkan malaikat penjaga neraka untuk membalas tamparan itu
dengan tujuh puluh kali tamparan di neraka jahanam." (Mustadrak Al-
Wasail 2:550)

“Artinya : Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri (pemimpin-pemimpin) di antara kamu, maka jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisaa': 59]


Isteri tidak boleh memancing emosi suaminya, Rasulullah saw bersabda:


"Isteri yang memaksa suaminya untuk memberikan nafkah di luar batas
kemampuannya, tidak akan diterima Allah swt amal perbuatannya sampai
ia bertaubat dan meminta nafkah semampu suaminya." (Makarim Al-
Akhlaq: 202)
Ada suatu kisah, pada suatu hari seorang sahabat mendatangi
Rasulullah dan berkata: "Ya Rasulullah, aku memiliki seorang isteri
yang selalu menyambutku ketika aku datang dan mengantarku saat aku
keluar rumah. Jika ia melihatku termenung, ia sering menyapaku
dengan mengatakan: Ada apa denganmu? Apa yang kau risaukan? Jika
rizkimu yang kau risaukan, ketahuilah bahwa rizkimu ada di tangan
Allah. Tapi jika yang kau risaukan adalah urusan akhirat, semoga
Allah menambah rasa risaumu."
Setelah mendengar cerita sahabatnya Rasulullah saw bersabda:

"Sampaikan kabar gembira kepadanya tentang surga yang sedang
menunggunya! Dan katakan padanya, bahwa ia termasuk salah satu
pekerja Allah. Allah swt mencatat baginya setiap hari pahala tujuh
puluh syuhada'." Kisah ini terdapat dalam kitab Makarimul Akhlaq:

Banyak Hadist yang menjelaskan pahala seorang Istri yang taat pada
suaminya :

”Jika seorang isteri itu telah menunaikan solat lima waktu dan berpuasa
pada bulan ramadhan dan menjaga kemaluannya daripada yang haram serta
taat kepada suaminya, maka dipersilakanlah masuk ke syurga dari pintu
mana sahaja kamu suka.” (Hadist Riwayat Ahmad dan Thabrani)

Firman Allah SWT :
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan(pernikahan), ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (Al Ahzab: 36)
Alhamdulillahirrobbillalam
in,.. Allah SWT memberikan pahalanya, bagi muslim yang tawakal…
Semoga terjaga keluarga yang sakinah,sumber dari sumber pahala&Ridho ALLAH SWT,..amin.
Bagi kita yang telah berkeluarga, dan bagi muslim/muslimah yang akan berrumahtangga , bina dan jadikanlah
Rumah tangga adalah Rumah tangga yang Sakinah,Mawaddah,WaRohmah.,..amin Ya Allah ..Ya Robillalamin.
Semoga bermanfaat.
Wasalamualaikum Wr Wb,
Insya Allah muslim. (Terimakasih : Syamsuri Rifa'i ).

Bolehkah Aku Cuti dari Dakwah??

Jazakumullah ahsanal jaza kepada semua orang2 yg sering menasehati dan memberikan saya kritik, saran serta motivasi akan perjalanan dalam kehidupan ini. Salah satunya yaitu catatan dari sahabat yg saya publish saat ini, yg memberikan sy pelajaran berharga.

==========================
=============================

Sunyi.. itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya. Seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh.

Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan mencari tahu tentang hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang kita cari dari dakwah?dimanakah yang dinamakan konsep amal jama’i yang sering diceritakan indah? apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? apakah ini yang disebut ukhuwah?

Sering terlontarkannya kata – kata “afwan akh/ukh, ana gak bisa bantu banyak..” atau sms yang berbunyi “afwan akh/ukh, ana ga bisa datang untuk syuro hari ini..” atau kata – kata berawalan “afwan akh/ukh..” lainnya dengan seribu satu alasan yang membuat seorang akh tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi – strategi dakwah kedepannya. Kalau memang seperti itu hakikat dakwah maka cukup sudah “izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini”, mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsentrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian – impian ku yang belum terpenuhi, atau…dengan lebih memperhatikan ayah dan ibuku yang sudah semakin tua, toh tanpa dakwah akupun tetap berjalan, bukan????

Sahabat – sahabatku…. memang dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan – permasalahan. Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik – konflik yang timbul dikalangan internal aktifis dakwah sendiri. Pernah suatu ketika dalam aktivits sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggung jawab dakwahnya.

Di lain waktu disebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat “minta cuti” lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.

Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang tedzalimi oleh saudara – saudaranya sesama aktifis dakwah. Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita.

Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan dilain sisi, teman – temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun. Singkat cerita , ketika si x ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman – temannya lulus dalam waktu empat tahun?apa yang ia jawab? ia menjawab ” aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas – tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara – saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun.”

Hmm, bolehkah aku cuti dari dakwah? Bagaimana seharusnya menyikapi kesibukan dakwah yang bersanding dengan kesibukan lain?

Nasehat yg selalu saya ingat dari seorang sahabat saya :
"Pukis..., orang yg sibuk itu adalah org yg mampu mengatur rutinitas dan aktifitasnya serta dapat menyisipkan amanah lainnya di antara aktivitasnya yg lain"

Wallahualam...